Nasib Karyawan: Gali Lubang “Tutup Mata”!

20 12 2008

lesu

Setelah bekerja seharian, letih dan penat menggelayuti setiap sendi tubuh kita. Tapi selalu saja penghasilan atau uang yang kita peroleh habis, jauh hari sebelum tanggal gajian tiba. Uang yang kita peroleh hanya mampir di rekening saja, kemudian merembes entah ke mana.

Kerja keras yang kita lakukan tak membuahkan hasil yang memadai. Selalu kurang. Keringat yang kita “jual” harganya tak sebanding dengan harga kebutuhan sehari-hari. Biaya sekolah anak, biaya makan, ongkos listrik, sewa rumah, dll. kerap membuat kita tak nyenyak tidur.

“Kita bekerja hanya untuk memperkaya orang lain,” kata teman saya. Dia seorang editor sebuah penerbit buku di Jakarta. Gajinya 3 juta per bulan. Bersama istri, dia kontrak rumah setiap bulan seharga 800 ribu. Bukan rumah yang layak untuk ditinggali sebuah keluarga. Itulah konsekwensi hidup di Jakarta. Kebutuhan makan keluarga (dia, istri dan 2 orang anak ) tak kurang dari 1,5 juta sebulan (cenderung rawan gizi). Ongkos listrik sebulan 150 ribu. Belum uang saku anaknya. Belum membayar biaya sekolah anak. Belum untuk ongkos ke kantor. Belum pembalut istri. Belum ini, belum itu.

Memang benar ungkapan itu. Bukan asal bunyi. Kesimpulan yang diperoleh dari perenungan mendalam dan perjalanan ruhani setelah dipaksa oleh keadaan. Sepintas itu masalah sepele, padahal itu masalah sepuluh bahkan seratus, sejuta, semilyar kekecewaan yang dikemas dalam kalimat, “Kita bekerja hanya untuk memperkaya orang lain.” Dia memperkaya pemilik rumah yang disewanya. Dia memperkaya pemilik warung yang menjual sembako. Dia memperkaya PLN yang terus merugi. Dia memperkaya Bank tempatnya men-transit-kan gaji, karena dibebani biaya admistrasi dan PPN. Ah… rumit.

Di kantor saya, ada penggolongan non-stuktural masing-masing karyawan. Penggolongan ini bukan berdasarkan prestasi kerja atau masa kerja. Bukan juga digolongkan berdasarkan jabatan yang dipegangnya. Tapi dilakukan berdasarkan “curhat” dari masing-masing karyawan. Tiada golongan 1A. Penggolongan bermula dari karyawan golongan 2A. Ada karyawan golongan 3A. Sangat sedikit golongan 4A. Sementara golongan 2A rata-rata karyawan bujangan. Karyawan golongan 3A raut mukanya lusuh setiap akhir bulan. Sementara golongan 4A rata-rata badannya kurus kering, tapi mereka semua berwajah cerah saat tanggal gajian tiba.

Golongan 2A adalah karyawan yang gajinya habis dalam 2 minggu; kami menyebutnya 2 minggu Abis. Golongan 3A adalah karyawan yang gajinya habis dalam 3 minggu; kami menyebutnya 3 minggu Abis. Golongan 4A adalah karyawan yang paling jelek penampilannya (sudah kurus karena irit dan kurang gizi, bajunya itu-itu saja, kusam kadang-kadang tidak disetrika), tapi gajinya selalu bertahan hingga akhir bulan.

Itulah salah satu alasan mendasar mengapa mereka akrab dengan bendahara kantor. Setiap uang mereka habis, ketika itu mereka mengisi lembar kasbon. Jika jumlah gaji yang akan diterima bulan depan bisa ditoleransi si bendahara, maka cairlah pinjaman tanpa bunga itu. Ngutang untuk sekedar bertahan hidup. Walhasil, tak ada sisa dari “keringat kuning” yang telah kita tukar dengan uang. Hidup kita jalani dengan gali lubang “tutup mata”.


Aksi

Information

One response

22 12 2008
hari susanto

hidup ini patut kita syukuri. menikmati dengan tulus menerima apa danya tapi tetap berusaha.salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: