Kecerdasan & Bakat

29 11 2008

Ada seorang Sufi besar bernama Syamsudin dari Tabris. Dia adalah sahabat Jalaludin Rumi. Ketika masih kecil, bersama ayahnya dia berjalan-jalan di tepi danau. Di sana mereka mendapati beberapa ekor anak bebek yang baru menetas mengekor induk Ayam. Rupanya pemiliknya mengeramkan telor-telor bebek ke induk ayam. Hingga ketika menetas, induk ayam itu menganggap bebek-bebek kecil itu adalah anak-anaknya.

the-mallards-family-00

Ketika melihat air menggenang, bebek-bebek kecil itu langsung berlari menceburkan diri dan berenang dengan lincah. Mencelup-celupkan kepalanya di air dengan riang. Tentu saja si induk ayam panik. Ia hanya bisa memelihara kepanikannya, berkotek-kotek di mulut danau, mencemaskan anak-anaknya. Sementara anak-anak bebek yang baru ditetaskannya terus saja berenang.

Menyaksikan peristiwa itu, Syamsudin berkata, “Wahai ayah, lihatlah! Betapa ilmu yang diberikan oleh Allah lebih besar pengaruhnya dari ilmu yang kita peroleh melalui belajar.”

Kemampuan seperti itu adalah pemberian Allah Swt. Dalam istilah tasawuf, kemampuan yang diberi langsung oleh Allah Swt disebut mauhibah. Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Allah itu jauh lebih efektif dari ilmu yang kita dapat dari belajar. Ilmu yang kita pelajari itu disebut muktasabah. Tapi jangan khawatir, Allah Swt memberikan mauhibah-Nya kepada masing-masing mahluk. Karena Allah itu adil.

Mengapa Syamsudin mengatakan bahwa Mauhibah jauh lebih efektif? Karena Allah Swt yang paling memahami diri kita. Talenta dan karakter dasar yang kita miliki untuk bisa memaksimalkan fasilitas hidup yang ada di dunia ini, itu anugerah Allah Swt. Pasti Allah tidak salah melekatkannya kepada diri kita.

Hanya saja, kita seperti induk ayam itu. Kebingungan dan takut karena anak-anak bebek yang disangka anaknya mati tenggelam. Atau kita seperti bebek-bebek kecil yang heran kenapa si induk tidak menyertai mereka berenang di danau. Tentu bebek-bebek itu menyangka ayam itu sebagai induknya. Seperti itu pula kebingungan dan ketakutan kita.

Mengapa kita lemah menakar diri sendiri? Karena kita biarkan bakat atau potensi kita tidak menjadi aktual. Potensi kita terpendam begitu lama. Sedemikian lama hingga kita lupa bahwa kita punya potensi.

Setiap dari kita punya mauhibah masing-masing. Seandainya mauhibah kita itu berjalin berkelindan dengan muktasabah, tentu kita pasti menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat.

Mauhibah Allah kepada setiap mahluknya adalah proporsional. Tidak lebih dan tidak kurang. Seringkali kita tidak mempedulikan talenta yang Allah Swt berikan. Biasanya hal ini karena lingkungan yang mempengaruhi kita. Sementara kita membiarkan lingkungan membentuk diri dan kepribadian kita, meski itu tidak sesuai dengan fitrah kita.

Padahal, mauhibah ketika berseiring dengan muktasabah pasti memunculkan kreatifitas setiap pribadi yang memelihara dan memupuknya. Ketika kreatifitas pribadi itu muncul, tentu pemiliknya akan tahu diri. Tahu di mana dia harus mengembangkan bakatnya. Tahu siapa yang membutuhkan kreatifitasnya. Tahu kapan kreatifitasnya itu bisa dimunculkan dan pasti menjadi magnet untuk mendatangkan kebahagiaan. Bila seseorang bahagia dengan cara ini, niscaya dia mudah memenuhi kebutuhannya. Jangankan uang, bahkan hal yang paling mustahil di mata orang lain bisa dia peroleh.

Bayangkan saja, seperti kondisi yang semarak dan popular di negeri kita ini. Kita dapati hampir semua stasiun televisi mengajak semua masyarakat Indonesia untuk menjadi idola. Karenanya, di setiap kota-kota besar di Indonesia dilakukan audisi untuk menjaring orang-orang yang akan dijadikan idola. Audisi pelawak. Audisi pedangdut. Audisi penyanyi cilik. Audisi penyanyi remaja. Bahkan audisi dai cilik dan dai muda.

Tiba-tiba semua remaja ingin menjadi idola. Meski tak memiliki bakat melawak, tapi memaksakan diri untuk bisa ikut audisi. Berusaha tampil selucu mungkin. Karena tak memiliki talenta melawak, agar terlihat lucu, maka dia berpakaian ala badut. Ngomong jorok dan sebagainya.

Pada zaman dulu, orang-orang yang melucu hanyalah orang-orang pandai. Biasanya dia filosof. Jika bukan orang pandai, maka dia segan untuk melucu di depan publik. Pasti, canda ala filosof adalah canda segar yang mencerdaskan.

Berbeda dengan canda orang yang tidak berbakat melawak. Bisa dipastikan kelucuan-kelucuan yang ditampilkan tidak mencerdaskan. Karena kecerdasannya bukan pada melawak.

Sebut saja Nasiruddin Thusi. Dia adalah ahli irfan dan ahli ilmu perbintangan. Pemilik kecerdasan yang tidak umum ini menguasai hampir semua bidang ilmu. Dia disebut “Universitas Berjalan.”

Seorang ulama besar Persia, Ayatullah Burujurdi menyebut At-Thusi sebagai peletak batu pertama Hukum Islam setelah tentara Mongol menyerbu Irak dan sebagian daratan Persia. Kebiadaban tentara-tentara mongol menghapus jejak sejarah yang berpusat di Irak ketika itu.

Perpustakaan yang menyimpan manuskrip-manuskrip ilmu-ilmu Islam dibakar berikut buku-bukunya. Konon, karena kelelahan membakar buku-buku di sana, akhirnya tentara Mongol membuang buku-buku tersebut ke sungai. At-Thusi menyebutkan, hingga air di sungai itu berubah warna, dari bening menjadi hitam akibat tinta yang luntur. Hanya At-Thusi seorang yang menjadi “perpustakaan berjalan” setelah tragedi itu. Itulah alasan kenapa At-Thusi disebut “Universitas Berjalan”.

Subhannallah, At-Thusi melancarkan serangan-serangan maut, bukan hanya kepada orang-orang kafir, tapi juga kepada orang-orang yang mengaku Islam. Mengapa? Karena mereka membiarkan tragedi itu terjadi. Kepengecutan pemerintah, kebodohan masyarakat, digugat oleh At-Thusi, salah satunya dengan cara canda segar yang menggugah nalar dan perasaan. Tentu serangan maut itu bukan serangan ala tentara Mongol. Tapi berupa pencerahan umat.

Tak hanya itu, At-Thusi juga mencetak murid-murid yang kelak menjadi penyanggah peradaban. Jadi, ketika dihadapkan dengan At-Thusi, siapa orang yang tidak segan untuk membuat humor-humor segar dan cerdas! Karena biang humor itu adalah filosof. Isi humornya pasti mencerdaskan.

Kita sering berada di tempat dan keadaan yang salah karena ketidaktahuan kita. Menganggap apa yang dilakukan banyak orang juga perlu kita lakukan. Hidup tidak harus menjadi idola. Karena untuk menjadi idola tidak dengan cara instan.

Lihat saja dan buktikan “idola-idola” ala mi instan. Jam terbang mereka sangat singkat, alias cepat kadaluwarsa alias expired. Dia cepat muncul. Kemunculannya membuat banyak orang meniru gayanya. Cepat juga tenggelam. Jika tidak segera tenggelam maka dia menjadi basi. Sebagaimana makanan kadaluwarsa, maka dia tak lagi diperhatikan. Tapi biasanya dia muncul lagi ke permukaan karena sebuah skandal; skandal seks, skandal penipuan, skandal narkoba dsb.

Kita punya bakat masing-masing sesuai dengan potensi yang kita miliki. Sudah sepatutnya kita kenali lagi harta kita yang tak ternilai itu. Yakinlah, kita pasti bahagia dunia akhirat.

Seperti memahami kenyataan kepastian hidup di dunia ini. Setiap kita mendapati kejadian atau fenomena baru, kita berusaha menafsirkannya demi memperoleh pemahaman utuh. Misalkan kita jumpai seekor ayam betina tak henti berkotek. Banyak kemungkinan sebab bisa kita raba. Mungkin ada musang sedang mengancamnya. Mungkin juga akan bertelur. Atau sedang mencari anaknya yang hilang atau tersesat. Ada banyak kemungkinan. Karenanya kita berusaha melakukan pengamatan secara jeli dan menafsirkannya secara akurat.

Sebelum mendapati pemahaman paripurna, tentu bijaknya tidak mengambil kesimpulan. Tapi keputusan dan kesimpulan harus segera diambil jika kita tahu secara utuh penyebab peristiwa itu.

Karena akibat-akibatnya sudah bisa kita pastikan, tentu kita tidak akan mengumpulkan sebab yang pasti mencelakakan kita. Selayaknya, jika tidak mampu menafsirkan masalah yang menuntut penyelesaian segera, carilah pembimbing yang benar-benar mengerti dan memahami kita.


Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: