Catatan Lampu Merah Cilandak

30 11 2008

sad

“Shalat, yuk! Kita kan belum shalat Ashar! Sebentar lagi waktu Maghrib tiba.” ajakku.

“Ntar dulu, kak! Tanggung, nih. Sebentar lagi hujan turun. Lihat, langit sudah gelap!” jawab Ryan.

“Kita tidak memiliki banyak waktu, Ryan!” tegasku.

Tanpa menoleh sedikit pun, Ryan bergegas meluncur menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah itu. Gitar kecil berdawai empat yang digendongnya pun menjerit. Bibirnya lebih terkesan komat-kamit seolah membaca mantra. Suara parau itu ditindih deru debam knalpot berbagai merek kendaraan bermotor yang melintas dan berhenti di lampu merah Cilandak. Ryan tak peduli. Ia tetap bernyanyi sambil sesekali menunduk-nundukkan kepala berharap sekeping receh. Tak penting baginya, apakah suaranya terdengar atau tidak. Pengemudi sedan mewah itu hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa sedikitpun menoleh, Ryan pun segera beralih ke mobil di belakang sedan itu, terlihat kaca mobil itu terbuka, sekeping rupiah pun diterimanya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Kecerdasan & Bakat

29 11 2008

Ada seorang Sufi besar bernama Syamsudin dari Tabris. Dia adalah sahabat Jalaludin Rumi. Ketika masih kecil, bersama ayahnya dia berjalan-jalan di tepi danau. Di sana mereka mendapati beberapa ekor anak bebek yang baru menetas mengekor induk Ayam. Rupanya pemiliknya mengeramkan telor-telor bebek ke induk ayam. Hingga ketika menetas, induk ayam itu menganggap bebek-bebek kecil itu adalah anak-anaknya.

the-mallards-family-00

Baca entri selengkapnya »





Gagap

28 11 2008

blog-desainer-mulut


Pagi kadang tenggelam

Awan sering gelap

Pula kujumpa senja selalu murung

Senantiasa bisa

kusematkan mereka sifat

Namun,

Tak dayaku

gagap takar berjutamilyar sifat

Seorangpun.

Amaris Jakarta 2004.





Ayah, Aku Linglung!

28 11 2008

f102244father-and-son-posters

Rembulan kekasih itu

di lelangit pagimu temara

merah padam

merangkul dingin

memahat kosong

mengukir rindu

Nyala tembaganya menusuk

binari seluruh gelapku beku

menjelaga jantungku

membuta mataku

menguap hatiku

menyirna jiwaku

Diri-cinta leluruh-memuing mendebu

Akuku menekur tegar-seolah

mendendang lagu tanpa birama

menari-dansa tanpa irama

berpesta pora tanpa jamuan

berkata-sorak tanpa suara

Ayah,

aku linglung tanpamu

Amaris, Condet 20 April 2005

23.21 wib





Sarjana

28 11 2008

sarjana

Hari ini langit biru

Cerah awan saput haru

Riuh rendah tepuk beradu

Bersama lampu kamera bisu

Bedug masa depan bertalu

Selembar ijazah sederet nilai

impian ongkos hidup dapati

Setangkup umur kesempatan yang lari

terus berlalu tanpa harus bermimpi

berdiri, atau rebah. Pasti mati.

Tegas tanggalkan toga mahal itu

Kenakan busana bangsamu itu

capil petani ditindih pabrik itu

perahu nelayan dihadang badai darat itu

Cengeng, jadi seperti pegawai penganggur itu

Sengkaling Desember 2004





Untukmu yang mati di Blitar karena lapar

28 11 2008

showletter0058cd

Indah menawan gerakan itu

Cantik rupawan penari itu

Melenggak-lenggok bak nyiur diiringi puting beliung

Padamulah atribut duka-riang tersemat

Engkau berjalan di hijaunya pertiwi

Engkau bermukim di griya elok persada

Engkau tak sempat renta di Nusantara

Engkau lelap lepas derita bersama dua anakmu

Irama siang-malam mengiring kita

Dengan kata bibir bernyanyi

Menyambut pagi-sore jelang Absurditas

Isi sepinya wacana tawarkan bencana

Pagi ini idealisme tak memiliki taring

Karena kelaparan tak takut olehmu

Karena kelaparan semakin berjingkrak girang

Karena kelaparan bukan peristiwa kebetulan

Anwar M. Aris

2004





? Untuk Mantan Sahabat

28 11 2008

hands

Kemana langkah kau ayun

ketika kaudapati banyak jalan

sunyi petunjuk, tanpa pemandu

Kemana langkah kau ayun

ketika tapakmu melepuh

kosong asa, tanpa muara

Kemana langkah kau ayun

ketika kau butakan mata hati

tiada melihat, tanpa rasa

Kemana langkah kau ayun

ketika kau campakkan pilihan

tanpa rindu, tanpa suaka

Kemana langkah kau ayun

ketika kau anggap sudutmu tiada

tanpa awal, tiada akhir

Kemana langkah kau ayun

ketika jasad menguap

tanpa jiwa, tanpa suwarga

Cililitan, 7 Mei 2006