Nightmare Academy: Novel Fantastis, Mendidik, Lucu dan Menegangkan!

11 06 2009

Print

Judul: Nightmare Academy, Menjinakkan Monster Ganas Menjadi Sopan

Penulis: Dean Lorey

Penerbit: Rajut Publishing

Ukuran buku: 14 X 21 cm, 358 halaman

Bayangkan bila tiada seorangpun mau berkawan denganmu, bila tiada satupun sekolah yang bersedia menerimamu sebagai murid. Coba rasakan, andai kamu harus menjalani aktifitas di dalam kamar, setiap hari selama bertahun-tahun. Pejamkan matamu sejenak, lalu hadirkan dalam perasaanmu tentang nasib seorang bocah yang tercerabut dari “dunia anak” tanpa permainan, tanpa gelak tawa bersama bocah-bocah seusianya. (Sejenak lupakan paragraf ini).

NIGHTMARE ACADEMY menawarkan sebuah alternatif bacaan segar, lucu sekaligus menegangkan. Setiap pembaca diajak untuk mengetahui dan mengakses bakatnya. Lalu disuguhi hidangan “dialog segar dan cerdas” untuk memupuk imajinasi agar tumbuh dan tersalur hingga menjadi kekuatan dahsyat yang tak pernah bisa ditakar. Itulah bakat yang harus diakses setiap orang, lelaki dan perempuan, baik bocah, remaja maupun dewasa.

Seorang jenius mampu menyelesaikan masalah secara cepat, tepat dan tak lazim dilakukan oleh kebanyakan orang. Kemampuan imajinasi dan bakatnya melampaui kebanyakan orang. Karena itu, dia dianggap aneh dan gila. Biasanya seorang jenius cenderung tidak penurut, menyusahkan banyak orang, sekaligus bertingkah liar dan susah “dijinakkan”.

Itulah petaka. Imajinasi mendorong setiap orang untuk melakukan hal-hal baru yang “segar”. Sementara, imajinasi seorang jenius yang diterapkan menjadi perilaku sering dianggap janggal bahkan bencana bagi orang lain. Dilematis. Itulah konflik dalam NIGHTMARE ACADEMY yang ditata apik dalam dialog-dialog janggal, lucu sekaligus mengocok perut dan bersiaplah untuk mual.

Ceritanya seperti ini: Tersebutlah Charlie Bejamin, bocah jenius, bocah aneh, memuakkan guru, kawan dan orang-orang di lingkungannya. Bagi setiap orang, tutur dan sikap Charlie aneh. Dia berbeda 180 derajat dengan kebanyakan orang. Charlie kerap bermimpi buruk. Setiap bermimpi buruk saat tidur siang di Play Group tempatnya bermain sambil belajar, ketika itulah, tanpa dia sadari, mimpinya menjadi kenyataan. Lingkungan sekitarnya menjadi porak-poranda. Kawan-kawan sekolah berikut guru-gurunya menjadi korban. Karena itulah Charlie menjadi bocah paling berbahaya sekaligus ancaman bagi kurikulum Prasekolah atau Playgroup.

Itu sedikit bakat Charlie Benjamin. Menyusahkan, menggelisahkan, menakutkan sekaligus memuakkan bagi guru, kawan dan tetangga-tetangganya. Bayangkan bila Charlie mampu dengan sadar mengerahkan seluruh bakatnya!

Charlie harus terkucil bertahun-tahun lamanya. Tiada Prasekolah dan sekolah yang mau menerimanya. Hingga berusia 13 tahun, Charlie menjalani hidup terkucil di dalam rumahnya sendiri. Tiada guru yang mengajarnya bernyanyi, berhitung dan menggambar. Selama itu pula, tiada bocah yang bersedia menjadi kawannya.

Batin Charlie semakin tersiksa saat membayangkan bocah-bocah seusianya berlari kecil sambil bergurau menuju Bis Sekolah, menggendong tas berisi buku-buku pelajaran, pensil warna dan pena. Sementara bertahun-tahun Charlie harus berada dalam kamar yang tepatnya disebut penjara. Dari jendela, dia hanya bisa saksikan bocah-bocah seusianya berangkat ke sekolah.

Keberuntungan satu-satunya Charlie adalah mama dan papanya. Mereka setia mendidik Charlie setelah seluruh sekolah menolak bocah jenius itu sebagai murid. Hanya mama dan papa yang tahu bahwa Charlie adalah bocah berbakat dahsyat dan  mereka pastikan bahwa putra semata-wayangnya adalah seorang jenius yang memiliki masa depan cerah. Itulah alasan mama dan papa “mati-matian” mendidik Charlie di rumah sendirian. Sampai kapan?

Charlie Benjamin menyadari bahwa mama dan papa adalah satu-satu-nya guru terbaik. Karena itulah dia menjadi penurut, setidaknya hingga berusia 13 tahun. Tapi, tiada orang yang sanggup setiap hari, selama bertahun-tahun, apalagi dalam batas waktu yang belum ditentukan, untuk terus-menerus tinggal di dalam kamar menjadi “anak baik-baik” dan bermain di dalam rumah. Demikianlah Charlie.

Mama dan papa sadar, tak mungkin selamanya menjadi pelindung dan guru bagi Charlie, karena mereka beranjak tua. Sementara semakin hari kecerdasan, bakat dan imajinasi Charlie semakin melampaui mereka berdua.

Novel NIGHTMARE ACADEMY menyuguhkan “Kejanggalan dan Keanehan” bocah jenius bernama Charlie Benjamin sebagai perangsang akal dan perasaan agar selaras. Betapa bakat setiap bocah adalah modal awalnya untuk menjadikan manusia istimewa. Kedahsyatan imajinasi Charlie selalu mampu mencipta sesuatu yang lucu, baru, spektakuler, segar dan tidak membosankan.

Imajinasi adalah racikan rasio dan rasa. Hasilnya adalah kekuatan tak tertakar. Ia sublim bersama pemiliknya sebagai energi hidup dan kehidupan. Saat menjelma sebagai tulisan, imajinasi mencabar setiap pembaca waras. Ketika mewujud dalam perilaku, imajinasi merdeka adalah “pijar matahari” membakar setiap sudut gelap kebodohan.

Imajinasi begitu kuat mendorong pemiliknya untuk berbuat sesuatu. Bahkan imajinasilah yang memungkinkan seseorang merampungkan setiap pekerjaannya. Tapi, imajinasi juga bisa menjadi petaka bagi pemiliknya, jika saja keliarannya tak dirawat dan dibimbing sesuai bakat yang dimiliki seseorang.

Keliaran imajinasi bukan untuk dijinakkan. Tapi harus disalurkan sesuai kanal-kanal hidup yang terbentang luas dan beraneka ragam di hadapan setiap orang. Petaka adalah ketika imajinasi seseorang salah saluran. Petaka adalah ketika keliaran imajinasi seseorang “dijinakkan” apalagi dihapuskan.

Bagi setiap bocah, imajinasi adalah hartanya yang paling berharga. Jika benar-benar tergali, bakatnya bisa melambungkan kecerdasannya. Tapi sayang, bocah sperti itu dianggap liar dan janggal, karena itu pula dia harus dikucilkan dan kerap diabaikan hak-hak sosialnya. Jika hal ini benar-benar terjadi, maka orang jenius sekalipun, pasti menjadi bodoh. Itulah celaka abadi.

Karena itu, imajinasi dan bakat adalah hal terpenting yang harus diperhatikan serius oleh setiap orang. Hanya imajinasi alat untuk mengasah bakat hingga bisa menjadikan seseorang tanggap dan memiliki solusi tepat dan cepat bagi setiap permasalahan hidup dan kehidupan ini.

Bakat adalah kekuatan bagi setiap orang untuk sukses meraih cita-cita dalam hidup. Bakat adalah “harta” tak ternilai yang dimiliki setiap orang dan tak kunjung habis meski ia diobral. Semakin didermakan atau dilaksanakan dalam kehidupan, maka bakat semakin kuat dan menjadikan setiap orang yang membumikannya sebagai manusia istimewa.

“Imajinasi liar dan bakat dahsyat” yang dimiliki seseorang seperti yang diceritakan dalam novel NIGHTMARE ACADEMY, Menjinakkan Monster MEnjadi Sopan menjadikan para guru menolak bahkan anti-pati karena ketakutan. Mengapa mereka harus takut? Karena mereka merasa seorang jenius adalah ancaman bagi kelanggengan sistem pendidikan yang telah dirumuskan dan diberlakukan, karena mereka merasa tidak mampu mendidik seorang jenius, karena kemampuan seorang jenius jauh melampaui mereka.

Itulah yang dialami Charlie Benjamin Sang jenius pemilik bakat spektakuler. Itulah berkah sekaligus petaka bagi Charlie Benjamin yang diintimidasi oleh lingkungan sekolah. Karena “imajinasi liar dan bakat dahsyat”nya, Charlie harus terkucil.

Karena bakatnya yang luar biasa, Charlie ditakuti setiap orang; guru-gurunya, teman-temannya. Tiada sekolah yang mau menampungnya untuk belajar. Tiada kawan yang  mau berteman dengannya.

Charlie Benjamin kesepian. Hanya mama guru satu-satunya, mendidiknya dalam rumah Model 3 yang dirasa sebagai penjara paling menyebalkan bagi Charlie, karena dia murid satu-satunya. Dalam dialog sehari-hari dengan mama, Charlie menunjukkan kelucuan-kelucuan cerdas yang mengocok perut setiap pembaca.

Karena bertahun-tahun menjalani hidup terkucil, Charlie akhirnya mengalami bosan, ketakutan dan trauma. Semakin Charlie merasa takut, maka semakin cepat dia mengakses bakatnya, yaitu menghadirkan monster Silvertongue yang pandai menyanyi, monster Hag pengendus dan penjilat ketiak. Karena tak diasah, bakat Charlie itu juga bisa secara acak mendatangkan monster berbahaya semacam Barakkas yang beringas dan jahat.

Saat tertidur, karena menyimpan dan menimbun rasa takutnya sendirian, Charlie mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk Charlie adalah petaka bagi setiap orang di sekitarnya. Dalam mimpi buruknya, Charlie bisa mengerahkan seluruh bakatnya tanpa sadar hingga membuka portal yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia monster.

Itulah yang dirasakan Charlie. Hanya dia yang bisa memahami betapa dahsyat kekuatan alami yang dia miliki. Dia juga sadar betapa “imajinasi liar dan bakat dahsyat”nya menjadi bahaya yang mematikan bagi dirinya sendiri dan setiap orang. Inilah ketakutan terbesar yang selalu menjadi hantu dalam kehidupan Charlie Benjamin.

Novel NIGHTMARE ACADEMY menyuguhkan penyelesaian secara tepat pengelolaan rasa takut secara alami sebagai senjata pamungkas Charlie Benjamin untuk menghadapi setiap bahaya yang mengancamnya.

Rasa takut bisa memunculkan bakat sekaligus musuh utama bagi pemiliknya. Seperti ketakutan yang dimiliki Charlie Benjamin: takut akan kesendirian, takut jika kehilangan mama dan papanya, takut dibenci oleh setiap orang, justru menjadi sarana mengakses bakatnya yang luar biasa. Namun bakat itu menjadi petaka bagi dirinya sendiri dan orang lain karena monster-monster ganas bisa datang setiap saat melalui mimpi buruk yang dialaminya saat tidur.

Imajinasi dan bakat akan mati dan basi jika diabaikan atau tidak dirawat. Semakin hari semakin berkurang, kemudian bakat itu akan hilang sama sekali. Jika tak mendapatkan pembimbing, seorang jenius akan dibodohkan oleh lingkungan sekitar yang merasa keberadaannya adalah ancaman bagi kelangsungan sistem sosial yang sudah ditata dan diberlakukan. Jika tak ada yang memahami dan mendidik, seorang jenius akan menjadi petaka bagi kehidupan. Jika hal ini terjadi, maka seseorang akan kehilangan bakatnya, modal awalnya untuk menjalani hidup di muka bumi ini.

Bukankah seorang jenius yang mampu mengakses bakat dengan saluran-saluran yang tepat berarti mampu mencipta hal-hal baru yang merupakan keajaiban bagi orang lain. Mengapa orang lain menganggap bakat seorang jenius sebagai keajaiban? Karena mereka tergagap-gagap menyaksikan sesuatu yang tak lazim dilakukan kebanyakan orang, apalagi pemilik bakat itu seorang bocah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: