Aku Urai Puisi Kawanku

12 12 2008

cermin

Beberapa tahun lalu di Malang, melalui email aku dikirimi puisi oleh seorang kawan. Aku sering berdiskusi dengannya; tentang agama, sastra dan budaya, sesekali filsafat. Dia cerdas juga tangkas. Sejak dia hijrah ke Amerika, jujur aku kehilangan teman diskusi yang jujur. Wataknya keras. Singkatnya, dia adalah pribadi pemberontak.

Berikut adalah salah satu puisinya yang coba kuurai. Meski tak seperti HB. Jassin Sang kritikus sastra mengulas puisi Chairil Anwar, tapi kucoba menampilkan sedikit pemahamanku tentang puisi kawanku itu.

bayangan di cermin itu

seperti bukan diriku

yang kulihat…

sebuah hati terbungkus kulit kerang

semakin hari,kulit itu kian mengeras

cahaya itu telah pergi

dan aku tak bisa menemukan jawabanya

mencari-cari tau…

rasanya seperti memanjat dinding yang sangat tinggi

bayangan di cermin itu kini tak peduli

bahkan oleh jeritan setan sekalipun

bayangan di cermin itu kini tak peduli

bahkan oleh jeritan setan sekalipun

untukku…

penderitaan bukan lagi beban

air mata yang dulu  adalah kelemahanku

kini tak ada lagi

yang ada hanya bayangan itu…

dingin dan terluka

aku merasa…

saat harum bunga tak lagi sama

atau saat ku mulai sadar

hati yang kujaga

tak perlu lagi dipertahankan

saat itulah…

aku tak lagi akan merasa takut!!! (2001)

“Cermin” dan “diriku”. Dua subjek, satu mewakili kejujuran (cermin), satu yang lain (diriku) mewakili keingintahuan atau gelisahan, bahkan kejengahan. Cermin menjadi media untuk gambaran maya “sebuah hati”. Karena, cermin tak pernah mengikuti selera apapun atau siapapun. Cermin memiliki logika sendiri yang selalu menampakkan wujud di hadapannya apa adanya. Ia memberi tahu secara jujur sosok yang dikandungnya. Hampir setiap orang menghampiri cermin jika mau melihat wajahnya. Setiap kekurangan dari penampilan jasad, cermin akan mengatakannya. Catatan: cermin tak pernah mengejar, ia selalu dihampiri. Jika tampak wajah buruk, jangan pecahkan cermin itu!

“Aku” sebuah sketsa yang ingin diselami, dihayati, bahkan juga dipuja. Diapun bercermin. Namun wajah lain terpampang di sana; hati. Dia saksikan hatinya terbungkus kulit kerang. Keras, semakin bertambah detik semakin mengeras. “Hati”. Kata ini sebuah makna dari simbologi yang acap berbanding lurus dengan derita dan bahagia setiap insan. Kata para bijak, hatilah penyebab munculnya keinginan. Hati adalah sebuah idiom, bagian dari manusia yang mewakili perasaan.

“Aku”, saat bercermin mendapati rahsanya tak merdeka. Terpenjara oleh kekerasan tak kunjung usai dari ke hari. Bahkan “hati” yang tampak dalam cermin itu sebenarnya tak dikehendaki. Tapi bagaimana dia harus menolaknya? Mungkin, “aku” tahu, bayangan itu bukan dirinya yang sejati. Lalu siapa yang sejati; “aku” yang “hati”nya makin mengeras atau…?

cahaya itu telah pergi

dan aku tak bisa menemukan jawabannya

mencari-cari tau…

rasanya seperti memanjat dinding yang sangat tinggi

bayangan di cermin itu kini tak peduli

bahkan oleh jeritan setan sekalipun

Belum sempat terjawab pertanyaan “manakah yang sejati”, cahaya yang menjadi jembatan untuk hadir di kesejatian “aku” telah pergi. Adakah selain cahaya yang bisa membentuk bayangan jujur “aku” di cermin. Tanpa cahaya, tak akan pernah putus, pencarian tak berujung kepada jawab pasti. “cahaya itu telah pergi”, andai harus meraba-raba sebagai cara lain melihat “cermin” tanpa bantuan cahaya, untuk merasakan “aku”, adakah garansi bahwa rabaan itu pasti menghantar ke kesejatian “aku”? Sementara, “hati” masih terbungkus sesuatu yang keras dan semakin mengeras. Ke mana harus mencari tahu? Buntu. Beku.

Ke mana larinya cahaya itu? Bagi bayangan di cermin itu tak terlalu penting. Bayangan di cermin itu tak peduli, karena ia tak memiliki rasa,  apalagi rasa takut. Bayangan itu senyatanya tiada, bahkan tak akan pernah ada tanpa cahaya. Ia kosong. Ya, tiada.

Jika “aku” masih berharap bayangan di cermin itu menggambarkan dirinya secara utuh, maka harapnya adalah sia-sia, karena cahaya telah berlalu darinya. Adakah selain penderitaan menjadi serangkai nada indah yang mengiringi lagunya? Mungkin mustahil.

untukku…

penderitaan bukan lagi beban

air mata yang dulu  adalah kelemahanku

kini tak ada lagi

yang ada hanya bayangan itu…

dingin dan terluka

“yang ada hanya bayangan itu” Ya! Air mata jangan hanya tumpah karena derita. Air mata juga bisa tumpah karena bahagia. Biarlah bayangan itu seolah-olah ada. Bukankah sesungguhnya ia telah hilang bersama perginya cahaya. penderitaan bukan lagi beban”, karena “aku” tak mau lagi bersedih. Biarlah bayangan itu yang menanggung sedih, bukan “aku”, biarkan ia “dingin dan terluka”.

aku merasa…

saat harum bunga tak lagi sama.

“Aku” masih memiliki rasa, atau harapan tentang aneka keindahan yang memberi tawaran beragam aroma hidup yang tak sama kadar wangi-harumnya. Tapi, “aku” harus memilih, wangi apa dalam kehidupan yang hendak dihirupnya. “Aku” mulai membuka kembali keakuannya. Dia sadar, perasaannya yang dulu “tak perlu lagi dipertahankan”. Lalu, aku tak lagi akan merasa takut!!!”

Anwar Aris menulis ini pada akhir 2002

Iklan

Aksi

Information

One response

12 12 2008
astuti

ada HB. Jassin baru nih
waduh senengnya bisa diurai kayak gini. mas aku pengen kenal sama perempuan yang nulis puisi ini. tolong tanyakan ke dia ya bagaimana seandainya “aku” dan “hati” nya dikawinkan biar punya anak yang namanya kebahagiaan agar “aku” tidak menjadi egois. apakah salah kalau seseorang punya rasa takut? kata AlQur’an kan nabi musa juga punya rasa takut. kapan-kapan aku kirim puisi juga ya untuk diurai kayak gini.

anwararis: Komenmu bagus. Omong-omong, mengapa kamu pastikan penulis puisi itu perempuan?
Ide mengawinkan itu menarik. “Aku” di puisi itu, menurutku bukan egois, tapi dia menegaskan sudah bosan dengan “menjaga hati” yang kuartikan menjaga perasaan (mungkin perasaan diri sendiri, mungkin orang lain, siapa yang tahu?). Karena itu, dia tegaskan bahwa yang “dingin dan terluka” adalah bayangannya di cermin. Sementara “aku” yang pernah bercermin tak mau lagi terluka.
Rasa takut itu sejatinya tidak bisa dihilangkan. Sekecil apapun, seseorang pasti memilikinya. Mngelolanya adalah bijak, agar menjadi sebuah kekuatan demi melejitkan potensi diri. Karena, rasa takut menjadikan seseorang berhati-hati. Aku sepakat denganmu. teng kyu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: