Aku, Kawanku dan Majalah Porno

26 12 2008

untitled

Kamar kosku.

Sepetak ruang berukuran 2,5 X 3 M ini, menjadi saksi kawanku mengeluh. “Hidup susah,” ujarnya.

“Capek. Terus bergumul dengan kemelaratan,” tambahnya.

Setelah menyiksa asbak dengan puntung rokok menyala, dia menegaskan lagi, “Ya. Benar. Nasib… nasib.”

“Bagaimana jika kita merampok Bank yang satpamnya agak blo’on?” serunya lagi.

“Buset dah… kita mesti punya M 16 atau AK 47,” umpatnya sambil menghela nafas dalam.

Setelah menghembuskan asap di mulut, dia bergumam lagi, “Hiii… Serem! Jangan, ah! Berarti kita mesti menjarah markas tentara terlebih dulu. Bisa jadi abon kita!”

Aku tetap tak bergeming dari tempatku. Seolah tak mendengarnya, jemariku terus menindas-nindas tuts keyboard komputerku.

Dia terus menggerutu, mengisahkan nasibnya dua hari terakhir ini; panjang dan lebar. Meski tak berteriak-teriak, rintihannya cukup membuat telingaku pekak. Lebih dari itu, dia membuatku muak karena tak pernah kujumpainya tanpa keluhan.

Kasihan, memang. Bagaimana tidak, dia sebatang kara menjalani hidup di dunia ini sejak masih bocah. Waktu itu usianya sekitar 11 tahunan, ketika ayah dan ibunya hangus dilalap si jago merah dalam kebakaran di komplek rumah kumuh di pinggiran Sunter. Sekarang, penderitaannya bertambah karena kemarin diusir dari rumah petakan yang disewanya. Pasalnya klasik; gara-gara terlalu sering terlambat membayar.

Kemudian, kusulut sebatang rokok yang menancap di sela bibirku. Kuhembuskan asap dalam mulutku perlahan-lahan. Asap itu menari-nari gemulai beriring alunan Caravansari Kitaro, kemudian lenyap di sela buku-buku yang berbaris seperti tentara di dinding kamar kosku.

“Ayolah…! Jangan diam! Bersuaralah! Bernyanyi atau berceloteh. Atau, apa sajalah!” dia melempar sebuah majalah, tepat menubruk mukaku. Hanya kulirik dia.

Kulihat air dalam teko elektrik di bawah meja komputerku telah mendidih. Aku beranjak dari kursiku, menuang air panas itu ke dalam cangkir berisi kopi dan gula yang telah siap diseduh. Setelah kuaduk kopi itu, kuhirup aroma kopi yang wangi itu dalam-dalam. Kupejamkan mataku perlahan sambil menyeruputnya. “Sruup!” luar biasa nikmat.

“Bagi, dong!” ujarnya sambil mendekatiku, berharap mendapatkan bagian.

“Ah…!” kutepis tangannya ketika hendak menjamah kopiku. Tanpa bicara, aku tunjuk kopi dan gula serta cangkir yang berada di atas almari kecil di sudut kamar.

“Tumben, pelit,” ujarnya kemudian setelah meracik kopi.

Kupelototi lagi monitor. Kusisir dan kususun huruf-huruf dalam layar kaca 17 Inchi itu. Sebuah narasi rumit yang belum usai. Mungkin, tak pernah selesai untuk aku bahasakan. Rahsaku mengalir menyusuri lorong-lorong gelap tanpa secercah pelita pun. Hanya aku-ku yang menggeliat merangkak, berjalan bahkan berlari dalam “dunia kaca” yang tak bisa aku bedakan dengan dunia ini. Entah sampai kapan? Hingga hari ini, tak bisa kuputuskan, siapa di antara keduanya yang nyata.

Huruf demi huruf kutata menjadi kata, kemudian tersusunlah kalimat hingga berlembar-lembar halaman A4. Siapa yang nyata? Dunia anak jalanan yang sedang aku geluti saat ini, atau berlembar-lembar kalimat dalam komputerku ini? Jika kehidupan mereka yang nyata, mengapa itu tak tampak hingga empati setiap orang yang masih memelihara kemanusiaannya nyaris tak ada? Jika lembaran-lembaran itu yang nyata, mengapa kemudian ia seolah lenyap begitu saja setelah terbaca oleh banyak orang ketika berlembar-lembar koran memuatnya secara bersambung selama seminggu penuh?

Bahkan pimredku pun memintaku untuk berhenti melakukan reportase anak jalanan. “Cari kasus lain, yang lebih segar,” ujarnya setelah mencukupkan tulisan yang kubuat itu. Selayak daging hewan yang dipajang di etalase swalayan, kisah mereka juga dianggap bisa basi.

Jika aku berhenti dari pekerjaanku ini dan memilih untuk bergelut dengan anak jalanan, bagaimana aku harus menghidupi diriku? Tak banyak yang bisa kuperbuat. Mungkinkah aku harus berpisah dengan dunia anak jalanan yang berarti bahwa aku berpisah dengan duniaku? Satu lagi masalah menimbun otakku.

Aku menghentikan komunikasiku dengan komputer secara mendadak. Seorang wanita paruh baya berdaster hijau bersuara. Meski sudah umur, tapi kecantikannya masih tersisa di wajah dan tubuh sintalnya.

Sopan namun tetap tegas. “Dasar, janda tentara,” ungkapku dalam hati. Ibu pemilik kos tiba-tiba muncul di depan pintu. Semula aku kira hantu. Tapi ternyata bukan.

“Mas, maaf saya mengganggu. Permisi, ya! Anu… itu lho… sekali lagi maaf, ya!” sambil tersipu-sipu dia mulai bicara.

“Sudah tiga hari sampean terlambat membayar uang kos. Kapan mau dibayar? Soalnya, kemarin siang ada seorang yang ingin kos di sini,” dia tegaskan kepadaku kalimat itu dengan logat jawa yang masih kentara meski sudah puluhan tahun hidup dan beranak pinak di Jakarta.

Kemudian, tanpa basa-basi aku memastikan kepadanya bahwa besok pasti kubayar.

“Oh, ya, sejak bulan ini uang kos naik. Bulan kemarin, kan 350 ribu. Sejak bulan ini, 400 ribu. Ditambah uang listrik 20 ribu. Maklum, mas, tarif listrik naik, tarif air juga. Bahkan BBM sudah naik sebelumnya.”

Setelah aku setujui dia pun berlalu pergi.

Asap rokok murahan miliknya mengepul. Nyamuk-nyamuk terpaksa mengungsi. “Tuhan! Berilah hamba harta berlimpah berikut istri cantik dan setia!” sambil terus membolot/ memeras daki kulit dia mengucap doa rendahan. Kemudian dia mengubah posisi duduk dengan tidur tengkurap, memelototi majalah bergambar para pesinetron bugil.

Dia pikir Tuhan adalah budaknya. Jangankan wanita cantik, apalagi setia, bahkan pelacurpun tak sudi disuntingnya.

“Waduh, artis cowok ini mengganggu pemandangan. Kurang ajar!” sambil memukul gambar pria bugil dalam lembar majalah itu dia menggerutu.

“Coba kamu lihat, jadi geli aku melihat pria telanjang ini. Mau muntah rasanya!” dia menunjukkan pose dua pasang muda-mudi sama telanjang tepat di hadapan mukaku.

“Ngapain sih, kamu! Sudah, lihat saja sendiri! Aku nggak mau tahu!” ujarku.

“Yee… Kamu perlu tahu. Ini, lho, yang ini, bukan yang ini!” dia melipat gambar pria bugil itu, hingga yang yang terlihat hanya wanitanya saja yang tanpa sehelai benang pun dan semakin mendekatkannya ke wajahku.

“Apa sih! Ah…!” Aku menepis majalah itu.

Akhirnya dia menyerah. Kembali dia tengkurap di lantai sambil menyanggah dagu dengan dua tangannya, dia memelototi gambar wanita telanjang itu.

“Wah, gila ya! Sekarang ini artis-artis semakin gila! Buka-bukaan di hadapan publik. Ga’ punya malu!” ujarnya.

“Huss! Jangan sebut mereka artis!” ujarku setelah lama tak kugubris dia. Aku cukup terganggu dengan kata “artis” yang dia sandangkan kepada dua orang bugil itu.

“Lho, kok kamu melarang? Semua orang tahu kalau mereka itu artis,” tegasnya.

“Kamu harus tahu! Artis itu, berasal dari kata dasar art. Artinya seni. Orang yang berjiwa seni dan mencintai seni disebut artis. Sementara, mereka bukan mencintai seni apalagi berjiwa seni. Tapi makan di rumah seni tanpa permisi,” jelasku.

“Ah… terlalu filosofis, kamu. Bicara yang umum-umum sajalah! Toh, tak ada masalah,” ujarnya.

“Sudahlah, jangan membantah tanpa alasan yang bisa diterima akal. Logika umum, apalagi masyarakat pada umumnya, jangan selalu kamu jadikan landasan. Jika begini terus, kamu tidak akan pernah pandai. Sudah! Minum saja kopimu!” tegurku kepadanya.

“Apa gunanya kepandaian? Banyak orang pandai juga hidup susah. Mantan tetangga-tetangga di rumah petak yang pernah aku sewa itu banyak yang pandai, bahkan ada dua orang sarjana ekonomi, tapi semuanya berstatus ekonomi lemah. Lalu buat apa kepandaian, kalau orang pandai jatuhnya nanti sama dengan aku, nganggur?” dia berusaha menyergahku.

“Setidaknya, tidak menjadi pandir, seperti kamu!” ujarku.

“Sialan! Aku tidak pandir, meski tidak pandai,” dia membantahku lagi.

“Sudahlah! Jangan banyak bicara. Aku lagi sibuk, nih!”

Ketika dia berbicara lagi, aku hanya menjawabnya, “Ssst!” Diapun berhenti meski sebentar kemudian dia ngomong lagi.

Dia masih melihat foto para bugil dalam majalah itu sambil berdecak-decak.

“Kamu tahu, kan. Laki-laki yang diidolakan banyak perempuan ini, kan sering muncul di sinetron-sinetron tv!” ujarnya memberi penjelasan kepadaku sambil tetap tengkurap.

Aku tetap asyik bercengkrama dengan komputerku tanpa menghiraukan dia.

“Sekarang dia berpose telanjang. Mungkin besok dia menjadi bintang film bokep. Atau jangan-jangan sudah main film BF, tapi aku saja yang belum tahu. Coba besok aku cari tahu dengan bertanya kepada temanku yang spesialis penjual VCD BF bajakan.” Dia berbicara sendiri sambil menyanggah dagu dengan tidur tengkurap memelototi majalah itu.

“He, Ali. Kamu, kan wartawan. Tulis saja profil orang bugil ini. Pasti koranmu laku keras, oplahnya meningkat tajam,” dia mengajakku bicara.

Aku tetap tak menggubrisnya. Aku terus mengetik buah pikiranku dalam komputerku.

“Kamu ulas saja dalam koranmu. Bukankah pria amoral ini laku keras di sinetron-sinetron tv? Dia, kan sering membintangi sinetron-sinetron religius, berperan sebagai pemuda yang alim, rendah hati, zuhud dan penyabar! Wah, kamu bisa dapat bonus dari bosmu itu! Gimana, terima saja usulku ini!” ujarnya seenaknya.

“Ah…! Kapan sih mulutmu itu bisa berhenti. Mau aku tempeli lakban bibirmu yang lebih mirip empal itu!” kuujarkan kalimat pedas ini sambil menoleh ke arahnya.

“Lha, kok marah! Aku, kan hanya usul! Kalau tidak diterima, tidak ada masalah, bung!” ujarnya rinnga.

“Sebenarnya, kamu ke sini, dalam waktu yang tidak tepat ini, dalam rangka apa sih?” tanyaku.

“Begini, sebenarnya aku mau pinjem du…”

“Sst!” kuhentikan bicaranya. “Ini, makanlah kamu di warung. Aku lagi tak punya duit. Hanya ini!” ujarku sambil menjulurkan selembar uang sepuluh ribu rupiah kepadanya.

“Wah… kamu memang orang pandai. Tahu saja, kalau aku belum makan dari pagi.”

Dia segera menenggak habis kopinya yang masih hangat, kemudian keluar dari kamarku. Setelah mengenakan sandal jepit yang nyaris putus talinya itu, dia berjalan meninggalkanku di kamar.

Aku keluar kamar sejenak. Kulihat dia masih tak seberapa jauh dari pintu gerbang kosku.

“Hai, Dekil!” panggilan ini adalah nama yang sejak lama kusandangkan kepadanya.

Dia menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan. “Ada apa?” sahutnya sambil menaikkan kaca matanya yang melorot dengan jari telunjuk kirinya.

“Beli makannya di Amerika, ya!” jawabku sambil melempar majalahnya yang tertinggal di kamarku.

“Beres!”

Dia mengerti, jika aku sedang tidak ingin ditemani.

Celana jeans yang sudah tak bisa dipastikan warna aslinya, hanya dicuci jika debu sudah menebal. Rambut acak. Kaca mata minus 5 melorot di ujung hidung. Badan beraroma ikan asin. Sela-sela gigi menguning karena timbunan nikotin. Kesemuanya ciri dia yang selalu mengeluh.



Aksi

Information

2 responses

25 08 2009
me

Ternyata walaupun teman itu nyebelin masih memberikan manfaat juga kan? setidaknya bisa menjadi inspirasi bahan tulisan

3 06 2012
Iwan

Bugil itu seni kah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: