Menilik Kematian; Refreshing Sejati

3 01 2009

kerandamu

Pernah seorang buruk rupa dari Perancis menggugat silogisme Aristoteles yang ditulis di pojok Stoa jauh hari sebelum Masehi. Jawara pemantik peradaban sejak Yunani hingga merembes ke seantero jagad itu pernah menemukan rumus hidup. Misalnya:

Semua manusia pasti mati. (Disebut premis mayor)

Plato manusia. (Disebut premis minor)

Plato pasti mati. (Kesimpulan)

Kehidupan berlangsung dari detik menjadi menit. Berjam-jam, hingga hari dibingkai bulan.

Syahdan, tak terasa telah bertahun-tahun kujelajah dunia ini. Semakin bertambah detik, pisau Sang waktu memangkas jarakku dengan kematian. Kian dekat. Lalu, aku dan kematian tak berjarak.

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami, kamu dikembalikan.[1] Begitu kata Allah Swt. Ada yang pernah bertanya, “Tuhan, tak adakah rencana lain, selain mencipta ‘mati’!”

Aristoteles. Rumus berpikirnya adalah satu kancah yang mengundang setiap pemikir jenial berdecak kagum. Meski di penghujung abad 20, rumus itu digugat untuk “dimuseumkan”. Silogisme, satu rumusan untuk setiap keberadaan bisa diidentifikasi. Dari satu potret realitas umum sebuah keberadaan dirujukkan ke satu partikular, melahirkan pemahaman universal. Pemahaman universal ini berlaku bagi setiap persoalan yang berpaut dengan identifikasi itu.

Seorang dari Perancis menggugat silogisme itu, ribuan tahun setelah kematian Aristo. Orang-orang menyebutnya “si buruk rupa”. Buruk rupa menggugat: Siapa yang pernah mengidentifikasi seluruh umat manusia? Terlalu berani Aristoteles membuat premis mayor “Semua manusia pasti mati”. Premis ini bukan buah pikir akal yang sehat.

Jika masih ada bayi yang lahir, selama manusia masih terus lahir, maka belum bisa diketahui apakah setiap orang yang lahir kelak mengalami mati. Sangat mungkin ada orang yang hidup terus. Sangat mungkin, ada orang yang umurnya sudah ribuan tahun jauh hari sebelum Aristo lahir dan tidak akan mati. Mungkin dia bersembunyi di salah satu belahan bumi ini. Atau, kelak ada bayi yang lahir dan terus hidup selamanya. Siapa tahu!

“Semua manusia pasti mati”, premis mayor temuan Aristo belum bisa dibuktikan. Karena peradaban manusia masih belum berhenti. Boleh jadi ada orang yang tidak mengalami mati.

“Premis mayor itu gagal sebagai proyek pemahaman universal. Kemudian, jangan berharap premis minor dari silogisme itu benar. Sudahlah, silogisme itu kubur saja di sisi makam Aristoteles. Apalagi kesimpulannya, jangan dipikirkan.” Kira-kira itu saran Jacques Derrida “si buruk rupa”. Cerdas. Derrida berpikir radikal. Tapi, Derrida keburu mati sebelum tahu siapa orang yang kekal di dunia ini.

Mulai Plato yang filosof hingga ki Joko Bodo yang dukun, tak mampu menjelaskan kematian dengan kata-kata. Seatraktif apapun ia, semua ujaran hanya mampu menggambarkan saja. Sejak ilmu perdukunan hingga ilmu medis, sejak filsafat hingga racau-racau para pengaku pujangga tak bisa menemukan jawaban pasti; apa sebab kematian.

Ternyata, hanya wahyu yang bisa menjawab.

Sudahi saja pembahasan ini. Lupakan Aristo dan Derida.

Kita kembali ke “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami, kamu dikembalikan.”

Firman-Nya, Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan (dengan tujuan) yang benar dan dalam ajal (masa) yang telah ditentukan. Dan orang-orang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.[2]

Dalam ayat ini Allah Swt menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dibatasi oleh ajal yang telah ditetapkan-Nya. Tidak terdapat satu pun maujud yang melampaui batas ajalnya.

Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang mene­rangkan per­masalahan ajal. Secara kebahasaan, ajal artinya masa berakhir sesuatu. Al-Quran juga menyebutnya dengan kata yaum (hari) dalam firman-Nya, Kata­kanlah, “Bagi kalian ada hari yang telah dijanjikan (Hari Kiamat) yang tiada dapat kalian minta mundur darinya meski sesaat pun dan tidak (pula) kalian dapat meminta supaya diaju­kan.”[3]

Dialah Dzat yang menciptakan kalian dari tanah, sesudah itu ditentukan ajal (kematian kalian), dan ada satu lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk bangkit) yang ada di sisi-Nya.[4] Ayat ini menyebutkan bahwa ajal yang ditentukan ada di sisi Allah dan sepenuhnya menjadi hak-Nya.

Dahulu, sekitar delapan abad yang lampau, tersebutlah seorang sufi besar dari Neisyabur. Faridudin Athar namanya. Semula dia seorang tabib, penerus ayahnya dan menjual obat-obatan serta minyak wangi. Tapi kemudian dia menghabiskan sisa umurnya untuk menjalani laku spiritual dan mengajar kearifan. Banyak orang datang dari segala penjuru untuk berobat dan meminta bantuannya.

Suatu ketika seorang berpakaian compang-camping lewat di depan tokonya yang menebar aroma wangi. Di hadapan Faridudin Athar orang itu menangis dengan nafas tersengal-sengal.

Faridudin Athar mengira bahwa si miskin itu hendak mengundang ibanya. Diapun meminta agar si compang-camping itu segera pergi. “Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan,” ungkap Faridudin Athar.

Si miskin itu masih menangis dengan nafas berat. Faridudin Athar menghampirinya. Dia perhatikan dalam-dalam orang yang berpakaian lusuh itu.

Si miskin berkata di sela tangisnya, “Mudah bagiku untuk meninggalkan tokomu ini. Aku tidak keberatan sedikitpun.” Dia menangis lagi.

“Lantas…?” Tanya faridudin Athar.

“Aku tak menyimpan dan tak memiliki apapun dari dunia ini. Kecuali sehelai baju lusuh compang-camping melekat di tubuhku ini. Jangankan sekedar meninggalkan tokomu, bagiku ringan mengucapkan salam perpisahan kepada dunia ini. Tapi, sulit bagimu mengalihkan perhatian terhadap semua kemewahan dunia. Kini, aku ucapkan belasungkawa kepadamu,” ungkapnya.

“Tahukah engkau, wahai hamba Allah. Aku berdoa agar hidup miskin di ujung usiaku. Ketika itu, aku berharap mendapatkan ketenangan batin sebagai pesuluk (penempuh jalan spiritual),” Faridudin Athar menegaskan kepada orang yang mirip pengemis itu.

Seketika tangis orang itu terhenti dan berkata, “Pada akhir hidupmu! Suatu saat kelak…? Wahai hamba Allah, waktu tidak bisa diandalkan. Karenanya jangan berharap kepada waktu,” dia geleng-geleng kepala. “Tanpa harus menunggu besok atau kelak, sekarang akan kutunjukkan kepadamu bahwa Allah pasti mengabulkan doaku. Saat ini juga kupinta kepada-Nya, niscaya Dia kabulkan tanpa harus menunggu suatu saat nanti. Saksikanlah, aku akan meminta-Nya sesuatu yang paling berharga bagiku. Jadilah engkau saksi bahwa Allah mengabulkan pintaku tanpa harus kutunggu hingga kelak,” tegasnya.

“Apa sesuatu yang paling berharga itu,” tanya Faridudin terheran.

“Aku meminta Allah mencabut nyawaku,” jawabnya singkat.

Faridudin Athar terkesima. Dia terpaku, tanpa pejam mata dia memandangnya nanar.

Dengan baju compang-campingnya, orang itu berbaring di hadapan Faridudin Athar. Sejenak dia tersenyum damai memandang wajah pemilik toko itu. Kemudian dia tengadahkan tangan. Saat itu juga si compang-camping menyandang predikat almarhum.

Setelah peristiwa itu, sepanjang hari Faridudin Athar merenung. Hingga kemudian dia putuskan untuk meninggalkan tokonya lalu memperdalam ilmu akidah dan syariat. Kemudian dia dikenal sebagai sufi besar karena keluasan ilmu dan kearifannya. Jalaludin Rumi adalah salah seorang muridnya.

Sayidina Ali bin Abu Thalib berwasiat kepada putranya, “Aku wasiatkan kepada kalian, untuk senantiasa mengingat kematian dan kurangi kelalaian terhadapnya. Mungkinkah kalian melupakan sesuatu yang tidak akan pernah melupakan kalian! Mungkinkah kalian mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah memberi kesempatan kepada kalian!”[5]

Cerita hikmah itu mengantarku untuk memahami bahwa dunia ini adalah salah satu karya Allah Swt agar dihuni mahluk-Nya. Tak ada yang tinggal abadi di dunia ini. Masih ada karya Tuhan selain dunia ini. Karena kebaikan Allah Swt, agar tidak bosan, aku diajak refreshing ke alam lain.

Allamah Thabathabai Sang Penafsir menjelaskan: kematian digambarkan oleh Allah Swt di dalam Kitab-Nya. Kematian bukan yang biasa kita pahami dan kita lihat sehari-hari sebagai hilang­nya fungsi indra, punahnya kemampuan beraktivitas dan lenyapnya kehidupan (fisik). Allah Swt berfirman, Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya (bil-Haqq). Itulah yang kamu selalu lari darinya.[6]

Ayat tersebut memberitahu kita tentang haki­kat kematian yang digam­barkan oleh Allah Swt dengan ungkapan bil-Haqq. Artinya kema­tian bukanlah ketiadaan, kesirnaan atau kehilangan.

Allah Swt berfiman, Sekali-kali tidak! Apabila nyawa (seseorang) telah sampai ke kerongkongan, dan (ketika itu) dikata­kan, “Siapakah yang dapat menyembuhkanmu?” Dan dia telah menduga bahwa sesung­guhnya itulah waktu perpisahan, dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu (tempat dan masa) penggiringan.[7]

Tiada yang mampu menghalangi datangnya maut. Ayat tersebut menjelaskan kematian sebagai keberpisahan manusia dengan dunia dan segala isinya. Sesungguhnya, orang yang menghadapi maut, nyawanya sudah berada di kerongkongan, ingin melepaskan dunia yang telah membebaninya.

Kematian adalah kembalinya manusia kepada Allah Swt. Ketika itulah setiap mahluk dipandu menuju sisi-Nya. Seorang wali suci, Sayidina Ja’far Shadiq berkata, “Manusia dicipta dari unsur dunia dan akhirat. Bila Allah menggabungkan keduanya, maka ia hidup di atas bumi. Bukankah (semula) ia turun dari langit menuju dunia. Bila Allah memisahkan keduanya, maka peristiwa itulah yang dinamakan kematian yang mengembalikan unsur akhirat ke langit (tempat asalnya). Kemudian, kehidupan berlangsung di bumi dan kematian berlangsung di langit. Ketika ruh dipisahkan dengan jasad, ruh kembali ke alam kudus dan jasad tinggal di dunia, karena ia merupakan unsur duniawi.”

783489_frame

Kemudian, “maut” akan mendata setiap dari kita untuk diajak berwisata demi menyegarkan kembali ke-mahluk-an kita. Kapan waktunya, tunggu tanggal mainnya. Kita, cepat atau lambat, sadar atau tidak, siap atau tidak siap, sehat atau sakit pasti disapa oleh maut.

Ketika maut sudah menyapa kita, ia tidak berbuat seperti penjaga malam yang ronda di sekitar rumah kita. Ia tidak hanya menundukkan kepala sambil menyapa, “Selamat malam, pak.” Atau, “Selamat malam, bu.” Kemudian berlalu pergi setelah menabuh tiang listrik di depan rumah kita sekedar untuk menunjukkan kesiagaannya.

Tapi maut akan mampir dan melakukan inspeksi dadakan. Tak peduli, pintu rumah sudah digembok atau belum, maut akan nyelonong bersama dua bodyguard-nya. Maut hanya mau kita yang melihatnya, meski mungkin ada banyak orang di sekitar kita.

Ketika itu dada kita berdegub kencang. Akal kita buntu. Jika telah mempersiapkan bekal untuk perjalanan wisata ke alam lain, mungkin kita akan tersenyum menyambut dua bodyguard maut itu, meski kita tidak pernah kenal sebelumnya.

Tak ayal, malaikat maut dengan caranya sendiri pasti mencabut ruh atau nyawa kita. Ketika itu kita akan menyaksikan nyawa kita tercerabut perlahan. Tiba-tiba jari-jari kaki kita tak bisa digerakkan lagi. Kemudian betis dan paha kita mati rasa. Selanjutnya perut kita rasakan tak berfungsi. Jantung tiba-tiba melemah denyutnya. Kerongkongan kita mendengkur.

Allah yang menggenggam nyawa (seseorang) ketika (tiba saat) kematiannya.[8]

Katakanlah, “Kamu akan diwafatkan oleh malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu dan akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhan-mu kamu akan dikembalikan.[9]

Berikutnya, kita saksikan jantung kita sama sekali berhenti detaknya. Mungkin mata kita terbelalak ketika itu, mungkin juga pejam. Apakah mulut kita menganga atau menutup ketika itu, semua orang di sekitar kita yang tahu. Pasti kita dapati tubuh kita membiru, dingin dan kaku. Saksikan, saat itu tak satupun anggota tubuh kita yang bisa bergerak lagi.

Kita melihat mereka yang mencintai kita, menangis. Air mata tumpah ruah. Ada yang menjerit histeris. Ada pula yang sesenggukan. Ada yang memukul-mukul dada dan kepala. Ada yang merangkul saudara, anak atau orang tua kita untuk menenangkan. Tapi mereka tak dapat berbuat apa-apa. Mereka semua hanya bisa dan dipaksa rela.

Kemudian kita saksikan orang-orang berdatangan memadati rumah kita. Duka menyelimuti seluruh ruangan. Telinga kita mendengar orang-orang membaca tahlil, surah Yasin dan titah-titah Tuhan yang lain. Kita terhenyak, saat corong di masjid atau mushalla dekat rumah, menyebut nama kita dengan didahului kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia, fulan/fulanah bin/binti fulan.”

Satu persatu kita ikuti, detik-detik itu tak terlewat dari pengamatan kita; saat baju kita ditanggalkan, saat celana kita dilepaskan, saat seluruh perhiasan kita dicopot. Dan kita telanjang!

Kemudian selembar kain diselimutkan sejak ujung kaki hingga menutupi seluruh kepala kita. Kita diusung dari ranjang menuju tempat pemandian terakhir. Kalimat tahlil terus terlantun, mengalun seirama gayung berisi air dan kembang. Satu persatu anggota tubuh kita dibilas.

Kalimat tahlil masih mengalun. Mengantar kita untuk berbaring di helaian kain putih yang terbentang rapi. Kita dibaringkan. Kaki kita dirapatkan. Mata dan seluruh lubang; hidung, telinga, kelamin kita disumpal kapas. Kain putih itu kemudian membalut seluruh tubuh kita.

Kita saksikan ada orang-orang di sisi kita. Mereka berdiri membentuk shaf. Mengumandangkan takbir. Mereka shalat di sisi kita. Tanpa rukuk. Tanpa sujud. Shalat berdiri tanpa duduk.

Lalu dengan tangan tiga orang; seorang memegang kepala kita, seorang memegang pinggang kita, seorang memegang kaki dan menggendong kita. Mereka letakkan jasad kita ke dalam keranda. Setelah menutupnya dengan kain, mereka gotong keranda yang berisi jasad kita.

Kalimat tahlil terus mengalun. Itulah kereta yang menggunakan 4 roda berwujud manusia. Keranda kita diusung menuju kuburan. Kita tak bisa protes. Kita hanya menyaksikan tanpa bisa berbuat apa-apa.

Orang-orang menyertai di belakang kita. Mereka berjalan sambil terus melantunkan kalimat tahlil.

Di kuburan, kalimat tahlil terus berkumandang. Kita saksikan keranda kita mendarat di mulut liang lahat. Lalu kita dientas dari dalam keranda. Kita terkejut, lubang itu bahkan tak seluas kamar kita. Hanya seukuran 1 X 2 M. Lubang itu tidak terlalu dalam. Hanya seukuran pundak orang dewasa.

Tak ada yang bisa kita lakukan. Kita dipaksa pasrah. Kita tak bisa berontak saat tiga orang di dalam liang lahat menangkap jasad kita. Kita dibenamkan di sana. Simpul ikatan kain di kepala, perut dan kaki kita dilepas. Dihadapkan wajah kita ke arah Ka’bah. Pipi kanan dan hidung kita menempel di tanah.

Kalimat tahlil tak lagi diujarkan ketika seseorang mengumandangkan azan tepat di sebelah telinga kiri kita. Bacaan talqin diperdengarkan ke telinga kita. Kita diberitahu untuk terakhir kalinya. Siapa Tuhan kita. Siapa Nabi dan Imam kita. Apa kitab kita. Sungguh, kita pasti mendengarnya.

Kemudian ketiga orang itu berdiri dan beranjak ke luar dari liang lahat. Satu per satu papan-papan menutupi jasad hingga tak tersisa lagi ruang untuk cahaya menembus dan menerangi kita. Tiba-tiba gelap dan semakin gelap ketika orang-orang menimbun liang lahat kita dengan tanah. Dua orang menancapkan nisan di atas kepala dan kaki kita. Tertulis di situ, nama, tanggal lahir dan kematian kita.

Gundukan tanah yang menindih kita disiram air kembang. Kita benar-benar sendiri. Di ruang sempit yang gelap. Di perut bumi, kita hanya berkawan kain kafan. Satu persatu mereka meninggalkan kita. Tiada lagi sanak saudara, anak, kerabat dan sahabat. Mereka pergi. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Hari demi hari berlalu, kita semakin tak berdaya ketika melihat jasad kita membusuk. Kita melihat perut kita membesar, kemudian terdengar letusan kecil. Dari lambung kita yang sudah busuk keluar belatung-belatung. Mata kita meleleh. Otak kita melepuh dan digerogoti bakteri-bakteri kecil. Seluruh onggokan daging yang menempel di tulang-tulang kita berubah menjadi ulat-ulat kecil dan belatung.

Bulan berlalu berganti tahun. Kita saksikan jasad kita hanya tinggal tulang dan rambut. Setahun, sewindu, seabad, entah berapa lama kita menjadi saksi ketika jasad kita tak tersisa sama sekali. Tapi kita masih menyaksikan sesuatu yang lain dari tempat kita, ketika kita masih bisa tertawa dan berkomunikasi dengan sesama.

Ternyata dia yang mati itu jasad kita. Bahkan kita sendiri menjadi saksi, jasad kita berubah fungsi sebagai belatung dan ulat-ulat kecil. Ternyata ruhani kita tidak mati. Ternyata, ada kehidupan kedua!


[1] QS. Al-Ankabut: 57

[2] QS. Al-AhQaf: 3

[3] QS. Saba’: 30

[4] QS. Al-An-Am: 2

[5] Kata-kata Mutiara Ali bin Abi Thalib, Pustaka Hidayah.

[6] QS. Qaf: 19

[7] QS. Al-Qiyamah: 26-30

[8] QS. Az-Zumar: 42

[9] QS. As-Sajdah: 11



Aksi

Information

42 responses

4 12 2008
Daniar

tulisan ini bagus, bahkan menurut p tino sidin sekalipun. deridda memprotes silogisme dan minta untuk dikubur di sisi makam aristo. saya katakan kepada siapa saja yang sepakat dengan pikiran ini, untuk menulis konsep silogisme di kain kafannya agar bisa menjawab beberapa pertanyaan malaikat.
silogisme itu memeliki dua unsur, unsur forma dan terma. yang diprotes oleh deridda itu terma atau materi silogisme, bukan formanya. bila materi silogisme yang diprotes maka harus dikembalikan kepada disiplin keilmuan yang lain di luar ilmu logika.
al-qur’an mengatakan; tiap2 nyawa akan merasakn mati.disini jelas sekali, betapa al’qur’an tetap mengunakan salah satu dari silogisme itu.
selain itu, metode yang digunakan deridda untuk mengubur silogisme aristo tersebut berangkat dari cara berpikir induktif. mestinya dia harus berpikir bahwa metode berpikir induktif itu tidak akan pernah bisa menyentuh konklusi yang komprehensif, kecuali diarea yang terbatas.apakah orang yang berpikir induktif itu tau ujung alam ini? introspeksi diri donk!

12 12 2008
anwararis

Daniar oh Daniar. Kapan ngundang makan lagi?

15 12 2008
Malaikat Maut

Wahai Daniar, jangan kaku-kaku amat soal ini. Kematian dan pikiran tentangnya bukan hegemoni ahli pikir kaku kayak kamu. Tapi juga kalangan sastrawan yang mencoba mengotak-atiknya secara puitik. Ada misteri yang terhampar dalam kematian dan itu tidak semuanya bisa diobok-obok rumus-rumus intelek. Fenomena kematian berikut meisterinya lebih mengena bila dihamipiri dan dieksplanasi lewat bahasa puitis ketimbang bahasa nalar yang kekar-kekar itu.

15 12 2008
Malaikat Maut

Daniar memang kaku, sekaku tukang ajar logika tradisional. Ada misteri terhampar dalam kematian dan tidak semua bahasa nalar sanggup menangkap dan mengekspresikannya. Takik-takik logika sekolahan dan sorogan, coba dicairkan lagi deh supaya lebih elegan dan up to date, gitu loh. Dan terbenamlah dalam telaga sastrawi supaya jiwa lebih puitis dan peka pada misteri yang bersembunyi dalam gelap nalar.

anwar aris: Rupanya ini komentar seorang jawara! Ada makna yang tak didapati apalagi bisa diselami nalar. Puisi mampu menyapa dan mengakrabi metanarasi. Malaikat maut, teng kyu ya. Sering-sering kunjungi bahkan jika mau, berkontribusi di Republik Anarki, gitu!

16 12 2008
Daniar

salam..hehehe..malaikat maut, logika ingin sekali bermesraan denga anda. dalam dunia filsafat, khususnya “timur” dunia sastra sering mengurai logika dan logika tidak pernah keberatan, tubuhnya dijamah para sastrawan bahkan sering kali logika merindukan pelukan,desahan dan bisikan-bisikan puitik yang terlontar dari lorong-lorong sastra. menurut saya, logika tidak pernah menganggap sastra sebagai musuh bebuyutan, bahkan tubuh logika itu menjadi keras seperti baja karena sangat merindukan tangan sastra yang lembut dan menenanangkan.

16 12 2008
Daniar

+ kadang dunia sastra sering meminta bantuan logika agar sebagian manusia yang mati rasa memahami, mengerti, merasakan dan menyaksikan keindahan dunia sastra.
sekarang siapakah yang kaku???

anwar aris: Dua jawara sedang melepas jurus masing-masing. Saya semakin mendapat ilmu!

16 12 2008
trixi

Rupanya pemilik blog sedang mengambil manfaat dari pertarungan ini secara gratisan…😛
Lagian
Aneh….yg satu ngomong sastra…yg satu lagi ngomong logika….keduanya bisa berdiri sendiri2….gak harus dipertentangkan.
Kalau mau komen logika, ya jangan pake sastra dong, api pake logika
Analoginya… Darwin membantah Newton atas teori gravitasinya dengan menggunakan pendekatan biologi. Mau cari konklusi apa dari situ?

anwar aris: Menurutku ga aneh pak. Sastra dan logika berjalin berkelindan. Seperti sastra, logika itu mengagungkan kaidah bahasa. Sastra tanpa logika akan tersesat. Logika tanpa sastra akan kering dari makna. hehehe🙂

17 12 2008
Daniar

sepertinya pak aris belum memahami maksud njid trixi dech. tapi bagus-bagus aja. hehehe

anwar aris: sejak semula, antara sastra dengan logika tidak dipertentangkan di sini. Apalagi disebut “keduanya bisa berdiri sendiri2…” Karenanya, saya mengulas kematian dalam nalar puitik. Setelah Daniar menulis ini, lalu siapa yang ketahuan belum memahami?

20 12 2008
Malaikat Maut

Hehehe daniar ini cuma berpuisi bukan bernalar puitik. Terlalu ketahuan kalau anda ini memang begitu memuja logika. Cukup panjang sejarah logika menaklukan dan membungkam puisi. Mereka tak pernah minta bantuan PBB untuk mendamaikan masing-masing. Dimulai jauh sampai ke abad Yunani kuno, di mana Apollo telah menjadi logos yang memerangkap manusia sehingga mengandaikan selamanya “harus pake logika”. Padahal semangat dinosian juga punya keistimewaan loh, ya semangat chaos itu. Sementara sosok apollonian itu metafor yang tertib, disiplin, ajeg, pasti, a+b=c, tapi ndak pernah ekstase ke dunia imaji yang kaya inspirasi dan “liar” tapi kreatif: dan itulah sang dinosian, kakek moyang puisi. Kalo puisi yang tunduk pada asas-asas logika, cuma tampilannya doang puisi, tapi semangatnya logika.

21 12 2008
Malaikat Maut

Buat Trixi, justru anda yang aneh, ndak ngerti kok komentar. Anda kayaknya cuma punya wawasan secuil, itupun dari buku kuliahan yang dihapal sambil ngantuk2. Hehehehe, moga2 dianggap becanda. Dalam literatur filsafat serta perdebatan literer (kesusastraan), yang namanya logika itu musuh utama puisi sejak lama, malah sejak nenek moyang anda belum lahir.

21 12 2008
Malaikat Maut

Tambahan komentar untuk daniar dan trixi, jangan terlalu positivistik ah, juga tanggapannya trixi yang nggak sadar menggunakan logika dalam meng”aneh”kan perdebatan ini.

21 12 2008
Malaikat Maut

Menurut aturannya, bukan muhrim ndak boleh saling bersentuhan apalagi saling meraba, memeluk lebih lagi (natr kena pasal pronografi loh), nah itulah logika dan puisi.

21 12 2008
rama

uffs… dahsyat… menunggu komentar berikutnya

21 12 2008
Malaikat Maut

Lagi buat Trixi, logikanya aja masih awut2an, eh berlagak mau pake jurus logika, belajar dulu yang bener, jangan asal nemplok istilah logika aja, contoh yang kamu buat nggak nyambung, kayak jaka sembung. Biologi itu dikategorikan sebagai ilmu alam, sebagaimana juga ilmu fisika, yang paradigma, metodologi, dan embel2nya mirip dan kongruen. Dan bla bla bla. Belajar lagi ya, khususnya belajar berpikir yang benar, ini nasihat tulus loh buat kamu yang kayaknya agak bermasalah dengan isi dan cara pikirnya.🙂

22 12 2008
Trixi

Hahahahahahaha
maaf ya
saya kurang menganggap serius Anda…:D

22 12 2008
Daniar

ruame euy..eh malaikat maut, tanggapannya banyak banget, sampai bingung mo jawab yang mana dulu. pasti di gudang(“otak”) kamu tersimpan jutaan informasi.
levelku emang masih di dunia logika ko’,sebab “mata”ku emang masih buta. tapi aku masih lebih baik dari pada kamu. karena aku mengakui kreatifitas dunia puisi, sementara kamu? kamu ini terlalu suram dan seram memandang wajah logika. tapi aku maklumi, mungkin kamu punya sejarah kelam dengan “logika”.
tanpa sadar, kamu telah mempermalukan diri kamu sendiri dengan melakukan argumentasi untuk menyadarkan atau mungkinn menjatuhkan aku.
aku hanya sarankan ke kamu untuk bercerita saja,dan jangan berargumentasi!

22 12 2008
Daniar

ok, segitu saja… hehe

22 12 2008
malaikat maut

:-)) ok buat daniar, tapi trixi tetep harus banyak belajar ya nak…

22 12 2008
malaikat maut

tapi daniar, kok sampai bilang jangan berargumentasi? tapi kalau itu mau kamu, aku sich oke-oke aja

22 12 2008
Trixi

Siap pak malaikat maut!!
saya akan tetap belajar…
Trims😀

anwar aris: saya juga. kita belajar bersama yuk…

22 12 2008
Theos

Sastra dan logika bertentangan dan Malaikat Maut telah membuktikannya melalui logika. Trims, saya sudah belajar banyak dari blog ini.

23 12 2008
malaikat maut

ini lagi lebih aneh, memaksa “lukisan konflik” keduanya dalam skema logika, coba cermati lagi, apa memang begitu, wahai Thermos, eh Theos, dan jelaskan “menurut logika” kamu

24 12 2008
Daniar

berbahagialah seseorang bila “realitas” menyingkapkan diri di hadapanya. dengan begitu, kreasi dan kebijakannya akan banyak bermanfaat bagi tatanan sosial. tapi bila realitas belum juga berkunjung datang, maka janganlah kau berputus asa, karena kamu masih bisa merabanya dengan tongkat logika. apapun dimensinya, kebenaran adalah tujuan, maka berjuanglah tuk menemuinya.
bahasa hati memang berbeda dengan bahasa logika. tapi percayalah, keduanya tidak pernah bertentangan.
kuingatkan, bila dunia konsep tak mampu menampuganya, maka jangan coba-coba kau menggapainya dengan tongkat logika.

25 12 2008
malaikat maut

tak ada yang menentangkan keduanya, kecuali historisitas keduanya selalu saling menuding dan “nalar logis” yang kekar, maskulin, berat, dan tebal punya kecenderungan ingin selalu superior, “berkuasa”, dan meminggirkan atau mengecilkan “nalar puitik” yang lincah, anggun, seksi, dan ramping.

25 12 2008
malaikat maut

tak ada yang menentangkan an sich keduanya, kecuali diakui bahwa keduanya punya ranah masing-masing, namun historisitas keduanya selalu saling menuding dan “nalar logis” yang kekar, maskulin, berat, dan tebal punya kecenderungan ingin selalu superior, “berkuasa”, dan meminggirkan atau mengecilkan “nalar puitik” yang lincah, anggun, seksi, dan ramping.

26 12 2008
daniar

rupanya malaikat maut sudah mulai sadar. atau mungkin udah mengerti dunia manusia. selamat datang di dunia nyata.

29 12 2008
malaikat maut

dunia manusia semisterius puisi, bukan logika yang selalu “ingin tahu”, tertib, disiplin, mekanis, rigid, dan itulah dunia robot! selamat tidur daniar, di dunia robot

2 01 2009
daniar

jangan sok bernalar puitik ahc, kalau ngejawabnya masih pakek cari-cari info di alam konsep. inilah kejujuran realitas logis. mana kebijakan intuitifnya?

6 01 2009
malaikat maut

hahahaha daniar daniar, konsep itu bukan cuma hegemoni logika, malah logika itu “budak konsep” sementara puisi adalah kekasihnya yang paling hangat, genit, dan mesra…

6 01 2009
Malaikat Jahannam

Yang pasti,
materi akan musnah, dipaksa oleh rejim termodinamika
Semua kebanggaan yang dibangun atas materi akan hilang, seperti debu yang ditiup angin.
jiwa-jiwa arogan akan bersimpuh di hadapan Sang Maha Mutlak
dan apa yang abadi hanyalah Wajah-Nya yang Abadi.
Maka tiap-tiap manusia akan dikembalikan ke apa yang layak bagi mereka.
Tidak ada lagi kebanggaan
Tidak ada lagi pertentangan
Tidak ada lagi argumen
semuanya tunduk di hadapan-Nya.
Tulisan yang indah….selamat

7 01 2009
malaikat maut

Ya jelas, nggak usah marah2, kalo bicara Tuhan semua the end, tapi yang sangat sulit, ya mengaku kalau argumen kita yang kita anggap sudah selesai, hebat, sekeras tengkorak kepala, eh meleleh begitu saja karena sedikit dicolek ide alternatif… cape deh

7 01 2009
Daniar

kalau mau ber amr ma’ruf nahi mungkar, sebaiknya pake’ cara yang lembut dulu. kalao g bisa, baru pake cara kasar.
“budak konsep”, g bisa pilih kata yang lebih etis, atau karakter situ emang kasar?
situ hanya pandai berasumsi atau lebih tepatnya hanya bisa mengklaim.
saya tahu diri, bahwa saya belum bisa menjadi penduduk “negri puitis”. tapi saya yakin “negri” tersebut juga tidak bahagia mendapat pendukung seperti anda.
selamat berintrospeksi

7 01 2009
Daniar

“logika” itu tegas lo, adapun kasar dan lembut, itu hanyalah konsekuensinya.
saya hanya seorang pengharap yang ingin menjadi pengguna logika yang bijak.

9 01 2009
Malaikat Jahannam

aneh…..semua disambernya.
Padahal comment ini sepenuhnya saya tujukan ke artikel awal.
perihal diskusi Anda di halaman ini, saya tidak hendak mengikuti, mengomentari, atau apa pun karena saya tidak mengerti apa yang Anda dan rekan diskusi Anda (yaitu Sdr. Daniar) katakan.

9 01 2009
malaikat maut

kali ini, priiiiit, daniar udah anjlok dari rel perdebatan dan menyerah–tapi dengan satu tekad, harus galak supaya nggak keliatan pecundang! nyampur aduk antara “rasa bahasa” dengan “bahasa sebagai pikiran”. bidikan ane ke jantung logika jelas jitu dong. darimana logika bisa “hidup” kalo bukan dari konsep2 yang dirajut dari bahasa verbal? hayo, coba darimana? sedangkan nalar puitik “memahami diri” tidak selamanya pake bahasa verbal. adapun bentuk verbal nalar puitik, seperti teks puisi, adalah ekspresinya. logika lahir dan bergantung pada konsep, nalar puitik justru melahirkan dalam dirinya konsep-konsep yang menjadi nyawa logika (dalam konsep ada bahasa, aturan, gambaran, titik-koma, dll). nalar logis juga nggak pernah bersentuhan dengan realitas, kecuali hanya mengabstraksinya. sementara nalar puitik malah memadu kasih mesra dengan realitas itu sendiri.

9 01 2009
Trixi

wuihh…dahsyat malaikat maut…:)
jangan galak2 dong pak, ane di mari pun pengen belajar…
sebenernya dari awal udah dibilang kalau logika mempunyai keterbatasan. Nalar puitis mampu menyelaminya dengan lebih bagus. That’s one point… (dan kembali ke kata gw di awal….sastra –atau nalar puitik?–bisa berdiri di pihak yang tidak berseberangan dengan logika silogisme…sayang saja malaikat maut langsung menyerang gw seakan-akan gw “positivistik” dan telah ada di satu sisi)
ada satu poin positif yang bagus dibawa malaikat maut, bahwa logika hidup dari konsep2 yang dirajut bahasa verbal.

Saya hanya ingin bertanya…jadi menurut malaikat maut logika dan sastra selalu bertentangan?
Tapi di sisi lain, dibilang kalau logika hanya hidup dari alam verbal. Sastra pun hidup dari alam verbal, bukan begitu?
Jadi, tolong jelaskan bagaimana bentuk pertentangannya…trims

9 01 2009
gandalf

jadi…
kesimpulannya,
logika perlu nalar puitik, dan nalar puitik gak perlu logika, begitukah?

9 01 2009
gandalf

lalu karena itu,
nalar puitik lebih superior dari logika?

9 01 2009
gandalf

selamat,
Anda telah berlogika kalau begitu

9 01 2009
gandalf

Anda tampak sebagai orang yang lebih perhatian ke logika dari pada rasa verbal…tampak dari pilihan bahasa yang Anda gunakan (Pecundang, budak, dan gaya bahasa Anda yang lainnya)

12 01 2009
Daniar

ok.. malaikat maut, anda menang, saya, daniar yang kalah.
semoga anda bisa tidur dengan nyenyak.

16 03 2010
Abdullatif Hasbullah

“Paradigma” si pemengemis depan toko Attar itulah “saintia sacra” yang dalam tulisan “Kehendak Bebas Manusia” (dalam web ini) tidak terdeskripsikan. Tak ada “cita-rasa” kematian (yang dikehendaki) di sana. Si pengemis, tentu saja, telah mati sebelum nyawanya melayang. Dia telah tahu apa itu mati — sebagaimana dia kehendaki, sebagai manusia. Paradigma (mati sebelum mati) inilah yang gagal ditampilkan — untuk dicerap — dalam tulisan itu. Sayang.
Bandingkan, misalnya, dengan kutipan ini: Ya, keindahan kamu sepanjang makna tulisan ini, adalah “kamu” yang menerobos kehidupan ini-itu sehari-hari — hadir di jiwaku diseret waktu. Maka, dalam hal demikian ini, apalagi kiranya yang dapat dikatakan selain ucapan “Salam”? Berdamai pada kehidupan maupun kematian?, sebagaimana Ahmad Dhani nyanyikan: “… ucapkan salam / pada hidup dan mati”. (Abdullatif Hasbullah, “Kamu, Tubuh, dan Aku: Surat Ujung Malam”, dalam ronngolawe.org)

Anwar Aris: sobat, “dua jempol” untukmu. Tengkyu atas perbandingannya. Sebagai seni memaknai sesuatu, probabilitas “cita-rasa” selalu tak terduga kemunculannya, termasuk ketika memaknai dan merasakan tulisan. Karena itu pula cita-rasa dan independensi moral selalu gagal dinikmati jika ia hasil penjumlahan dari “iuran” bersama. Karena itu jalaludin Rumi dan Syaikh Nizhami memiliki cita-rasa yang banyak sebanyak penikmatnya. MEski begitu, keduanya memiliki moralitas yg mandiri sebagai penyair, pesuluk dan penempuh jalan manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: