“Mewah”

1 12 2008

presiden iran

Nono menggiring bola, lincah menuju gawang lawan. Merasa gawangnya terancam, Maman menghadang, tak kalah gesit dia menjejak bola yang menggelinding, menggagalkan serangan Nono. Keduanya bergulung-gulung di ladang hijau, bukan lapangan sepak bola, tapi bekas kebun ubi pak Efendi. Maman tengkurap, erat memeluk bola. Nono mengerang sambil memegang lutut. Keduanya saling menyalahkan. Nono menuduh, kecurangan telah dilakukan Maman sehingga lutut kirinya lecet, meski tak parah tapi Nono menangis.

“Ye…! Laki-laki menangis! Hanya luka kecil. Kemarin memar dan luka di pipiku baru sembuh akibat ditekel Agus. Aku terguling dan menyisir tanah.” Saiful meledek Nono yang masih menangis.

Ada yang membela Nono, menyalahkan Maman. Pula ada yang menganggap kejadian itu adalah sepele. Si Karman membisiki Maman agar meminta maaf kepada Nono. Namun, Maman menggeleng, mungkin karena ia tak merasa bersalah.

Perlahan Nono bangkit. Dengan sedikit pincang ia bergegas menghampiri Maman. Bak buk! Nono memukul jidat kemudian perut Maman. Sekarang Mamanlah yang menangis. Pertandingan sepak bola tanpa wasit itu terhenti samasekali. Anak-anak kecil yang berhenti bermain bola itu berusaha mendamaikan keduanya. Tanpa bertele-tele keduanya bersalaman. Damai.

“Ayo! Kita mandi di kali!” ajak Darsono. Tanpa berpikir panjang kami sahuti ajakan si Dar. Hari minggu pagi setelah main bola, kala itu kami mengisinya dengan aneka permainan anak kampung.

Masih di area kebun pak Efendi, kami menuju sungai untuk mandi bersama, di tengah jalan aku melihat buah-buah jambu segar berwarna merah bertengger seolah memanggil-manggil. “Teman-teman, bagaimana jika kita petik jambu-jambu itu, kelihatannya cukup untuk memenyegarkan tenggorokan kita yang kering.” Ajakku. Mereka pun menyahut. “Serbuuuu!” si Supri mengomando.

Waktu itu aku tak tahu, ternyata tindakanku adalah mencuri. Aku dan tujuh orang kawanku merasa tak bersalah apalagi berdosa. Mendadak terdengar teguran pak Efendi. “Hati-hati! Nanti kalian jatuh! Lain kali kalau mau ambil jambu minta ijin dulu sama yang punya, ya!” tegur pak Efendi. Kesabaran Pak Efendi membuat kami tahu arti kata ‘malu’.

Saat melihat aliran air kali bening itu, kami semua bergegas melucuti pakaian masing-masing. Berenang di kali tanpa busana, telanjang. Riuh gembira. Ada yang bertanding menyelam, siapa yang paling lama dialah pemenang. Ada yang menabuh air, seolah irama gendang. Ada yang menepi, di tempat dangkal, sambil bersiul Misnadin melepas tainya yang kuning kemilau diterpa sinar mentari.

Kami semua berendam di sungai sambil menikmati hasil “jerih payah” kami, jambu. Menjelang siang, kami pulang ke rumah masing-masing. Esoknya, kami pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, kami bermain layang-layang jika sedang musim, namun biasanya kami bermain Bak Sodor. Sore harinya kami bertemu lagi di mushola pak Haji Ridwan untuk belajar mengaji. Begitulah, masa-masa kecil kami lalui di kampung.

Saat kecil, dalam benakku hanyalah permainan. Selainnya tidak ada. Betapa istimewa masa itu. Kesederhanaan adalah modal utama. Karenanya, segala sesuatu menjadi sederhana. Jika ada yang bertengkar di antara kami, pasti kejadian itu tak lama. Tak ada dendam. Kami menyelesaikannya dengan cara polos. Jika ada dari kami berselisih, pasti segera berdamai. Sederhana.

Kerumitan justru diciptakan orang tua-orang tua kami. Ketika tahu anaknya cidera, meski tak fatal akibat bertengkar dengan teman sepermainannya, ia melabrak orang tua teman anaknya. Akhirnya pertengkaran berlanjut sampai ke tingkat njelimet. Dulu waktu kecil, mungkin hingga sekarang aku tak habis pikir, sementara anak-anak mereka sudah berdamai, bahkan menjalani kehidupan apa adanya—bermain bola bersama, main petak umpet, berburu burung dengan ketapel, mandi di kali, mencuri jambu, dsb—malahan orang tua yang sebenarnya tidak punya sangkut paut dan tak tahu dunia anaknya melanjutkan tidaksalingsapa mereka, bahkan membawanya ketingkat arisan ibu-ibu PKK dan ronda malam bapak-bapak. Aneh. Rumit.

Sedetik waktu yang berlalu, kita sesalkan bahkan diumpat. Mengapa harus bertambah menit, jika setiap pergeseran jarum jam adalah keberpalingan dari kesederhanaan. Lalu apa arti kedewasaan, jika semakin bertambah umur, semakin menciptakan kerumitan?

Aku jumpai mereka, teman kecilku. Si Agus, merantau ke Bali demi perbaikan nasib, mengusir kemiskinan yang usik tidurnya, alasannya. Namun, karena tak berkeahlian cukup, di pulau dewata semula ia sering kelaparan. Badannya yang tinggi berotot, kulitnya yang hitam khas orang timur, wajah yang lumayan ganteng, akhirnya membuat bule-bule ganjen berminat menjadi teman kencan singkatnya. Lumayan, penghasilan Agus sebagai gigolo setara dengan gaji anggota DPR, bahkan ia punya apartemen di Bali. Pernah aku bertemu dia dan kita bercerita tentang masa kecil. “Itu kan masa kecil! Sekarang tuntutannya berbeda, karena keadaan memaksa kita!” ungkapnya.

Si Nono, awalnya satpam sebuah Dept. Store di Malang, harus menjadi penghuni penjara Lowok Waru, karena terbukti menjadi otak pencurian sejumlah barang elektronik bernilai ratusan juta rupiah. Aku mengunjunginya di penjara itu. Diceritakannya perjalanan hidupnya dari Jember merantau ke Malang, sampai beristri dan mempunyai satu anak di kota apel itu. “Aku tak kuasa menahan gejolak nafsuku. Istriku meminta sepeda motor, VCD, HP, bahkan rumah. Dia hobi belanja baju-baju ‘bermerek’ di mall-mall. Aku sangat mencintainya, tak kuasa menolak permintaannya. Sementara aku adalah pegawai rendahan, gajiku hanya cukup buat makan. Ya, beginilah akhirnya, keadaan membawaku kemari!” tuturnya.

Si Maman, salah satu preman Jati Negara. Semula dia merantau dari Jember menuju Jakarta untuk membuka usaha “Pusat Kebugaran” di area stasiun Jati Negara Jakarta Timur. Namun karena lahan tempat ia membuka usaha adalah ilegal, maka petugas pemerintah membongkar paksa rumah usahanya, menyita alat-alat usahanya. Akhirnya, ia juga beralasan, keadaanlah yang menjadikan dia preman.

Si Darsono, ia tetap menjalani hidup di kampung halamannya, Jember, tak beranjak sebentar pun. Ia menjadi supir angkutan kota. Bahkan sudah punya dua putra. Dalam perjumpaan singkat sewaktu aku pulang kampung kemarin, tak kudengar keluhan darinya. Hidup ini dijalani apa adanya. Meski bicaranya gagap sejak kecil, namun kelihatannya ia tak gagap dengan keadaan sekitar yang bersentuhan langsung dengannya.

Supri kecil, selalu menjadi gelandang kiri dalam permainan sepak bola. Supri, yatim sejak kecil. Ibunya berprofesi sebagai guru SD, menurut kabar hingga sekarang wanita penyabar ini masih menjanda. Sejak kecil, kami merasa saling cocok, hingga sekolah pun kami selalu bersama, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Namun, Supri enggan meyelesaikan kuliahnya di fakultas Hukum, sebuah Universitas swasta di Malang. Dari Malang ia hijrah ke Jogja. Mantan gelandang kecil ini, nggelandang di kota seribu seniman itu. Dijalaninya hidup dengan menghayati seni peran, tanpa fakultas tanpa adegan rekayasa, tapi di jalanan. Aku sendiri tak tahu, apa yang hendak diraihnya. Skripsinya yang sudah memasuki bab akhir, ditinggal begitu saja. Suatu kali aku kirimi dia puisi melalui sms,

Malam!

Sebaris syair lacur

kau toreh

dalam gelap nan buta

Kau paksa aku!

Kubaca dengan cahya bulanmu memantul

di belati yang kugenggam

menghunus sepimu

Aku mengutukmu!

Mengapa pagi yang jujur

dilindas kepalsuan siang dan senja muram

kelam tenggelam dibenam. Malam!

Kemudian Supri membalasnya,

Pagi ini,

kunikmati secangkir kopi dan sepiring puisimu

dari kedai kopi sebelah utara alun-alun kota

Kulihat masa kecilku,

berlompatan di samping ibu

masa kecilku terus saja melompat-lompat

mengacung-acungkan pisau ke arahku.

Supri. Puisimu menjawab tanyaku akanmu selama ini.

Dulu, di Malang kamu pernah bercerita, bahwa ibumu menyetujui apapun keputusanmu untuk menata masa depanmu. Seperti ceritamu, ibumu selalu berpesan agar kau tak tertekan oleh keadaan. Pesannya, jadikanlah hidup ini sebagai arena kembara jiwa bahkan alas kakimu, hingga kau dapati kebahagiaan abadi. Ya. “Bahagia”, kata ibumu. Kebahagiaan tak bisa diraih tanpa kemerdekaan. Luar biasa! Seolah Nabi, ibumu bertutur.

Supri. Engkau merasa terpenjara dengan statuta pendidikan yang tidak mendidik. Hengkang darinya adalah keputusan finalmu. Satu kalimat yang kudengar darimu, mengakhiri diskusi kita di stasiun Gajayana, di kereta Matramaja yang menuju Jogja, “Aku tak tak akan tunduk dengan logika pendidikan yang bergeser menjadi logika bisnis.” Ujarmu.

Bagaimana keputusanmu yang merdeka? Aku memahaminya melalui puisimu, meski mungkin tak benar. Kita pernah bersepakat, kehidupan masa kecil kita bukan kepalsuan, ia adalah kejujuran. Kesederhanaan yang bisa kita raih lagi, setelah lama kita tinggalkan. Hidup yang kita jalani senyatanya sederhana. Namun, mengapa kita selalu muncul di kerumitan. Atau bahkan kita sendiri yang menggagas kerumitan. Jika benar, kita salahkan saja keadaan ini, seperti Agus, Nono, Maman, kemudian kita umpat Darsono.

Sulit. Memang rumit. Menuruti aturan hidup sesama manusia, acapkali gagahi jiwa kita. Sejak lahir kita sudah bermandikan kaidah-kaidah konvensional yang tumbuh bersama umur kita. Berontak terhadapnya adalah tanda kedewasaan. Mampu mengatasinya adalah kemerdekaan.

Keadaan telah mengajari kita. Satu demi satu kita eja aksaranya. Ternyata sederhana semuanya. Kesederhanaan itu, meski “mewah” untuk kita sekarang, tetap menarik-narik dan memanggil kita. Saat kita berpaling darinya, ia setegas dua bait terakhir puisimu, masa kecilku terus saja melompat-lompat // mengacung-acungkan pisau ke arahku.

Jakarta, Condet 15 Mei 2005, 4:00 WIB


Aksi

Information

3 responses

2 12 2008
Muslim Pribadi

Dunia selalu mencoba melahap ‘kesederhanaan’ detik demi detik,
keganasannya mampu memberikan pilihan bagi budak menjadi manusia merdeka…

21 12 2008
rama

kutu kupret! lezat bener ya cerpen ini. itu tahun 2005 ya dibikinnya. pinter sekali anda ini mas. sampean memang piawai menjelaskan puisi dengan cerita yang ngalir banget aku suka mas. mas aku ingin kenal lebih deket, kalau boleh aku pengen ketemuan gitu.

22 03 2009
Superdee

‘Mewah’menawarkan kemewahan dalam kesederhanaan…
tdk membuat selera makan bertambah, tapi membuat ketagihan karena kangkung-nya… sederhana tapi manis… apalagi ketika sadar kalau aku kelaparan akan sederhana yg terlupakan, bahkan sengaja dilupakan…

Anwar Aris: Mantap Dee….
Hanya aku dan Dee, juga Tuhan yang tahu mengapa kangkung membuat ketagihan…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: