Tragedi Situ Gintung, Bukan Kebiadaban Tuhan!

28 03 2009

Sore ini kulihat di TV, seorang kontributor ber-mak up tebal memegang mic di tengah genangan air, Dramatis: “Pemirsa, sekali lagi, bangsa Indonesia mendapat ujian hebat! Seorang ibu muda menangis lunglai menerima kenyataan anaknya yang berusia 3 tahun diminta Tuhan yang sedang menguji warga Cirendeue dan sekitarnya dengan bencana Tanggul Situ Gintung…”

Jumat, 27 Maret 2009 dini hari, tanggul Situ Gintung di Tangerang Selatan jebol. Penampung air raksasa peninggalan penjajah Belanda yang berfungsi sejak 1930an itu meluberkan air, melibas warga, rumah, masjid, kambing, ayam dan seluruh benda yang bertengger di dataran sekitarnya yang lebih rendah.

Bagiku, bukan Tuhan yang mencipta bencana. Bukan. Sekali lagi bukan! Akal dan nuraniku berkata, “Tuhan tak biadab. Apalagi menimpakan musibah bagi mahluk-Nya secara acak, semacam tragedi Situ Gintung!”

Bagiku pejabat Republik Indonesia, khususnya yang sedang duduk di lembaga Eksekutif. Walikota dan Gubernur setempat, bahkan Menteri yang terkait, juga Presiden yang “menguji” warga di daerah itu. Bagiku kita juga harus bertanggung jawab.

Sama seperti banjir yang melanda kota-kota dan desa di Republik Indonesia yang kita cintai ini, bencana Situ Gintung akibat kelengahan, bahkan kecerobohan kita semua. Siapa yang harus merawat Tanggul Situ Gintung? Pemerintah atau rakyat sekitar? Atau keduanya? Jawabnya ada di otak dan nurani kita masing-masing.

Telah ratusan tahun negeri Belanda berdiri kokoh di bawah permukaan laut. Tapi, tanggul yang dibuatnya hingga detik ini tak merenggut nyawa warganya.

Tragedi Situ Gintung murni kelalaian kita: pemerintah dan rakyat Indonesia. Karena, Tuhan mencipta takdir sesuai dengan sebabnya masing-masing. Takdir membutuhkan “sebab-sebab” untuk sebuah peristiwa bisa terjadi: inilah ketentuan Tuhan, inilah hukum Tuhan, inilah hukum Universal, berlaku bagi siapa saja dan apa saja. Karena itulah Tuhan menyandang sifat adil.


Aksi

Information

12 responses

28 03 2009
asri

segala yg bersebabb akan ada akibat…………
manusia telah berulah…..
manusia telah banyak lalai……..
oleh sebab itulah timbul akibat yg tertuai…………..

30 03 2009
WORLEWOR

Dengan enteng beberapa pejabat terkait saat di tanya Sby menjawab, “……dikarenakan curah hujan yang beberapa hari lalu cukup lebat maka…………!!!!” saat pejabat lain di tanya jawabannya adalah “…….dikarenakan pendangkalan waduk dan curah hujan yang lebat…..!!!!!” dan dengan ‘lucunya’ 2 gubernur dari 2 wilayah saling tuding dan ‘ngeles’ berkata “…Itu bukan tanggung jawab kami sebagai ‘penguasa’ jakarta….” dan di bantah dengan kemayu “…eeeee…kita sebenarnya sudah laporkan ke pusat…..!!!. SEDANGKAN menurut warga sekitar yang selamat, tanda-tanda ketidak beresan tanggul ini sudah dilaporkan jauh 2 tahun lalu dan hanya menjadi kertas usang di arsip pemda terkait, Jadi jelas di sini nyawa warga di sekitar tanggul situ gintung adalah menjadi ‘bola lemparan’ pejabat di negeri ini. Lucunya lagi dengan ‘asyik’ beberapa parpol membangun poskonya penuh dgn embel-embel atribut kampanye. Tak adakah Parpol yang tulus membantu korban bencana? Kepada siapa kita bertanya? Tidak ada lagi rumput bergoyang di Cireundeu yang bisa kita tanya, rumput itu terkubur bersama puluhan korban yang belum di ketemukan. Insya Allah para korban beristirahat dengan tenang, tabahlah saudaraku ini bukan akhir dari segalanya Allah swt maha Rahman dan Rahim.

anwar aris: … mari kita pejamkan mata sambil berucap perlahan, “Itulah Indonesia….!”

30 03 2009
anwar aris

Komentar di bawah ini: Bung Nirwan Ahmad Arsuka, Bung Ben Sohib, Saudari Afifah, Bung Sapardi Damono, Saudari Siti Djamila, Quito Riantori saya posting dari Facebook. Jadi beliau-beliau yang berkomentar di bawah ini, kemudian saya tanggapi, tidak comment langsung dari blog saya Republik Anarki ini. Hal ini saya lakukan dengan pertimbangan bahwa mungkin ada manfaat jika kita menilisiknya. Terima kasih dan mohon maaf.

30 03 2009
Nirwan Ahmad Arsuka

menyedihkan ya, bung, melihat “bencana ganda” ini: “bencana alam” dan terutama sekali “bencana iman” — sejumlah orang tampak begitu saleh dan religius, padahal mereka hakekatnya cuma sibuk “memfitnah Tuhan” … (pada 20:00 28 Maret)

anwar aris: (20:07 28 Maret) Benar. Bung Nirwan, “bencana ganda” istilah tepat.

30 03 2009
Nirwan Ahmad Arsuka

(pada 22:12 28 Maret)
kalau dipikir lagi, sebenarnya gak ada tuh “bencana alam”: ini penamaan yang sangat antroposentris … yang ada sebenarnya, bung betul, hanya “hukum alam” …

anwar aris: (pada 0:48 29 Maret) Bung Nirwan, hukum itu bisa disebut konsekwensi dari “ada”. Tanpa “wujud” berarti tanpa konsekwensi. termasuk hukum alam, kemunculannya karena keberadaan alam. Pelanggaran terhadap hukum alam, lazim karena ketaktahuan dan kesombongan mahluk (termasuk manusia) yang mencoba mencipta hukum bertentangan dengan konsekwensi keberadaan alam: jadilah itu bernama bencana!

30 03 2009
Nirwan Ahmad Arsuka

(pada 1:37 29 Maret)
dimaklumi! tanggung jawab dialihkan ke alam, disebut bencana alam. enak betul pengkambing-hitaman ini ya🙂
ini selalu sejalan dengan kesibukan memfitnah Tuhan itu …

makanya, dari sekarang, kita jangan lagi pakai kata “bencana alam” itu. katakan saja “bencana buatan manusia”. memang demikian yang terjadi kan?
mereka yang terus menerus menyebut kejadian-kejadian seperti ini sebagai “bencana alam” telah ikut mendorong pengalihan tanggung jawab pihak yang berwenang, dan ikut sibuk dalam kegiatan pembodohan masyarakat …

anwar aris: pada 1:43 29 Maret
Sepakat, bung Nirwan! Kesadaran keindonesiaan selanjutnya adalah: berantas koruptor, bukan korupsi! berantas pembodoh, bukan kebodohan! Berantas pemiskin, bukan kemiskinan! Karena itulah salah satu problem solving untuk bangsa yang ditaburi bencana berkali-kali ini!

30 03 2009
Meela Lala

pada 12:53 29 Maret
(pada 12:53 29 Maret)
Saya tidak setujubila peristiwa situ gintung dikatakan takdir tuhan, ya memeng paling gampang menyalahkan takdir. Buatku tuhan tidak sekejam itu pada umutnya, yg salah 100 persen ya manusia yg sdg berkuasa atau sdg menjabat,.Ada dana pemeliharaan imlyaran rupiah tiap tahun kemana dikau, .Tapi sayang korbannya selalu rakyat kecil.Cobalah kita renungkan sebelum menyalahkan takdir, takdir itu ditentukan oleh ulah manusianya.

anwar aris: (pada 13:17 29 Maret)
Meela… kita senada

30 03 2009
Ben Sohib

(pada 20:43 29 Maret)
kadang2 aku berpikir,kalau gejala alam yg merenggut korban manusia (baik dewasa maupun anak2) itu selalu dikaitkan dengan murka Tuhan, jadinya Tuhan kok mirip2 teroris gitu; gk pandang bulu dalam memilih korbannya.

anwar aris: (pada 22:18 29 Maret) Benar, ben. Tuhan tak pernah mengajarkan teologi horor! Karena Tuhan bukan teroris, maka Dia terlalu pandai untuk mengorbankan orang-orang tak berdosa, termasuk anak-anak.

30 03 2009
Sapardi Damono

(pada 22:50 29 Maret)
kapan pula manusia mampu mengelola ciptaan Tuhan seperti danau, misalnya? rumah saya persis di tepi danau itu…

anwar aris: (pada 22:55 29 Maret)
Pak Sapardi, bukankah mengelola itu sudah menjadi sifat manusia?

30 03 2009
Siti Djamila

pada 6:19 30 Maret
Takdir membutuhkan “sebab-sebab” untuk sebuah peristiwa bisa terjadi: inilah ketentuan Tuhan, inilah hukum Tuhan, inilah hukum Universal, berlaku bagi siapa saja dan apa saja. Karena itulah Tuhan menyandang sifat adil..
Setuju sekali dik…!!!!
Ini harus dicamkan…!!!

Anwar Aris: (pada 12:56 30 Maret)
Mbak Mila, sepakat, harus dicamkan. Tuhan mempercayakan kelangsungan alam raya ini melalui hukumNya; hukum Universal. Setiap upaya mencipta hukum yang menyempal dari hkm tersebut, maka pasti menuai derita (psikis maupun fisik). Setiap derita adalah “cubit sayang” Tuhan untuk mahluknya kembali ke kedalaman makna universalia yang memerdekakan.

30 03 2009
Quito Riantori

(pada 9:37 30 Maret)
Tentu saja Bencana2 di Indonesia ini karena tangan-tangan kotor manusia: para politisi bangsa. Bukankah 2 tahun lalu warga setempat sudah meminta pemerintah utk merenovasi tanggul yang sudah berusia 76 tahun itu? Bahkan sudah terlihat rembesan air dari tanggul tsb. Adalah kebodohan yang nyata menganggap bencana ini hanya sebatas geliat alam.”Telah … Baca Selengkapnyanampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali .” (QS 30:

Anwar Aris: (pada 12:56 30 Maret) Dahsyat! Geliat alam, semacam situ gintung dan lain-lain adalah cara alam memperbaiki dirinya; baik buat alam, derita buat manusia yang menanggungnya. Sebenarnya derita itu adalah “cubit sayang” Tuhan.

30 03 2009
Afifah Shihab

(pada 21:24 29 Maret)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (Assyuara-30)

Anwar Aris: Teng kyu Afifah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: