Mengenang Ryan Si Anak Jalanan (1)

25 02 2009

anakjalanan1Jakarta Selatan Seminggu Lalu…

“Shalat, yuk! Kita kan belum shalat Ashar! Sebentar lagi waktu Maghrib tiba.” ajakku.

“Ntar dulu, kak! Tanggung, nih. Sebentar lagi hujan turun. Lihat, langit sudah gelap!” jawab Ryan.

“Kita tidak memiliki banyak waktu, Ryan!” tegasku.

Tanpa menoleh sedikit pun, Ryan bergegas meluncur menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah itu. Uku Lele berdawai empat yang digendongnya pun menjerit. Bibirnya lebih terkesan komat-kamit seolah membaca mantra. Suara parau itu ditindih deru debam knalpot berbagai merek kendaraan bermotor yang melintas dan berhenti di lampu merah Cilandak. Ryan tak peduli. Ia tetap bernyanyi sambil sesekali menunduk-nundukkan kepala berharap sekeping receh. Tak penting baginya, apakah suaranya terdengar atau tidak. Pengemudi sedan mewah itu hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa sedikitpun menoleh, Ryan pun segera beralih ke mobil di belakang sedan itu, terlihat kaca mobil itu terbuka, sekeping rupiah pun diterimanya.

Setelah lampu hijau menyala, berbagai merek kendaraan bermotor yang berhenti sejenak itu kembali melaju. Ryan pun menepi, kemudian duduk di trotoar. Sambil terus membunyikan gitarnya, matanya terus awas menyapu jalan di hadapannya. Ketika kuhampiri, dia melangkah santai ke seberang jalan pura-pura tak melihatku. Aku mengikutinya. Setelah aku berada tepat di sebelahnya, Ryan sengaja mengobrol dengan pedagang rokok asongan. Lelaki kecil kurus initak menghiraukan aku.

“Sebatang, bang!”

“Apa?” tanya pengasong itu.

Setelah menyebut merek rokok yang dikehendaki, Ryan meminjam korek dan menyulut rokoknya. Tak lama berselang, hujan deras mengguyur kami dan seluruh benda yang ada di sekitar lampu merah Cilandak. Kami pun bergegas mencari tempat berteduh. Di depan sebuah toko bangunan yang tutup, kami menghindari air hujan yang deras.

“Yuk, kita shalat di masjid itu!” ajakku sekali lagi.

“Hari ini, kakak benar-benar menyebalkan. Apa kakak nggak ada pekerjaan lain? Aku ini lagi kerja! Sejak selepas Dhuhur, kakak nongkrongin aku terus. Aku harus dapet duit hari ini. Gara-gara kakak, sampai sore ini aku hanya mengantongi lima ribu perak!” Ungkapan pedas Ryan mencecarku, sekeras gemuruh petir yang tak henti-henti menyambar mengeluarkan kilatan listrik sore itu.

Aku terdiam sejenak. Setelah menyulut rokok, kurangkul bahu Ryan. Kami saling diam beberapa saat. Kemudian Ryan duduk, memeluk kedua lutut dan gitar kecilnya dengan kedua tangannya. Aku pun duduk di sebelahnya.

“Ryan, bukankah kita sudah terbiasa mengerjakan shalat?” aku membuka pembicaraan lagi.

“Kak, aku terbiasa mengerjakan shalat sejak kakak sering menceramahi aku, sebelumnya aku hanya ngamen dan aku tidak tahu bahkan tak mau tahu tentang shalat. Sekarang aku nggak mau shalat lagi!”

“Lho, kok begitu. Bukankah shalat itu kewajiban bagi kita!”

“Bukan kita, tapi kewajiban untuk kakak! Shalat itu penting buat kakak, bukan aku! Bukan aku… Bukan Aku!” Ryan berteriak sambil bergegas berdiri memeloti aku, kemudian berlari menerjang hujan, mengejar lalu naik Koantas Bima yang melaju perlahan. Ryan berlalu meninggalkan aku yang tidak siap mendengar ungkapan-ungkapannya.

Melihat tingkahnya, mendengar jawabannya, aku terhenyak. Seolah terhenti detak jantungku. Kurasakan bumi seolah berputar cepat. Meski hujan membawa hawa dingin, namun wajahku berkeringat. Aku tak tahu harus berbuat apa, sementara bus kota yang ditumpangi Ryan sudah tak terlihat lagi. Aku termangu membisu beberapa saat hingga seseorang menepuk pundakku, menyapaku untuk meminjam korek api.

Lampu-lampu jalanan dan kendaraan sudah menyala. Hari sudah petang. Hujan masih mengguyur deras. Kemudian aku menuju tempat parkir sebuah apotik yang terletak tak jauh dari lampu merah Cilandak. Setelah membayar uang parkir, aku tarik pedal gas motorku untuk pulang.

Mengenang Lampu Merah Cilandak sore itu, mengiangkan kembali teriakan Ryan di telingaku.


Aksi

Information

3 responses

26 02 2009
Eja Assagaf

Insya Allah Ryan akan kembali Sholat sobatku…🙂

Anwar Aris: Sobat, aku bersaksi, demi Tuhan yang jadikan aku berada, Ryan telah menggedor pintu kesadaranku, agar aku tahu: selama ini aku belum menegakkan shalat! Aku hanya senam di tempat, tak ubahnya Yoga dan senam pernafasan. Sobatku Eja, denting dawai Uku Lele Ryan teramat merdu di telingaku, juga senandung lagunya, “menampar” telingaku: selama ini hanya kuujar ayat Tuhan, ia tak kugubah menjadi gerak dalam setiap gerakku!

27 02 2009
WORLEWOR

Sosok Ryan kecil bisa saja mewakili dari anak tetangga kita, anak teman kita, anak saudara kita, anak keponakan kita dan akan lebih miris lagi kalau anak kita? Pedulikah kita kepada Ryan? Bagaimana seandainya ‘nyanyian’ protes itu terucap dari anak kita? Ryan adalah ‘kitab’ yang menjadi rujukan kita semua untuk pembelajaran bahwa hidup ini berat. Kita yang dari kecil sudah hidup nyaman bangun tidur di sambut dengan kehangatan kasih sayang orang tua kita, tapi terkadang kita masih ‘angkuh’ enggan untuk melaksanakan shalat. Bukan karena kita sibuk untuk mengamen mencari selembar ribuan, bukan karena kita sibuk meneriakan suara parau dengan instrumen usang. Kita ‘angkuh’ enggan untuk sholat karena kita sibuk me’Liar’kan ego dan nafsu kita. Jangankan peduli kepada Ryan, kita pun tidak peduli akan diri kita. Rendahkan diri, buang ego/nafsu pedulilah akan tubuh usang penuh dosa ini perbaiki dan belajar banyak dari kitab yang bernama ‘Ryan’. (Insya Allah Ryan mendapat Hidayah).

Anwar Aris: Pernah kubaca sekalimat Firman-Nya: Aku tidak mewajibkan sesuatupun kepada hamba-Ku apa yang tak diketahui-Nya…
Sobatku WORLEWOR, Ryan telah mengajari kita… betapa shalat yang selama ini kita (mungkin tepatnya saya) kerjakan tak mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik. Kegelisahan: kita (tepatnya saya) belum menegakkan shalat. Kita hanya melihat ada “wajah” Tuhan dalam sajadah semata. Di wajah Ryan, tak mampu kita lihat, bahkan Tuhan menyungging senyum dibibir bocah pengamen itu.

21 03 2009
manfreda

“Bukan kita, tapi kewajiban untuk kakak! Shalat itu penting buat kakak, bukan aku! Bukan aku… Bukan Aku!”

Dalam menjalani kerasnya hidup, saya yakin tidak hanya Ryan yang bisa memuntahkan kata-kata seperti itu. Yang tanpa editor muncul dari alam bawah sadarnya dan mengalir begitu polos saya kira. Dari realita semacam itu, sayapun juga kembali berfikir, masihkan kita memaknai shalat hanya dengan senam ditempat dan berlindung di masjid saja, apa tanggungjawab kita sebagai makhluk yang dihidupkan oleh Tuhan melihat kondisi diluar sana? Terima kasih bung Aris bisa share ceritanya. Tapi omong-omong cerita 2 nya kapan ya di posting. Saya menunggu refleksi penulis dari pengalamannya tersebut. Akhir paragraf membuat orang penasaran.

Anwar Aris: KEmbali kasih Manfreda. Cerita ke 2 “Mengenang Ryan Si Anak Jalanan” segera menyusul. Mari bersama, kita refleksikan shalat dalam makna sebenarnya: bertenaga, mencerahkan dan menggerakkan setiap pelaku untuk imun lalu mencabar setiap pembodoh dan pembodohan, pemiskin dan pemiskinan, koruptor dan semua bentuk thagut di manapun mereka berada. Terimakasih atas komenmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: