Aku Ingin Dipanggil Mama

20 10 2009

Jogja, 2 tahun sebelum gempa.

Seorang perempuan bule berpostur tubuh tinggi semampai duduk di sebuah Food Bazar. Rokok menyala di tangan kirinya. Potongan-potongan french fresh tersaji hangat di mejanya. Ear phone, menempel di kedua telinganya. Entah lagu apa yang sedang didengarnya.

Hidung mancung. Bibirnya setipis silet. Tentu matanya sebiru batu pyrus Neisyabur. Rambutnya pirang. Kulitnya mulus. Sambil terus mengunyah kentang, sesekali dia hisap ringan rokoknya.

mama

Dia duduk tak jauh dari wastafel. Dia tersenyum simpul kepadaku, justru ketika aku membasuh tangan setelah makan sepotong ayam goreng dan nasi. Padahal aku sudah mau kembali ke kontrakan di Bulak Sumur. Lebih tak kuduga dia fasih berbahasa jawa, ketika menyapaku yang hendak meluncur pergi, “Monggo, kulo aturi pinarak. Kursi wonten ngajengan kulo saweg kosong.” Dalam bahasa Indonesia, “Mari, silahkan duduk. Kursi di depan saya kosong.”

Aku menyangka malam itu mendadak wajahku tampan. Aku menerima tawarannya. Aku pun duduk di sana. Aku tegaskan kepadanya bahwa aku tak bisa berbahasa jawa. Akhirnya kami berbincang-bincang dengan bahasa Indonesia. Sesekali dengan bahasa Inggris.

Dulu, waktu SMU dia tinggal di Jogja bersama sepupunya yang kuliah di Universitas Gajah Mada. Ayahnya mantan salah satu staf Duta Besar Inggris untuk Indonesia. Setelah masa tugas ayahnya berakhir, dia kembali ke London.

Kamipun berbincang. Sambil menawariku kentang goreng yang akan dipesannya lagi, dia sulut rokok sebatang. Setelah berkenalan sekedarnya, dia langsung bicara “to the point.”

“Maaf, saya menyimak pembicaraan kalian, sejak awal,” dia tersenyum kemudian menyeruput cola dingin di gelas plastik itu. Setelah menyemburkan perlahan asap di mulutnya, dia berkata, “Bolehkah saya bisa tahu lebih jauh tentang pembicaraan kalian tadi?”

“Pembicaraan yang mana?” tanyaku.

“Kalau boleh… Jika tidak boleh, aku tidak keberatan. Ujaranmu tentang meremehkan pekerjaan rumah tangga.”

Sebelum dia sapa saya, kami (saya dan seorang teman saya yang sudah keluar dari rumah makan) berbincang tentang anak kawan saya itu. Berarti selama itu pula perempuan bule itu nguping.

Sebelumnya, di rumah makan itu, teman saya yang umurnya jauh di atas saya mengeluh. Begini cerita singkatnya. Dia berkata “Saya gagal sebagai ayah, sebagai suami, sebagai mahluk Tuhan.”

“Kenapa kamu berkata begitu? Bukankah rumah tanggamu cukup adem ayem (tenteram),” tanyaku.

“Aku gagal, ris! Ga tahu, harus kusembunyikan di mana wajahku. Aku yakin, Tuhanpun sulit bahkan mustahil memaafkan aku!”

“Apa masalahmu?”

“Aku malu bicara tentang ini. Ibarat tubuh, ini aurat.”

“Ah, kamu! Seperti ngomong kepada orang tak kenal saja.”

“Baiklah. Anakku kecanduan putaw. Kasihan dia. Nyawanya sudah di ubun-ubun.”

“Di ubun-ubun? Apa maksudmu?” tanyaku terkejut .

Dia hanya diam. Dilepasnya kaca mata minus yang bertengger di hidungnya.

“Setahuku dia salehah. Berjilbab. Energik. Berprestasi di sekolahnya. Bagaimana mungkin, Tita masih kelas 1 SMU. Baru lima belas tahun!” tak percaya. Ya, aku tak percaya mendengarnya. Jantungku berdegup kencang.

“Bukan Sutita. Tapi si Gale,” jawabnya lirih sambil mengelap kacamatanya dengan tisu.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Yang bener?” suaraku agak keras menanggapinya. Aku semakin terkejut. “Bukankah umurnya masih 13 tahun. Bagaimana bisa?”

“Ssst… jangan ekspresif,” cegahnya sambil memberdirikan telunjuk kanannya di mulut.  “Ya. Dia ngaku. Sejak kelas 1 SMP mutaw. Ini baru aku ketahui ketika dia sakaw di kamar mandi, sekitar seminggu yang lalu. Sekarang dia dirawat di pusat rehabilitasi pecandu narkoba. Di Pujon, Malang.”

Astaghfirullahal adzim,” kuperhatikan dalam-dalam sorot matanya yang layu.

“Sebenarnya aku tidak setuju dia ditaruh di tempat itu. Seperti anak buangan saja. Ini kehendak istriku. Kini, dia menggugatku cerai di pengadilan agama.”

“Lho…”

Belum terujar kalimat mulutku. Dia memotong, “Ssst… dengerin dulu.” Aku hanya mengangguk.

“Aku bilang ke istriku, agar Gale dirawat di rumah. Lebih baik mendatangkan dokter dan ahli jiwa saja daripada harus menitipkan anak di pusat rehabilitasi pecandu Narkoba. Tapi istriku beralasan bahwa perawatan di sana bagus. Karena ditangani para ahli,” dia diam sejenak. Merampas rokok menyala yang ada di tanganku kemudian menghisapnya. Kontan dia batuk-batuk. Karena dia memang bukan perokok. Kuambil kembali rokok itu.

Kemudian dia melanjutkan, “Kubilang, siapa yang lebih ahli dari kita tentang anak kita. Bukankah Gale lahir dan besar di tengah kita. Tapi dia malah marah. Dia kutuk profesiku sebagai wartawan. Karena itu aku selalu pulang malam. Bahkan terkadang tidak pulang.”

Aku perhatikan dia dengan seksama. “Terus… lanjutkan,” ujarku.

“Ganti aku mengutuknya. Kubilang, jika saja istriku mau meninggalkan pekerjaannya sejak semula, kemudian akrab dan mendidik anak-anak dengan maksimal, pasti Gale tidak akrab dan ‘manja’ dengan putaw. Kami saling menyalahkan. Tapi dia bersikukuh dan memberitahuku kalau dia sudah ambil cuti dan mengantar Gale ke Malang keesokan paginya. Kemudian aku tegaskan, dia tidak perlu menggugatku cerai. Tapi aku yang akan mencerainya.”

Aku tahu benar karakter temanku ini. Dia cerdas. Bijak dan pandai mengatur waktu; untuk rumah tangganya dan pekerjaannya. Tapi dia bukan single parent, sejak menikah, dia minta istrinya untuk berhenti bekerja. Dia pimred di salah satu Koran lokal Jogja. Istrinya kepala cabang sebuah bank swasta yang cukup bergengsi di Indonesia, berdinas di Solo. Istrinya, ketika berangkat dan pulang kantor tidak pernah bertemu matahari. Selepas subuh, dia berangkat kerja diantar sopir. Sampe rumahnya yang di Kali Urang, Jogja, di atas jam 8 malam.

“Gawat,” ujarku. “Keputusanmu tentang Gale sudah benar. Tapi, untuk bercerai, tangguhkan dulu. Gale butuh penanganan intensif. Kamulah yang ahli tentang Gale. Bukan dokter. Bukan pula psikiater. Jemput dia, apapun caranya. Rawat saja di rumah. Urusan hukum tentang kau dan istrimu, biar aku yang tangani.”

“Ya. Aku mau berhenti bekerja. Akan kujual semua sawahku di Jember. Rumahku juga akan kujual. Kalau masih kurang, ginjalku akan kujual, mataku akan kujual. Jika laku, diriku akan kujual. Aku mau berbakti kepada Gale,” ujarnya.

“Jika memang harus demikian, lakukan! Aku mendukungmu. Meski ini tidak menghapus kesalahanmu sebagai orang tua, tapi sekurang-kurangnya kamu bisa lebih merasakan, betapa tidak mudah menjadi ayah sejati,” ujarku.

“Tolong, bicaralah kepada istriku. Siapa tahu Tuhan bisa membuka hatinya untuk bisa menerima saranku. Meski mungkin sulit, tapi usahakanlah,” pintanya.

“Oke. Meski aku tak yakin, akan kucoba,” kemudian kami saling diam untuk beberapa saat.

Aku katakan kepadanya, “Jika saja Nabi Muhammad hidup pada zaman sekarang…” belum selesai ujaranku, dia menyela.

“Memangnya kenapa?”

“Dulu, Nabi pernah ditanya oleh sahabatnya, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang harus aku muliakan di dunia ini?’ beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Sahabat bertanya lagi, ‘Kemudian?’ ‘Ibumu,’ jawab Nabi. Pertanyaan dan jawaban ketiga redaksinya sama, ‘Ibumu.’ ‘Baru kemudian Ayahmu,’ ini jawaban ke empat dari Nabi.’

Tapi jika Nabi menyaksikan ulah perempuan karir zaman sekarang, aku yakin jawaban beliau adalah, ‘Pembantumu… Pembantumu… Pembantumu…!’ Bukankah perempuan sibuk di kantoran. Anaknya disusui sapi. Mengapa mereka harus meremehkan pekerjaan rumah tangga,” ujarku.

Tiba-tiba HPnya berdering. Wajahnya tegang. Seluler itu membawa kabar, Gale meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kemudian dia pamit untuk pergi ke Malang saat itu juga bersama keluarganya.

Begitulah sekilas dialog kami yang membuat bule itu mencegahku untuk bincang sejenak. Maria namanya. Aku memanggilnya Maria Londo. Bule yang fasih berbahasa Indonesia dan Jawa itu mengucapkan bela sungkawa dan menitip salam untuk temanku.

“Bagaimana menurutmu perempuan ideal itu? Dari bicaramu tadi, seolah menurutmu pekerjaan perempuan itu hanya urusan rumah tangga. Apa dasar pikiranmu itu?” Tanya Maria.

“Wow, langsung masuk tema berat nih…?”

“Kenapa tidak!” ujarnya.

“Kamu bukan Interpol? Bukan FBI? Atau semacam itulah…?”

“Aku mantan pramugari British Airways,” ujarnya mantap.

“Seandainya kamu Interpol atau FBI, tak apalah,” ujarku seenaknya.

“Aku mantan pramugari, mas… Aku ke Jogja karena ingin menenangkan pikiran dan perasaan.”

“Berapa usiamu?”

“Besok aku ulang tahun yang ke 23,” ujarnya dengan mata berbinar.

“Apa aktifitasmu sekarang?”

“Pengangguran. Sejak dipecat oleh mantan manajerku, beberapa hari kemudian aku langsung ke Jogja,” ujarnya.

“Kenapa dipecat?”

“Aku melanggar kontrak,” ujarnya.

“Kenapa kamu langgar?”

“Karena aku perempuan.”

“Apa hubungannya? Sejak awal kamu perempuan. Ketika menandatangani kontrak, apakah kamu berdandan pria hingga setelah ketahuan, kamu dianggap menipu dan merugikan maskapaimu?” Candaku.

Dia tersenyum sedikit. “Bukan. Tapi karena aku hamil. Selama aku punya jadwal terbang, selama itu pula aku dilarang hamil. Ketika ditawarkan dua opsi kepadaku; apakah mau melanjutkan jadwal terbang yang memiliki konsekwensi aborsi, atau aku berhenti bekerja, aku memilih berhenti,” ujarnya tenang.

“Wow hebat. Salut! Tapi, apakah kamu tidak menyayangkan karirmu?” ujarku sambil mengacungkan jempol.

“Aku hanya ingin dipanggil ‘Mama’!”

“Apa pendapat suamimu?” tanyaku.

“Suami…?” dia kernyitkan dahi. “Bahkan aku tak tahu siapa ayah bayiku ini?” ujarnya santai.

“Ha… Kamu penganut aliran free sex?” aku berlagak kaget.

“Itu tidak penting. Yang penting, sekarang aku menikmati komunikasi antara aku dengan bayi dalam perutku. Ada kenikmatan ketika dia menendang-nendang di perutku. Rasanya tak sabar ingin segera kulahirkan dia dan kuhabiskan waktu bersamanya.” Dia tersenyum sambil mengelus perutnya yang baru hamil 5 bulan, tapi tak kelihatan kalau dia sedang hamil.

Karena jam tanganku menunjukkan pukul 10 malam, malam itu aku sampaikan bahwa aku harus menjaga Tita yang sendiri di rumah, karena kedua orangtuanya ke Malang. Dia mempersilahkan aku dan meminta kesedianku untuk bertemu lagi dan membicarakan “tema perempuan.” Aku menyanggupi dan kami bersepakat bertemu di tempat yang sama pada pukul 7 malam kesesokan harinya.


Aksi

Information

One response

23 06 2012
Abdullah Mubarak

Salam. Memang wanita bukan hanya diam dirumah, wanita jg mesti berkarya. Tapi yg lebih penting, dalam rumah tangga mesti ada musyawarah ( bkn kayak DPR ), dan keterbukaan serta saling pengertian. Tidak ada bedanya, Suami kerja dan Istri dirumah, atau sebaliknya, Istri kerja Suami dirumah. Tapi krn kita kita hidup dalam nuasa adat ketimuran, maka hal itu menjadi TABU.

Izinkan ana bergabung dengan Blog antum untuk menambah wawasan ana. Dan silahkan mampir ke http://abdullahmbrk9.blogspot.com/, untuk menerima saran dan kritikan. Maaf dan makasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: