Lupakan Feminisme Basi: Ucap Selamat Hari Ibu!

22 12 2008

i-love-you-mom

Perbedaan fisikal yang (mungkin dianggap) remeh: Perempuan mengalami menstruasi. Lelaki tidak. Perempuan memiliki payudara. Lelaki tidak. Perempuan memiliki rahim, kemudian hamil dan melahirkan. Lelaki tidak. Dan sebagainya.

Perbedaan fisik ini meniscayakan pembawaan karakter yang sama sekali berbeda dengan lelaki. Bukan berarti itu cacat bawaan bagi perempuan, tapi mungkin itulah batu loncatan untuk perempuan meraih kesempurnaan.

Ketika mengalami menstruasi misalkan, tentu perempuan tidak akan pernah bisa senyaman lelaki ketika melakukan aktifitas kerja. Secara emosional pasti lebih tidak stabil. Tanpa berniat mengulas lebih jauh tentang menstruasi, sejatinya perbedaan ini meniscayakan tugas yang berbeda. Kekhawatiran dan ketidakstabilan emosi perempuan yang sedang menstruasi itu pasti jauh lebih besar.

Dari satu perbedaan fisikal ini, bisa dipahami, pada dasarnya ada hak dan kewajiban tidak sama antara perempuan dan pria. Perbedaan hak dan kewajiban itu justru menunjukkan proporsionalitas, keadilan yang manusiawi. Artinya, jika ada pemaksaan persamaan hak dan kewajiban antara perempuan dan pria, justru ini tidak adil.

Bukan tanpa alasan Nabi menjawab, “Ibumu… ibumu… ibumu…” saat ditanya sahabatnya, “Siapa yang harus saya hormati?” Karena pertanyaan ini diajukan di depan publik, maka jawabannya pun ringkas dan mewakili makna yang dalam dan pemahaman luas tentang perempuan. Apa itu? Perempuan adalah ibu manusia. Tanpa peran perempuan tak akan pernah lahir peradaban manusia. Tapi jika Nabi hidup pada zaman sekarang, mungkin beliau menjawab, “Pembantumu, pembantumu, pembantumu!” Perempuan layak untuk mendapatkan penghormatan lebih dibanding pria. Tapi bukan perempuan yang berpaling dari kesempurnaan sebagai “ibu manusia”.

Meski selalu digugat, title “DAPUR-SUMUR-KASUR” masih dilekatkan kepada perempuan. Sepintas ungkapan itu seolah bermakna: Ibu adalah pelayan yang harus meladeni semua anggota rumah tangga (suami dan anak-anaknya). Menyiapkan dan menyuguhkan semua masakan; DAPUR. Membersihkan semua barang yang kotor (piring, baju, perabot ruma tangga); SUMUR. Melayani dan memuaskan birahi suami; KASUR.

Kemudian, sekaitan DAPUR-SUMUR-KASUR, apa jawaban kita, ketika ada orang menegaskan, “Perempuan itu menjebak pria! Dipikatnya pria agar menikahinya. Lalu, disuruhnya pria bekerja. Dijeratnya pria agar memberinya nafkah setiap hari. Dirayunya pria agar membelikannya baju, kosmetik dan sebaginya. Setelah capek kerja, pria diminta untuk memuaskan nafsu birahinya. Setelah hamil dan melahirkan, dijeratnya pria agar menafkahi anak-anaknya. Begitulah, hingga habis umur pria untuk peras keringat banting tulang kemudian mati kelelahan.”

Tentu, kedua pemahaman tersebut tidak benar. Dalam Islam, perempuan layak mendapatkan pendidikan yang sama dengan pria. Allah Swt juga tidak melihat ada perbedaan derajat manusia kecuali dari sisi ketakwaannya. Bahkan, ada kalanya perempuan layak mendapatkan pendidikan lebih tinggi dari kaum pria. Mengapa? Karena perempuan ibu manusia, peletak batu pertama pembangunan kemanusiaan. Jika perempuan memiliki pemahaman yang utuh tentang pendidikan keluarga, pasti dia menjadi perempuan pendidik.



Aksi

Information

6 responses

22 12 2008
hari susanto

selamat saya tahu anda sangat mencintai keluarga dan terutama ibu anda

anwar aris: terikasih sahabat. aku sangat merindumu! Kalo aku ke jember, aku mau nginep rumahmu

22 12 2008
eko

he he he, artikel yang menarik. Kapan ya kira-kira masalah perempuan dalam pandangan Islam bisa dibahas lebih mendalam disini. Karena seringkali Islam dituduh membelenggu perempuan. Dengan Jilbab misalnya atau diijinkannya suami berpoligami dll. Saya sepakat dengan anda bung. Perempuan itu Ibu Manusia, karena itulah akses pendidikan mesti menjadi porsi utama untuk diberikan kepada mereka. Waaah jadi ingat saya belum mengucapkan selamat Hari Ibu ke Ibu saya. Terimakasih bung untuk diingatkan. Kapan ada Hari Bapak ya ???

anwar aris: Kembali kasih. insya Allah segera menyusul tema-tema perempuan akan dibahas lebih mendalam di sini.
hahaha…🙂 hari bapak tiap hari.

22 12 2008
andre

feminisme basi itu yang bagaimana ya ????

anwar aris: salah satunya tuntutan kesetaraan gender.

22 12 2008
rama

I LoVe You Mom. Tanpa mama tanpa kehidupan. Mama aku tidak bisa membalas jasamu bahkan tidak akan pernah bisa. Mama terimakasih sudah melahirkanku merawatku hingga aku tahu engkaulah sumber energiku. mama ampuni aku mama. mama aku mencintaimu. aku merindukan peluk hangatmu aku ingin menangis lagi di pangkuanmu dan bercerita seperti waktu kecil dulu. semoga mama selalu damai di alam baka. doakan anakmu ini mama.

anwar aris: teng kyu rama. Aku terharu membaca komenmu. Sama aku juga merindukan ibuku yang telah meninggal dunia.

22 12 2008
andre

wah, sejauh yang saya tau salah satu tujuan memperjuangkan kesetaraan Gender itu adalah bagaimana perempuan juga mendapatkan akses pendidikan. Intinya bahwa selama ini perempuan seringkali dijadikan masyarakat kelas dua. Berapa banyak perempuan yang harus putus sekolah karena yang diutamakan adalah laki-laki dalam keluarga. Jadi bagus juga kan? terus basi disini apa maksudnya. Atau bisa gak dijelasin Feminisme itu apa? Biar kita gak salah menilai. Tapi saya kira tidak hanya penulis sih yang mesti berkomentar. Saya berharap ada kawan-kawan yang lain yang bisa turut membantu, atau berdiskusi disini seperti usul mas Eko diatas.

anwar aris: Ya, mas Andre. Ttg pendidikian tsb, saya sepakat dengan Anda. Namun, tuntutan kesetaraan gender, jantung masalahnya adalah tuntutan “kesamaan hak dan kewajiban” antara lelaki dan perempuan. Sejauh ini, itu yang kutangkap dari pemahaman para feminis Barat. Saya sebut basi, karena justru tak adil menyamakan hak dan kewajiban lelaki dan perempuan. Saya janji untuk susulkan artikel yang membahas itu di Republik Anarki.
Saya juga berharap begitu, kita tunggu tanggapan pencicip Republik Anarki berikutnya.🙂

22 12 2008
azucena

Jadi ingat tadi telpon ke mama, kangeeen banget. Tapi lupa kasih ucapan selamat. Lupa juga kalau hari ini hari ibu. Karena menurut saya hari Ibu itu gak penting. Ungkapan Kasih ke mama itu mestinya sepanjang masa, tidak hanya hari ini. Coba simak lagu ini ” kasih ibu, kepada beta , tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Tuh kan, kalau ungkapan kasih cuman hari ini, jadi gak adil dong buat mamanya.
Pokoknya buat mama , I love You for every second, every minute, every hour, every day, every month, every year, for the whole day of my life. I love you forever.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: