Paket Shalat Khusyuk & Megalomania!

16 12 2008

mevlana-rumi

Ada yang pernah berkata, orang suci dengan orang gila memiliki banyak kesamaan. Orang suci melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Demikian juga orang gila melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain. Orang suci mendengar bisikan-bisikan alam ghaib dan orang gila juga mendengar bisikan alam ghaib. Orang gila melihat adanya cahaya terbersit di hadapannya. Demikian juga orang suci juga melihat cahaya.

Kemudian apa beda antara orang suci dengan orang gila. Bedanya pada akurasi atau ketepatan melihat dan menyelesaikan masalah. Orang gila itu menderita ilusi megalomania. Dia merasa tidak ada orang yang bisa menyelamatkan dunia kecuali dirinya. Tidak ada orang yang paling saleh selain dirinya. Dia sudah merasa dirinya telah mencapai makrifatullah. Semua orang dianggap sebagai insan bayangan yang layak dipaksa untuk diajari dan ditundukkan. Jika ada orang seperti ini, maka bisa dipastikan orang ini gila.

Sementara orang suci ketika melihat dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa ghaib, dia menjadi semakin rendah hati. Semakin hari, dirinya merasa semakin diliputi kesalahan dan dosa. Orang suci merasa seluruh yang telah diperbuatnya tidak layak di mata Tuhan. Semakin dia menghadap dan menyungkurkan dahi di hadapan Allah Swt, maka dia merasa semakin jauh dari Allah Swt.

Seorang suci ketika beribadah, dia merasa dirinya semakin tidak mengabdi kepada Allah Swt. Semakin berkhidmat kepada Allah Swt, semakin dia merasa pengkhidmatan itu tidak layak. Dia berupaya dengan beragam cara untuk semakin mendekat kepada Allah, tapi juga merasa semakin jauh dari Allah Swt.

Seorang suci merasa dirinya adalah mahluk yang selalu tidak sempurna menghamba kepada Allah Swt. Di dunia ini seolah dia hidup sebagai orang yang paling buruk, rendah dan nista. Semakin dia melakukan ibadah, semakin dia merasa jauh kepada Tuhan. Semakin sering dia berdzikir dan berbuat untuk Allah, semakin tak terbendung kerinduannya untuk melakukannya lagi. Semakin tinggi maqam yang sudah dicapainya, maka semakin dia merasa hina di hadapan Allah Swt.

Sementara, kita merasa telah menjadi orang suci hanya dengan berbekal dzikir saja. Atau ketika kita sudah bisa bercucuran air mata saat berdzikir, seketika itu kita sudah merasa dekat kepada Allah Swt. Dalam hati kita berkata, “Wah, betapa nikmatnya dekat dengan Allah Swt. Sungguh aku telah intim dengan Tuhan.” Kita merasa sudah dekat dengan Tuhan hanya dengan bekal mengikuti paket training shalat khusyuk, misalnya. Kemudian ketika melaksanakan shalat, kita merasa sebagai ahli ibadah.


Aksi

Information

8 responses

16 12 2008
WORLEWOR

Mikul dhuwur mendem jero, makin kita mantap menjunjung keagungan Ilahi maka makin jauh kita menundukan ego, makin rendah diri, jangan terlalu lama kita ‘pingsan’ sehingga gak sadar-sadar kalau kita itu sombong. Sombong adalah baju harian bagi kita, dengan sombong kita mengaku berakhlak, dengan sombong kita mengaku pintar, dengan sombong kita membanggakan gelar, dengan sombong kita membanggakan kedurhakaan (durhaka terhadap alam, durhaka terhadap sesama, durhaka terhadap keluarga, durhaka terhadap Tuhan). Bangun dari ‘pingsan’, mari kita benamkan diri kita akan kerendahan hati kita

18 12 2008
farid solana, s.t.

“Kita merasa sudah dekat dengan Tuhan hanya dengan bekal mengikuti paket training shalat khusyuk, misalnya. Kemudian ketika melaksanakan shalat, kita merasa sebagai ahli ibadah.”

Diriku pernah mengalami hal yang sama ketika masih muda dulu, semasa masih kuliah.
Konon, bertebaran konsep di lingkungan dunia pendidikan bahwa seseorang akan menjadi memahami suatu bidang studi dengan menggarap soal-soal seputar bidang tersebut.

Bisakah seorang mahasiswa memahami termodinamika hanya berbekal lembaran contoh soal ujian?
Bisakah seorang mahasiswa memahami kinetika reaksi fasa gas hanya berbekal lembarang contoh soal ujian?

Konon, banyak legenda yang menyatakan bahwa hal semacam itu sifatnya “Bisa.”

Saya tidak mengerti.

Betapa sombongnya mahasiswa/manusia-manusia yang berpikiran BANAL semacam itu.

Dia merasa menjadi pakar termodinamika sekelas Sadi Carnot, Hermann Helmholtz, dan Rudoplh Clausius setelah sukses menggarap soal-soal termodinamika.

Mungkin mereka bisa menyelesaikan dengan tuntas soal-soal tersebut. Namun, bisakah ia menjiwainya?

But, it’s OK. Tapi, hal semacam itu hanya layak dikonsumsi oleh anak kecil.

Jika manusia dewasa tetap menjalani “latihan soal” guna memahami hal semacam itu, hanya ada dua kemungkinan, yang merupakan keniscayaan, yang menimpa dirinya: (1) dia BANAL, dan (2) dia pengikut mahzab Newtonian yang berkostum Islam.

18 12 2008
Xerxes

Semoga Allah merahmati Anda😀

anwar aris: Amien Allahuma amien.

18 12 2008
Muslim Pribadi

Dunia dengan seluruh daya tariknya, selalu berusaha meluruhkan sisi-sisi kemanusiaan.

Terima kasih atas tulisannya om

anwar aris: kembali kasih dan kasihku untukmu, muslim.🙂 sebenarnya yang layak mendapat ucapan terimakasih dalam hal ini adalah bapakmu, bapak kita

2 01 2009
jamban-bathang

PErtama-tama saya ingin mengingatkan bang Aris ttg saya. 1. Saya dijuluki oleh bang aris sebagai CENDEKIAWAN PEMULUNG (kalo ingat ini saya jadi tertawa sendiri):) . 2. Saya pernah disedekahi buku “Keadilan Ilahi” oleh abang, buku itu jadi buku plg berharga bagi saya. 3. Saya pengendara honda 70 BMW (Bebek Merah Warnanya). Masih ingat siapa saya?

Bang Aris, aku tahu abang adalah kader HMI Cab Mlg yang “pernah jadi penguasa NDP” (meminjam istilah abang). Perasaan dulu abang revolusioner dengan tema-tema perlawanan ala Ali Syariati dan abang memahami pergerakan Che Guevara dari Argentina hingga Kuba dan ke Argentina lagi. Abang telpon kami satu per satu pada suatu pagi hari dan mengajak kami mendemo AS dalam barisan jamaah abang yaitu KUMAIL. abang berapi-api saat berorasi di depan Konjen AS, sementara bersama bang Isra Ramli ketum HMI Cab. Mlg yang memegang TOA saat itu.

Tapi bang, kenapa abang sekarang jadi kesufi-sufian begini? KEmajuan atau kemunduran ini bang? Biarlah orang-orang tenggelam dalam paket training shalat khusuk. biarlah orang-orang jagi megalomania. kalo saya masih yakin (berkat Keadilan Ilahi-nya Muthahari) bahwa kesempurnaan seseorang bergantung kepada siapa pemandu jalannya. masih banyak yang bisa ditulis selain seperti tulisan abang yang ini. Marah dong bang. marah seperti dulu ketika masih mahasiswa dan memimpin demo!

Oh ya bang, Ford Cortina hijau karatan yang mogok waktu dibawa ke sengkaling rmh pak zan dulu itu masih ada bang?🙂

2 01 2009
anwararis

anwar aris: Subahanallah. Apa kabar pejuang? Mengingatmu, jadi terbayang 3 anting yang melingkar di telinga kirimu. Berapa ukuran ketebalan kacamatamu sekarang, setahuku dulu minus 5? Unmuh Malang sepertinya sepi tanpa kamu.
Adakah nada “masa bodoh” atau “tak hirau” dalam tulisanku di Paket Shalat Khusyuk dan Megalomania ini? Kawan, aku protes. Aku marah. Bahkan jijik. Kerendahatian pentauhid dalam tulisanku itu wujud kekagumanku kepada hamba-hamba teragung Allah Swt. Merekalah yang berhasil melakukan revolusi sosial secara sempurna.
Lihatlah dalam doa Sayidina Ali bin Abu Thalib yang diwariskan ke sahabatnya Kumail. Semakin Ali bin Abu Thalib khusyuk beribadah, dia merasa semakin hina di hadapan Sang Ultim Adi Kodrati. Tapi, Ali hanya cengeng dalam doa malamnya, pada siang hari, tiada seorangpun janda muslim dan yatim-yatim kelaparan karena Ali telah penuhi dapur mereka dengan sembako. Di laga, tiada seorangpun jawara-penjajah bisa menghindar dari pedangnya. Pada era kita, Ayatullah Khomeini mampu menggulingkan rezim despotik 2000 tahun Syah Reza Pahlevi, padahal dia tak pernah meninggalkan shalat malam dan selalu cengeng dalam doa. Murtadha Muthahari, coba kamu unduh ceramah dan buku-bukunya ttg shalat, jika memahaminya secara utuh, niscaya kamu merasa belum pernah menegakkan shalat.

Ttg Ford Cortina: sudah dibesituakan🙂 . Ralat: bukan p. Zan, tapi P. Zen. Kita berhutang budi kepada beliau.

6 01 2009
Trixi

Tertarik saya membaca komentar Sdr. Farid Solana.
Mahasiswa belajar termodinamika karena ia dipaksa oleh sistem untuk melewati kuliah termodinamika. Ia harus membuktikan kepada realitas eksternalnya bahwa ia layak mendapat gelar sarjana, maka tujuan dia adalah bisa mengerjakan soal ujian Termodinamika untuk mencapai tujuan ultima dia–gelar sarjana–.
Lain halnya orang seperti Carnot. Ia melihat eksistensi dirinya ada di dalam ilmu termodinamika. Sehingga, ia mencapai pengetahuan sejati akan termodinamika, jauh di atas level “mengerjakan soal ujian” ala mahasiswa tadi.
Kalau mahasiswa merasa ia sudah seperti Carnot…maka ia adalah pendusta yang layak “diberi pelajaran”.
Beda antara saya dan Ali bin Abi Thalib adalah sejenis.
Karena kebodohan saya…saya mengira kalau tujuan saya adalah surga, sehingga ibadah2 saya dilakukan sebagai sarana mencapai tujuan saya itu.
Adapun Ali bin Abi Thalib…ia tidak tertipu dengan menjadikan surga sebagai tujuannya. Ia menghamba karena pengetahuannya akan eksistensi dirinya sebagai hamba.
Kalau saya merasa sama dengan Ali bin Abi Thalib, maka saya adalah pendusta yang layak “diberi pelajaran”.
Dan benar
sebagaimana pengetahuan sejati tentang termodinamika tidak bisa dipahamkan melalui paket kuliah 4 SKS di semester IV,
maka hakekat penghambaan tidak bisa dimasukkan ke dalam pemahaman seseorang melalui paket-paket “eksklusif”.
Wallahu’alam

8 01 2009
margi

apa kabar mas?punya artikel ato info dimana saya bisa dapetin karya murtadha muthahari mas.saya baru punya satu itupun udah lama sejak SMP.So,skr sy pengen koleksi yg lainnya.makasih

anwar aris🙂 Cari saja karya Murtadha Muthahari di Gramedia terdekat. Kalo di Jogja, cari saja di Shoping Center. Kita jg bisa duduk satu tikar untuk mendiskusikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: