Catatan Lampu Merah Cilandak

30 11 2008

sad

“Shalat, yuk! Kita kan belum shalat Ashar! Sebentar lagi waktu Maghrib tiba.” ajakku.

“Ntar dulu, kak! Tanggung, nih. Sebentar lagi hujan turun. Lihat, langit sudah gelap!” jawab Ryan.

“Kita tidak memiliki banyak waktu, Ryan!” tegasku.

Tanpa menoleh sedikit pun, Ryan bergegas meluncur menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah itu. Gitar kecil berdawai empat yang digendongnya pun menjerit. Bibirnya lebih terkesan komat-kamit seolah membaca mantra. Suara parau itu ditindih deru debam knalpot berbagai merek kendaraan bermotor yang melintas dan berhenti di lampu merah Cilandak. Ryan tak peduli. Ia tetap bernyanyi sambil sesekali menunduk-nundukkan kepala berharap sekeping receh. Tak penting baginya, apakah suaranya terdengar atau tidak. Pengemudi sedan mewah itu hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa sedikitpun menoleh, Ryan pun segera beralih ke mobil di belakang sedan itu, terlihat kaca mobil itu terbuka, sekeping rupiah pun diterimanya.

Tanpa menoleh sedikit pun, Ryan bergegas meluncur menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah itu. Gitar kecil berdawai empat yang digendongnya pun menjerit. Bibirnya lebih terkesan komat-kamit seolah membaca mantra. Suara parau itu ditindih deru debam knalpot berbagai merek kendaraan bermotor yang melintas dan berhenti di lampu merah Cilandak. Ryan tak peduli. Ia tetap bernyanyi sambil sesekali menunduk-nundukkan kepala berharap sekeping receh. Tak penting baginya, apakah suaranya terdengar atau tidak. Pengemudi sedan mewah itu hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa sedikitpun menoleh, Ryan pun segera beralih ke mobil di belakang sedan itu, terlihat kaca mobil itu terbuka, sekeping rupiah pun diterimanya.

Setelah lampu hijau menyala, berbagai merek kendaraan bermotor yang berhenti sejenak itu kembali melaju. Ryan pun menepi, kemudian duduk di trotoar. Sambil terus membunyikan gitarnya, matanya terus awas menyapu jalan di hadapannya. Ketika kuhampiri, dia melangkah santai ke seberang jalan pura-pura tak melihatku. Aku mengikutinya. Setelah aku berada tepat di sebelahnya, Ryan sengaja mengobrol dengan pedagang rokok asongan. Lelaki kecil kurus initak menghiraukan aku.

“Sebatang, bang!”

“Apa?” tanya pengasong itu.

Setelah menyebut merek rokok yang dikehendaki, Ryan meminjam korek dan menyulut rokoknya. Tak lama berselang, hujan deras mengguyur kami dan seluruh benda yang ada di sekitar lampu merah Cilandak. Kami pun bergegas mencari tempat berteduh. Di depan sebuah toko bangunan yang tutup, kami menghindari air hujan yang deras.

“Yuk, kita shalat di masjid itu!” ajakku sekali lagi.

“Hari ini, kakak benar-benar menyebalkan. Apa kakak nggak ada pekerjaan lain? Aku ini lagi kerja! Sejak selepas Dhuhur, kakak nongkrongin aku terus. Aku harus dapet duit hari ini. Gara-gara kakak, sampai sore ini aku hanya mengantongi lima ribu perak!” Ungkapan pedas Ryan mencecarku, sekeras gemuruh petir yang tak henti-hentinya menyambar mengeluarkan kilatan listrik sore itu.

Aku terdiam sejenak. Setelah menyulut rokok, kurangkul bahu Ryan. Kami saling diam beberapa saat. Kemudian Ryan duduk, memeluk kedua lutut dan gitar kecilnya dengan kedua tangannya. Aku pun duduk di sebelahnya.

“Ryan, bukankah kita sudah terbiasa mengerjakan shalat?” aku membuka pembicaraan lagi.

“Kak, aku terbiasa mengerjakan shalat sejak kakak sering menceramahi aku, sebelumnya aku hanya ngamen dan aku tidak tahu bahkan tak mau tahu tentang shalat. Sekarang aku nggak mau shalat lagi!”

“Lho, kok begitu. Bukankah shalat itu kewajiban bagi kita!”

“Bukan kita, tapi kewajiban untuk kakak! Shalat itu penting buat kakak, bukan aku! Bukan aku… Bukan Aku!” Ryan berteriak sambil bergegas berdiri memeloti aku, kemudian berlari menerjang hujan, mengejar dan naik Koantas Bima yang melaju perlahan. Ryan berlalu meninggalkan aku yang tidak siap mendengar ungkapan-ungkapannya.

Melihat tingkahnya, mendengar jawabannya, aku terhenyak. Seolah terhenti detak jantungku. Kurasakan bumi seolah berputar, sedangkan teriakannya itu seolah mengiang di telingaku. Meski hujan membawa hawa dingin, namun wajahku berkeringat. Aku tak tahu harus berbuat apa, sementara bus kota yang ditumpangi Ryan sudah tak terlihat lagi. Aku termangu membisu beberapa saat hingga seseorang menepuk pundakku, menyapaku untuk meminjam korek api.

Lampu-lampu jalanan dan kendaraan sudah menyala. Hari sudah petang. Hujan masih mengguyur deras. Kemudian aku menuju tempat parkir sebuah apotik yang terletak tak jauh dari lampu merah Cilandak. Setelah membayar uang parkir, aku tarik pedal gas motorku untuk pulang ke kos-kosan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: