Mengenang Keberpalingan Sufi dari Mushallah

4 04 2009

Pernah saya baca syair seorang bijak bernama Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini. Petikannya:

Kan kutabuh lagi gendang Mansur
Akulah kebenaran (Ana Al-Haq)


Segera kutanggalkan jubah
Lalu berpaling dari mushalah

Menurut Asbabun Nuzul hikayat, syair Sang Bijak Suci itu lahir saat musibah menjelma sebagai para ulama yang menguarkan “ayat-ayat suci” untuk melanggengkan penjajahan semacam Rezim despotik 2000 tahun Syah Reza Pahlevi. Para ulama itu bersorban, lengkap dengan atribut jubah, bahkan mungkin senantiasa menggelindingkan butir-butir tasbih di jari-jari tangannya.

Mari kita tilik: Dua kebodohan akut yang dihantam oleh Sang Bijak Suci bernama Ruhullah Al-Khomaini itu. Pertama, melalui bait “Kan kutabuh lagi gendang Mansur // Akulah kebenaran.” Sang Bijak itu mendeklarasikan diri sebagai KEBENARAN, AL-HAQ, TUHAN; saya pahami Ruhullah Al-Khomaini memproklamasikan diri sebagai orang yang benar, orang yang menyandang sifat Tuhan, baik pemikiran, ujaran maupun tingkah lakunya. Artinya, orang yang pemikiran, ujaran dan tingkah lakunya tidak sejalan dengan Sang Bijak Suci itu berarti bukan pemihak, apalagi pelaku kebenaran, tentu mustahil. Hantaman ini dikhususkan bagi orang-orang yang mengaku atau menyandang gelar ulama. Mengapa para ulama? Karena ulama itu berdiam diri menyaksikan penindasan penguasa terhadap rakyat. Akibatnya, kebiadaban Rezim Syah berlangsung dari generasi ke generasi hingga ratusan tahun lamanya rakyat menderita.

Sang Bijak Suci itu menegaskan untuk menabuh lagi gendang Mansur (yang dikenal Mansur Al-Halaj). Ruhullah Al-Khomaini berikrar akan mengulang sejarah yang ditorehkan Mansur Al-Halaj. Karena Mansur Al-Halaj telah mendeklarasikan diri sebagai KEBENARAN di hadapan para ulama yang “diam” menyaksikan penindasan terhadap rakyat, maka dia dibunuh ramai-ramai.

Kedua, “Segera kutanggalkan jubah // Lalu berpaling dari mushalah.” Ruhullah telah siap mempersembahkan dirinya secara utuh untuk menghantam Rezim Despotik Syah, juga rezim ulama. Tentu, imbalan bagi Sang Bijak Suci itu bisa berupa “tiang gantungan.” Menanggalkan jubah saya pahami sebagai “pembeda” antara diri Ruhullah dengan para ulama itu. Ruhullah ulama progresif anti-penjajahan. Meski Ruhullah berjubah juga bersorban, tapi pemaknaannya terhadap teks suci Tuhan dan ujaran suci para Nabi dan para suci berbeda bahkan bertolak belakang dengan para ulama itu. Lahir pula gerakan berbeda: jika para ulama lainnya diam menyaksikan rakyat dibodohkan, maka ulama Ruhullah Al-Khomaini berkata, “Fadhalallahul Mujahidina Alal Qaidina Ajran Adhim.” Bangkit melawan para penindas.

“Lalu berpaling dari Mushalah”. Ini penegasan bahwa kuliah yang dilangsungkan Ruhullah Al-Khomaini berbeda dengan para ulama itu. Dia berpaling dari Mushalah para ulama itu untuk mencipta Mushalah perlawanan. Saya pahami Ruhullah tak sekedar shalat di Mushalah, tapi dia juga menegakkan shalat di Mushalah yang sajadahnya terbentang di seluruh dunia, karenanya di manapun Ruhullah Khomaini berada, di sana dia melihat ada wajah Tuhan. Terbukti, di Mushalah Khomeini lahir ulama-ulama anti penjajahan yang berhasil menggulingkan Rezim Despotik Syah Reza Pahlevi. Tak sekedar menggulingkan, tapi merekalah arsitek yang membangun tatanan masyarakat ideal; idaman para Nabi. Siapa yang tak kenal Ali Khamenei, Murtadha Muthahhari, Bahesti, Bahonar, Raja’i, Taqi Mishbah Yazdi, Ahmadinejad, Hassan Nasrallah dan serangkai nama lainnya. Mereka semua anak-anak yang hingga detik ini menternak kader-kader Islam anti-penjajahan. Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini-lah bidan yang melahirkan mereka.

imam

16 Januari 1979. Syah Reza Pahlevi beserta istri dan keluarganya melarikan diri ke Mesir. Sejarah dunia menjadi saksi berlangsungnya referendum yang menentukan perjalanan revolusi Islam. Melalui referendum tersebut, rakyat Iran menentukan bentuk pemerintahan yang mereka kehendaki. Revolusi Agama di Iran yang digerakkan Oleh Ruhullah Al-Khomaini menang secara legal pada 11 Februari 1979, berarti referendum tersebut terselenggara kurang dari dua bulan pasca kemenangan revolusi Islam Iran. Spektakuler, dalam referendum itu, 98, 2 % pemilih atau dengan kata lain 9 dari 10 penduduk Iran yang berusia di atas 16 tahun menghendaki terbentuknya Republik Islam. Bahkan hingga detik ini belum ada referendum sepanjang sejarah umat manusia yang prosentase kemenangan suaranya mampu menandingi referendum itu.

Melihat fakta yang berkembang pada masa itu di Iran, sangat mungkin rakyat Iran menerima secara mutlak jika Ayatullah Ruhullah Al-Khomaini mendeklarasikan diri sebagai raja. Tapi Sang Sufi itu memfatwakan “Referendum”: Pemerintahan Islam; Ya, atau Tidak.

Referendum yang terlaksana atas instruksi pemimpin revolusi, Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini bukan peristiwa biasa. Jamaknya, seperti yang sudah terjadi, para pemimpin yang menggulirkan revolusi di dunia kontemporer ini menentukan sendiri bentuk pemerintahan sebelum revolusi mereka meraih kemenangan. Ketika rezim lama tumbang dan berkuasa rezim yang baru, pemerintahan dengan bentuk yang sudah ditentukan telah siap bekerja, dan rakyat tidak dilibatkan untuk merumuskannya. Sebagai contoh revolusi Perancis dan Rusia.

Setahun sebelum berdiri Republik Islam Iran, pada 1978 di Camp David AS, disepakati perjanjian damai pertama kali sejak negara fiktif Israel berdiri. Pelaku perjanjian itu adalah Anwar Sadat (Presiden Mesir), Menachem Begin (PM Negara Fiktif Israel) dan Jimmy Carter (Presiden AS). Kemudian mereka bertiga mendapat hadiah nobel. Dramatis. Inilah kali pertama perjanjian damai terjadi dan Mesir mengakui Israel sebagai Negara.

Berdasarkan referendum yang sangat demokratis itu, pada 1 April 1979 lahirlah Republik Islam Iran. Fakta inilah yang mengejutkan para pengendali dunia, terutama pemimpin Amerika, Inggris dan Negara-negara Uni Eropa. Mengapa? Karena Sang Sufi Khomaini tak hanya menentang penjajahan ala Rezim Despotik Syah Reza Pahlevi, tapi dia juga berikrar melawan pemerintah Amerika dan sekutunya yang menjajah bangsa-bangsa lain. Ruhullah Al-Khomaini lantang menyatakan bahwa keberadaan Israel harus segera berakhir. Artinya, turis-turis Zionis yang ditempatkan oleh pemerintah Amerika, Inggris dan Negara-negara Uni Eropa di Palestina dengan merampas tanah-tanah Tel Aviv, Sderot, Askelon, Beer Sheva, Asdhod, Haifa dan beberapa tanah lainnya, harus kembali ke Negara asalnya, yatiu Amerika, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman dan beberapa Negara lainnya. Karena, mayoritas penduduk yang kini bernaung di bawah Negara fiktif Israel didatangkan secara besar-besaran dari Negara-negara itu sejak tahun 1940an, terutama setelah para Turis asing Zionis mendeklarasikan Israel di bumi Palestina pada 14 Mei 1948.

Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini adalah orang pertama sebagai pemimpin Revolusi Islam yang menghendaki kemerdekaan bangsa Palestina. Dia juga orang pertama yang menjadikan masalah Palestina adalah masalah universal, bukan masalah ras dan agama semata. Karena hanya itulah cara mengakhiri derita bangsa Palestina, mengembalikan mereka yang terusir dari tanah airnya setelah puluhan tahun menjalani hidup terlunta-lunta, menjadi gelandangan di negeri orang akibat diusir turis-turis Zinos Israel.


Aksi

Information

5 responses

4 04 2009
sol

mantap.

jadi semakin kagum dengan sosok Imam Khomeini..
sangat informatif dan menakjubkan…membungkus satu informasi di balik informasi lain..
thanks, Om Aan

4 04 2009
anditoaja

yg pertama kali dilakukan oleh imam mahdi ketika kedatangannya adalah MEMBUNUHI ulama2nya yg berkhianat dari membela ajaran Tuhan kepada fulus Tuan, menjual ayat2 Tuhan dgn harga murah demi kekayaan pribadinya, dan tidak peduli terhadap penderitaan umatnya.

Aku bukan ulama, tidak tahu hukum agama dan juga bukan orang yg saleh ritual. Mendengar hadis tsb, aku lega bahwa keadilan-Nya datang mewujud dalam diri Sang Messiah.

Ulama2 yg menggadaiakan kemuliaan ajaran Tuhan demi kehinaan dunia layak digantung di depan khalayak ramai.

5 04 2009
ressay

Betapa banyak orang yang menjual agama untuk kepentingan pribadinya. Mau lihat? Tuh di situ gintung banyak.

22 04 2009
M.Makinudied (Must Joyo)

Betull….betul sekali

22 04 2009
M.Makinudien (Must Joyo)

Namaku bukan Makinudied, yang benar Makinudien, Maaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: