Every Human Could be Perfect! (2)

10 12 2008

Tuhan Mencipta Setan = Tuhan  Mencipta Keburukan?*

Segala peristiwa di alam semesta ini terjadi atas skenario-Nya. Lalu, sedih dan derita yang menimpa manusia juga kehendak-Nya? Baik dan buruk juga dicipta-Nya? Semua mahluk, termasuk kita terpaksa harus bermain-main dalam bingkai skenario-Nya? Manusia tidak memiliki kehendak apapun? Semua peristiwa, baik derita maupun bahagia adalah kehendak-Nya!


Itulah falasi; sesat pikir. Berpikir salah memastikan seseorang bertindak salah. Bertindak salah mengharuskannya menuai derita. Ini kepastian. Allah Swt menghendaki manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat. Kehendak-Nya adalah hukum universal. Hukum universal adalah poros alam semesta beserta isinya, segala sesuatu bersandar kepada hukum itu, termasuk kita. Hukum universal itulah keadilan Tuhan.

Sebuah contoh sederhana: Lazimnya sesat pikir terjadi karena lelah. Sangat nyata kita rasakan, ketika raga kita sedang fit, semangat untuk melakukan suatu pekerjaan membara menyala-nyala, baik yang sifatnya sukmawi atau ragawi. Seringkali akal dan hati menjadi lembek terpengaruh oleh raga yang acapkali kelelahan. Pada kondisi inilah kita dapati raga tak mampu mengikuti kehendak jiwa, akal sehat dan perasaan.

Inilah salah satu sebab ketidakstabilan akal dan perasaan. Dari sinilah orang-orang labil bermunculan; dalam hal prinsip hidup, penentuan pilihan dsb. Orang-orang yang “memegang teguh” ketidakstabilannya itu karena enggan sadar bahwa dirinya tak kuasa terhadap dirinya sendiri, apalagi terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang berhubungan dengannya, baik secara langsung maupun tidak. Namun dia tetap memaksa seolah tegar tanpa bimbingan. Tetap, mengandalkan akal, perasaan dan raganya. Inilah orang egois fatalis.

Sebagaimana akal, perasaan itu tidak mandiri. Keduanya lemah. Karenanya mereka membutuhkan “pendamping” untuk bisa membimbingnya meraih kebahagiaan. Perasaan menjadi tak berhaluan saat berpisah dengan akal sehat. Akal menjadi kering ketika tak mendapat siraman dan naungan rasa. Untuk mendapat pendamping yang bisa membimbing meraih kebahagiaan, syarat utamanya adalah memahami keadilan Ilahi yang sangat sederhana dan “super mudah” dicerna akal.

Kehendak Allah Swt adalah hukum universal; hukum yang berlaku bagi siapa saja dan apa saja yang berada di alam semesta ini. Hukum universal adalah takdir dari Allah Swt untuk semua mahluknya. Dalam pandangan hukum universal, semua mahluk sama; semua bergantung kepadanya. Manusia memiliki kebebasan untuk berbuat apa saja dalam kerangka hukum universal. Tapi manusia tidak bisa terbebas dari hukum universal.

Hukum universal adalah keadilan Allah Swt. Contoh nyata: salah satu bentuk hukum universal adalah hukum gravitasi bumi. Segala sesuatu yang memiliki berat jenis dan berada dalam kerangka atmosfer pasti tunduk kepada hukum ini. Jika kita melempar batu ke arah langit, ia akan ditarik bumi, niscaya jatuh membentur tanah. Inilah keadilan Allah Swt. Jika ada batu dilempar ke atas kemudian tidak jatuh ke tanah, berarti Allah Swt tidak adil. Itu mustahil.

Lalu adakah manusia punya kehendak bebas? Apa arti kebebasannya jika dibatasi hukum universal? Kehendak bebas bukan berarti bebas melakukan apa saja, termasuk menerjang hukum universal. Bebas di sini artinya leluasa melakukan apa saja sesuai logika hukum universal. Tidak mungkin terbebas dari hukum universal. Ketika berusaha terbebas atau menyempal dari hukum universal, maka tentu menuai derita. Dalam hal ini, manusia selayak bayi yang nyaman dalam naungan rahim ibunya dan bergantung sepenuhnya kepada tali pusat. Hukum Universal adalah naungan manusia untuk meraih kenyamanan dan kebahagiaan.

Segala peristiwa yang terjadi, berarti sesuai dengan sebabnya masing-masing. Tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Allah Swt menghendaki kebaikan bagi manusia dan seluruh mahluk. Termasuk menciptakan neraka, Dia tidak menghendaki keburukan menimpa hamba-Nya.

Neraka itu, kan buruk! Setan juga buruk! Penjahat, buruk! Mereka, kan dicipta Tuhan! Berarti Tuhan mencipta keburukan! Bicara neraka, berarti membahas siksa. Bicara siksa, berarti membahas derita. Berarti Tuhan mencipta derita!

… to be continued

*

Anwar Aris menulis ini sebagai bahan Upgrading pegiat Komunitas DAMAR (Atsawrah dan Mulla Shadra) Malang pada Mei 2007

Iklan

Aksi

Information

12 responses

11 12 2008
zindikiri

every human could be perfect 1 memang manis. pengalaman pribadi ya… falasi? penjelasan sesat pikir ala Republik Anarki salah… total. bagaimana kamu tahu kehendak-Nya, padahal kamu belum bahas siapa yang berkehendak itu?
kenapa nggak dimulai dari pembahasan filosofis tentang penciptaan alam semesta? kitab nabimu menjelaskan bahwa alam semesta diciptakan dalam beberapa masa… cari dong landasan logis itu… jangan-jangan malah tidak logis

11 12 2008
Daniar

zindikiri, karakter seperti kamu ini hanya bisa menilai tapi tidak pernah mau atau mungkin tidak bisa memberi solusi. orang seperti kamu tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin bagi dimu sendiri, masyarakat sosisal, apa lagi menjadi khalifah fil ardh.
tunjukkan landasan berpkir kamu.
secara logika..kritik-kritik kamu itu tidak metodelogis.
cari tahu tentang kehendak-Nya, penciptaan alam secara filosofis,Al-Qur’an tentang fase2 peciptaan alam dan landasan logis..hmm..benar-benar ungkapan yang tak beraturan alias tidak logis.

11 12 2008
farid solana, s.t.

setan pada dasarnya baik. dia jadi jahat karena dia menyempal dari fitrah yang telah ditentukan oleh Tuhan YME.

permasalahan takdir, kita benar-benar tidak bisa lepas dari yang satu itu. yang bisa kita lakukan hanyalah keluar dari satu takdir untuk masuk ke takdir berikutnya.

btw, zindikri, komen kamu menarik juga, tuh. bener juga, sih. sepertinya Anda nih tergantung banget ama yang namanya pembuktian yah?

hmm..zindikri, dude…pembuktian semacam apa yang sampeyan inginkan?
andaikata apa yang Anda inginkan terbukti secara logis dan filosofis, apakah Anda serta-merta mempercayainya?

dalam tulisan di atas, terlihat sekali pengaruh tubuh terhadap jiwa.
simply speaking, dapatkah Anda menilai argumentasi secara logis dan filosofis yang Anda minta akan benar-benar bersifat obyektif dan general?

bagaimana pikiran kita memberikan penilaian yang obyektif sementara di saat yang sama kita dipengaruhi oleh perasaan kita – yang, tentu saja, memberikan aroma yang berbeda akan apa yang hendak kita utarakan dalam rangka menanggapi suatu fenomena?

terkadang, sesuatu tidak membutuhkan pembuktian sama sekali.
keberadaan Tuhan, misalnya, sangat tidak membutuhkan pembuktian atau dalil logika sama sekali.

domain Tuhan bukanlah di akal, tapi di hati!

menemukan Tuhan itu gampang sekali, my friend.
yang susah, dalam hidup ini, adalah mempercayai janji Tuhan.

logika tak akan bisa menjawab permasalahan seputar Tuhan. hanya melalui realisme instingtif sajalah Tuhan dapat terjawab….dan itu bukan di akal, tapi di hati.

Tuhan bukanlah untuk dialami secara inderawi.
keberadaan indera pada manusia atau ciptaan Tuhan, menunjukkan bahwa Tuhan tidak memiliki indera.

c u

anwar aris: teng kyu Farid. Good comment. Dahsyot! Benar, jika hanya mengandalkan akal, maka akal akan kelelahan. Kata Muthahari, “Filosof, seandainya ‘terpaksa harus’ mengakui Tuhan adalah Ada itu sendiri, maka Tuhannya kering.” Jadi, akan kecewa orang yang ber-Tuhan berbekal akal semata, seperti makan nasi tanpa lauk dan sayur. Sebagaimana berada dalam kekeringan, maka dia akan mati dehidrasi hehehe. Btw, Every Human Could be Perfect kan masih ada lanjutannya, oke.

11 12 2008
Adhitya

Tulisannya bagus, ekplorasi pemikiran dipadu filsafat yang teoritik, mungkin akan makin tajam, karena pembahasannya makin intense ditambah pertanyaan-pertanyaan menggelitik seperti

Kalau Tuhan serba Maha, Maha baik, Maha adil, Maha bijaksana, dll lalu apakah Tuhan juga Maha iri, Maha dengki, Maha malas dsb ?

regards

anwar aris: wah… komentar yang satu ini dari Belanda nih… genarasi kebanggan Indonesia
Itu dia… kita lihat yang Every Human Could be Perfect 3 nanti…

11 12 2008
zindikiri

-Daniar jangan emosional dong… aku tidak pernah berniat jadi pemimpin, aku hanya mau seperti angin yang mengembara tanpa mau berhenti karena tidak ada akhir bagiku. aku juga tidak berniat memberi solusi untuk masyarakat. sah sah saja dong ketika aku bertanya pencipta alam semesta. Di sini kan tiba tiba dibahas kehendak Nya… tapi tuhan itu sendiri tidak dibahas. weeee…
-farid solana jangan tibatiba bilang domain tuhan bukan di akal, tapi di hati. memangnya tuhan itu hanya milik para dukun yang menggunakan perasaannya dengan mewakilkan kepada kemenyan untuk mempresepsi sesuatu. kamu mengakui adanya domain tuhan berarti tuhanmu itu terbingkai hati maka kukatakan bahwa tuhanmu adalah hatimu itu sendiri…
-adhitya kamu itu nyaris senada dengan aku… kamu bertuhan?

anwa aris: sabar ya mas zindikiri. Pertama, tolong tunjukkan di mana kesalahan total tentang pembahasan falasi ala Republik Anarki? Kedua, aku mau bertanya, bagaimana cara kamu mengenal sebuah hukum yang sudah maktub di semesta raya? Sementara itu jawabanku

12 12 2008
Daniar

zindikiri pelajarilah karakter angin supaya kamu sadar apa yang sedang kamu tulis ini. sampai saat ini aku menilai, kamu itu ibarat murid dunia persilatan yang belum matang sudah turun gunung. 🙂

anwar aris: wah seperti Basir dalam serial drama radio Misteri Gunung Lawu, dong…

12 12 2008
trixi

ini lagi ateis sok2an….
hati2 loh….jagoan silat di sini banyak…dan mereka punya banyak jurus rahasia….
jangan gegabah milih lawan… 🙂

anwar aris: hiat… ciat… hehe… belum tahu dia 🙂

12 12 2008
astuti

mana yang ketiga karena aku sudah ingin membacanya? zindikiri kenapa memilih nama zindik? apakah namamu ini adalah anugerah terindah dari orang tuamu? kalau namamu ini bukan dari orang tua maka orangtuamu kamu ingkari. kenapa kamu mengatakan jika seorang bertuhan dengan hati maka Tuhannya itu hatinya? kalau ada orang bertanya ke kamu siapa dirimu dan saat itu kamu sedang kentut, berarti jawabannya kamu adalah kentut

anwar aris:Nah, kan! Bener Trixy, ternyata banyak yang punya jurus rahasia dan bahkan mematikan. 🙂 Every Human Could be Perfect 3 segera muncul. 🙂 He he he.

12 12 2008
Muhsin Labib

Wah… warung “tukang puisi” mulai rame ya?

anwar aris: he.. he… berkah penjenengan ustad

13 12 2008
rendra

Awal melihat nama blognya mantap. Saya kira diskusinya akan mantap juga tapi ternyata tidak sesuai harapan. Bukannya dijawab dengan penjelasan yang ilmiah, eh justru rame -rame berkoalisi memojokkan orang yang berpendapat, padahal nyatanya dari komentar awal sampai akhir juga gak mampu menjelaskan dari apa yang dimaksud si zindikiri, jangan-jangan emang cuman jagoan yang pandai gertak aja. Semoga yang dimaksud penulis every human could be perfect 3, bisa membawa diskusi yang lebih tajam dan berbobot.

anwar aris: saya menunggu jawaban dari zindikiri: dimana letak kesalahan total Republik Anarki saat membahas falasi? Ternyata sampe sekarang dia ga nongol. Jika tidak dijawab, saya rasa dia iseng, benar-benar tak bertanggung jawab dan jauh dari kaidah ilmiah. Santai saja mas Rendra, saya tak bermaksud memojokkan siapapun. Kita lihat saja nanti, sambil menunggu zindikiri muncul lagi 🙂

14 12 2008
farid solana, s.t.

Dear Zindikiri,

Saya akui, saya salah menulis terkait dengan domain Tuhan. Tuhan, dalam pandangan saya pribadi, tidak seperti itu. Ini adalah revisi dari apa yang saya tulis waktu itu.

Bila Tuhan sebagai suatu kajian, maka Tuhan tak lain adalah wujud. Layaknya sebuah atom atau elektron. Saya rasa pendekatan semacam ini lazim digunakan oleh orang yang bersikap netral terhadap Tuhan (eufemisme dari kaum agnostik atau atheis).

Sebagaimana kita ketahui, elektron dapat dipandang melalui dua domain yang berbeda: sebagai partikel atau gelombang. (Saya rasa bocah-bocah ingusan berseragam abu-abu sudah mengerti permasalahan dualisme partikel-gelombang ini, meski belum sampai tahap diskursus filosofis.) Begitu pula dengan Tuhan.

Tuhan dapat dipandang dari dua domain: hati dan akal. Kedua domain ini bekerja secara berbarengan, saling berkelindan. Jadi, menurut saya, kita tak bisa menilai Tuhan dari sudut pandang akal saja atau hati saja – Tuhan dapat kita nikmati dari dua domain sekaligus!

Sesekali Tuhan dapat dinikmati oleh akal, dan sesekali Tuhan dapat dinikmati oleh hati. Tuhan itu ADA, tapi eksistensinya dalam diri kita mengalami apa yang dinamakan dengan GRADASI.

Eksistensi elektron sudah jelas: elektron itu ada.
Eksistensi Tuhan juga sudah jelas: Tuhan itu Ada.

Kaum atheis hanyalah mengingkari eksistensi Tuhan, tapi tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ADA. Hal ini disebabkan karena kaum atheis hanya memandang Tuhan dari satu domain saja, yakni domain akal. Hati, sebagai salah satu domain yang juga diperlukan untuk mengenali Tuhan, diabaikan secara total dari pemanfaatannya.

Dengan demikian, kaum ATHEIS tidak lebih baik dari para DUKUN: hanya menggunakan satu domain dari dua domain yang eksis untuk menikmati satu wujud yang dinamakan sebagai TUHAN.

Para atheis dan dukun hanyalah korban dari apa yang lazim disebut sebagai paradigma Cartesian-Newtonian. Ciri khusus para korban paradigma ini adalah mengalami keterpilahan dalam dirinya.

Beda kaum atheis dengan dukun hanya terletak pada sarana yang digunakan untuk mengenali Tuhan: ATHEIS menggunakan AKAL, DUKUN menggunakan KEMENYAN.

Relativitas, yang disebabkan oleh penggunaan sudut pandang yang berbeda, tidak menyebabkan sesuatu yang MUTLAK itu tidak ada. Meskipun tulisan atau komentar-komentar yang ada terlihat seperti menyudutkan seseorang, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa dude Zindikiri memang belum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Bro. Anwar Aris.

Pendapat dude Zindikiri justru semakin membuka peluang pembahasan lebih lanjut.

Saya tidak menilai bahwa tindakan dude Zindikiri tidak bertanggung jawab. Bisa jadi, yang bersangkutan tengah mengumpulkan amunisi untuk menjawab pertanyaan Bro. Anwar Aris.

Tapi, hingga kini, saya sangat keberatan jikalau metode yang digunakan oleh dude Zindikiri untuk mengomentari tulisan Bro. Anwar Aris dinilai sebagai suatu metode yang dewasa nan ilmiah.

Apakah metode semacam itu layak untuk dibela?

Menurut saya, pernyataan yang dinisbahkan pada Bro. Anwar Aris, bahwa Bro. Anwar Aris hanyalah “jangan-jangan emang cuman jagoan yang pandai gertak aja” sifatnya REDUCTIO AD ABSURDUM!

PS:
REDUCTIO AD ABSURDUM: the disproving of a logical argument by showing that its ultimate conclusion is absurd

c u

anwar aris: Fairplay! Solana sudah melakukannya. Mana Zindikiri…? Mungkin seperti yang dikatakan Solana: sedang mempersiapkan amunisi. I hope so.

22 08 2009
NIADO

lantas bgimana dengan status kemakhlukan setan sendiri Bos, apa mereka jg dibekali free choice, dimana letak keadilan Tuhan bagi mereka? masa karena kesombongan sekali aj, uda dilaknat selama-lama, uhh sungguh teganya…teganya…teganya..33x. Atau jangan-jangan hanya figur fiktif?

Anwar Aris: Kemahlukan setan meniscayakannya sebagaimana mahluk-mahluk lain sesuai bekal dasar yang diberikan Tuhan. Sebagaimana Malaikat yang hanya diberi potensi ketundukan, Tuhan tidak akan mencipta surga atau neraka baginya sebagaimana dijanjikan kepada manusia. Demikian juga setan, pilihan bebas yang diberikan Tuhan kepada manusia, sangat mirip dengan pemberian kebebasan Tuhan kepada setan: manusia dan setan bebas memilih namun tak pernah bebas dari hukum universal-NYa.
Kesombongan bukan nominasi, alias tidak berbilangan, karena ia immateri. Jadi, kesombongan tidak bisa dibilang sekali, dua kali dst. Karena kesombongan itu immateri, ia tidak memastikan waktu yang aksiden, jadi tidak berlaku baginya kaidah “lama” atau “sebentar”.

Bagi saya, setan bukan fiktif seperti yang Anda pertanyakan. Andalah yang fiktif karena menyembunyikan diri namun tampil “elegan” di sini. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: