Rapuhnya Ilmu Pengetahuan (Science / Knowledge)

9 11 2009

cahaya

Seperti Lampu Senter di Kegelapan

Orang bilang: ilmu pengetahuan adalah jaminan kebahagian atau kesempurnaan. Saya bilang: pernyataan ini benar, tapi bukan kebenaran mendasar.

Ilmu pengetahuan yang disampaikan seseorang adalah sebuah produk persepsi. Selanjutnya, persepsi itu dijadikan alat untuk manusia melangsungkan keberadaannya di muka bumi ini.

Ada mahluk Allah Swt yang tidak membutuhkan ilmu pengetahuan seperti layaknya manusia. Misalkan hewan, ia mencapai kesempurnaan kehewanannya dengan insting saja. Burung elang sangat sempurna indera penglihatannya. Ia mampu melihat dengan jelas tikus sebesar kepalan tangan manusia dari jarak ratusan meter di atas permukaan bumi. Ini menunjukkan indera burung elang jauh lebih sempurna jika dibanding manusia.

Ilmu pengetahuan yang ditangkap akal manusia menjadi bekal baginya untuk mengenal dan berinteraksi dengan alam sekitarnya. Misalkan, sebelumnya kita tidak mengenal komputer. Kemudian kita kursus dan mendapatkan pengetahuan yang utuh tentang komputer. Kita jadi mengetahui apa itu hardware dan software. Kita jadi tahu input (keyboard), Central Processor Unit, out put (monitor). Bahwa keyboard adalah alat untuk memasukkan data, CPU adalah alat untuk memproses dan mengolah data, dan monitor sebagai alat yang menayangkan hasil kerja atau out put dari CPU.

Kemudian kita jadi mengerti bahwa komputer sangat membantu produktifitas kerja kita. Ini kita sebut pengetahuan yang kita peroleh dan kita persepsi. Bekal ilmu pengetahuan yang ditangkap akal manusia ini menjadikannya semakin mengenal dan memahami tiap-tiap keberadaan yang berhubungan dengannya; sesama manusia, mahluk halus, hewan, tumbuhan, alat-alat kerja.

Lalu dengan bekal inilah manusia berusaha membumikan atau mewujudkan ide-ide atau cita-citanya. Inilah yang merangsang manusia untuk terus memiliki keinginan-keinginan. Manusia berusaha untuk “mengumpulkan sebab-sebab” agar keinginannya terpenuhi. Tujuannya adalah kebahagiaan.

Seperti bayi, untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, semula dia hanya butuh ASI saja. Kemudian, setelah berusia 2 tahun atau balita, bukan hanya ASI, tapi dia juga butuh makanan tambahan. Dia mulai tahu bahwa permen itu manis rasanya. Saat remaja, kebutuhannya semakin bertambah. Demikian ketika dia dewasa, semakin bertambah pula.

Sementara, selalu saja manusia dihadapkan kepada kenyataan bahwa “ilmu pengetahuannya” selalu terbatas. Betapa banyak kenyataan dalam semesta ini, jika itu semua harus dipersepsi kemudian harus dipahami, wah, tentu manusia akan menderita. Semakin bertambah pengetahuannya, semakin terangsang dia untuk memperluas dan memperdalamnya. Tapi selalu saja dia dihadapkan kepada “keberadaan” yang baru dikenalnya dan dia tidak mengenalnya. Ketika dia sudah mengenal keberadaan baru itu, dia berusaha memahaminya. Begitulah dan terus demikian.

Seperti itulah ilmu pengetahuan yang dipersepsi dan dijadikan alat untuk mengenal dan memahami realitas. Seperti layaknya lampu senter yang dinyalakan dalam kegelapan. Sorot cahaya dari bohlam menerangi salah satu sudut gelap yang ingin kita lihat. Kemudian tampaklah seluruh keberadaan di sudut yang sudah terang itu.

Misalkan peristiwa ini terjadi ketika di rumah kita sedang mati lampu. Kemudian kita ingin mencari sesuatu di dalam kamar dengan menggunakan lampu senter. Ketika lampu senter kita sorotkan ke salah satu sudut di kamar yang semula gelap, tampaklah di situ ada meja, kursi, pena, buku-buku dsb.

Sisi yang tidak tersorot lampu senter pasti tidak akan terlihat; benda apa saja yang bertengger di sana, karena di situ gelap. Karena lampu senter hanya mampu menerangi salah satu sudut ruang dalam kamar saja.

Seperti itu pula ilmu pengetahuan yang kita miliki. Ia hanya mampu menjelaskan salah satu sudut dari keberadaan, salah satu sudut dari “sekumpulan sebab-sebab” untuk memenuhi kebutuhan kita. Nah kebutuhan kita, itulah yang disebut dengan kebahagiaan.

Murtadha Muthahari, seorang filosof Persia, pemilik pemikiran jenial menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan yang dipersepsi manusia itu seperti sebuah buku yang lembaran awal dan akhirnya hilang.[1] Kita tahu, bagaimana sebuah buku yang lembaran awal dan akhirnya hilang. Buku itu tak mampu memberi penjelasan yang utuh kepada pembacanya. Ada pemahaman yang hilang dari buku tersebut, tak bisa dijelaskan karena tak terlacak.

Murtadha Muthahari menjelaskan sesungguhnya ilmu pengetahuan sangat bergantung kepada observasi atau penelitian. Penelitian itu bergantung atau dibatasi laboratorium, tempat untuk menguji validitas (ketepatan) data yang telah dikumpulkan sebagai objek penelitian. Setelah semua data penelitian diolah dan rampung dikerjakan, kesimpulan-kesimpulan diperoleh. Kemudian kesimpulan itu direlasikan dengan kenyataan atau realitas. Kesimpulan-kesimpulan ini kemudian dijadikan pegangan oleh kita.

Sementara penelitian masih berlangsung, objek yang diteliti telah berkembang sedemikian rupa, kenyataan terus berjalan tanpa menunggu penelitian berakhir. Ketika kesimpulan diterapkan, kenyataan telah jauh meninggalkan para peneliti dan semua orang yang menerapkan hasil dari penelitian.

Misalkan, tanpa penelitian terlebih dahulu, Nabi Musa as mampu membelah lautan dengan tongkatnya. Umat manusia terdahulu heran, bahkan mungkin kita juga masih mewarisi keheranan mereka. Menganggap itu mustahil, tapi benar-benar terjadi. Lalu Kami wahyukan kepda Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu.” Maka, terbelahlah lautan itu…[2]

Tanpa mau menyublimkan kesadaran bahwa peristiwa yang diciptakan Nabi Musa itu untuk dipahami dan dihayati oleh manusia sepanjang zaman, kita menganggapnya sebagai ringkasan dongeng Tuhan yang spektakuler, kemudian bisa diceritakan kepada anak-anak kita sebelum tidur.

Tapi bagi para bijak, peristiwa ini tidak mengherankan. Karena, kesadaran selalu sublim dalam diri mereka. Nabi Musa mampu secara akurat “mengumpulkan sebab-sebab” yang dibutuhkan agar lautan bisa terbelah.

Orang-orang yang mampu “mengumpulkan sebab-sebab” agar lautan terbelah, niscaya mereka mampu membelah lautan. Orang-orang Jepang misalkan, sejak puluhan tahun lalu, mereka mampu membelah lautan dan menciptakan terowongan di bawah laut. Bukan hanya berjalan secara berjamaah di bawah laut, bahkan makan dan tidur di bawah lautpun bisa mereka lakukan.

Sayangnya, kita enggan menyumblimkan kesadaran, bahwa ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak seperkasa kenyataan yang melesat meninggalkan setiap penelitian di laboratorium. Kesimpulan-kesimpulan yang kita pegang teguh ternyata tak selalu mampu menundukkan kenyataan.

Tapi bukan berarti ilmu pengetahuan yang telah kita pelajari tidak berguna samasekali. Ia sangat berguna. Meski memiliki daya guna yang luar biasa, ilmu pengetahuan bukan satu-satunya kekuatan untuk “mengumpulkan sebab-sebab”.

Ilmu pengetahuan, selayaknya sebuah buku; memuat pendahuluan yang akan menghantarkan pembaca sebagai peta isi buku, memuat bab-bab yang berisi ulasan tentang permasalahan yang dipaparkan, memuat penutup sebagai proyeksi atau mungkin kesimpulan dari pembahasan yang telah dipaparkan.

Tentu, tanpa peta sebagai panduan, pemahaman kita bisa tersesat bila membaca langsung pembahasan dalam bab-bab buku tersebut. Ketika kita tersesat, maka sangat besar kemungkinan keliru memahami isi buku. Ketika kita sudah keliru memahaminya, kemudian mempraktekkannya sebagai aktifitas kita, maka pasti semua yang kita lakukan bersempalan dengan kehendak Sang penulis buku.

Kita berupaya “mengumpulkan sebab-sebab” untuk memenuhi kebutuhan sebagai syarat meraih kebahagiaan. Ternyata “sekumpulan sebab-sebab” yang telah kita timbun itu, tak sejalan dengan titian yang menghantarkan manusia ke singgasana kebahagian. Mungkinkah kita dapati kebahagiaan, sementara jalan yang kita titi arahnya ke tempat selain kebahagiaan!

Seperti sebuah buku, alam semesta dan seluruh isinya telah kita bingkai dengan ilmu pengetahuan yang kita persepsi. Padahal ilmu pengetahuan kita berada di salah satu lipatan alam semesta ini, seperti lampu senter di salah satu sudut kamar yang gelap. Ketika sudut kanan yang tersorot cahaya bohlam, maka sudut kiri, depan dan belakang tetap gelap, tak sesuatupun yang bisa kita lihat di situ untuk kemudian kita sikapi. Kita tidak tahu, apakah di sudut gelap itu ada ular yang siap mematuk kita, atau mungkin ada jurang yang bisa menghempaskan kita di negeri entah berentah.

Seperti sebuah buku, alam semestapun demikian. Penulisnya adalah Allah Swt. Jika kita bersempalan dengan tujuan Tuhan menciptakan alam semesta, maka kita meniti jalan yang menghantarkan kita ke selain singgasana kebahagiaan. Karenanya, kita mesti mengetahui proyeksi Tuhan memberadakan kita di salah satu sudut bumi-Nya.


[1] Murtadha Muthahari, Pandangan Dunia Tauhid, Yayasan Muthahari Bandung—Mizan Bandung.

 

[2] QS. Asy-Syu’ara: 63


Aksi

Information

8 responses

9 11 2009
FaRid SoLaNa

Begitu mempesona tulisan ini..mantap!!!

Memang, sains tidaklah sempurna untuk dijadikan pijakan. Tapi, entah mengapa banyak yang kurang menyadarinya. Bisa jadi, ini karena buah pendidikan kita, yang terlalu banyak menuntut untuk ‘menghapal’, bukan ‘menganalisis’.

Mantap! Keep writing, dude..

Anwara Aris:
Kenyataan itu juga yang mengubur Filsafat Barat, batu nisannya adalah sains.🙂 Kematian “kebijakan” Barat ini sangat masinal… homo mechanicus… memesinkan manusia yang tak sekedar tulang belulang dan daging. Tengkyu bro…
🙂

9 11 2009
Trixi

mantaps brur….!! Bingung mo komen apa…ntar biar ana cerna dulu

9 11 2009
Trixi

“Manusia berusaha untuk “mengumpulkan sebab-sebab” agar keinginannya terpenuhi. Tujuannya adalah kebahagiaan.
tapi di sisi lain ilmu diibaratkan buku tanpa halaman mulai dan halaman akhir.
Menilik pernyataan di atas, apakah berarti manusia yang menggunakan ilmu itu dipastikan akan gagal dalam menemui tujuannya (yaitu menuju kebahagiaan), mengingat ia pasti mustahil bisa mengumpulkan sebab-sebab secara paripurna?
Apakah dengan demikian, kehidupan di dunia ini meniscayakan kekecewaan dan kegagalan?

Anwar Aris:
Ya, bisa dipastikan kegagalan meraih bahagia didapat manusia yang semata mengandalkan Pandangan Dunia Ilmu (sains, teknologi dan semacamnya). Teramat banyak ranah sains dan teknologi yang masing-masingnya gradual dan relatif sempit-lanskap. Seperti temuan dalam teknologi arsitektur pada abad pertengahan Eropa yang teramat sempit dan minim memerhatikan efek dominonya; jalan-jalan direkyasa berlapis aspal, batu-batu kali dikeruk dan bukit-bukit dilebur untuk dijadikan gedung-gedung mewah, kayu-kayu di hutan ditebang dan berlangsung hingga sekarang. Bumi menjadi panas, lapisan ozon semakin tipis, kekeringan melanda tanah-tanah yang dahulu subur dan manusia moderen kemudian (meski terlambat) gegap gempita menyatakan GO GREEN!

Itu sedikit contoh petaka kemanusiaan yang muncul karena hanya mengandalkan dan megagungkan Pandangan Dunia Ilmu: setiap capaian baru yang dianggap kemajuan spektakuler pasti memunculkan petaka yang tak pernah usai. Itulah Pandangan Dunia yang muncul dari Barat, gaya hidup para penjajah yang menghendaki kekuasaannya langgeng.

Dalam pemahaman Pandangan Dunia Keesaan Tuhan (Pandangan Dunia Tauhid), setiap realitas di semesta raya ini, termasuk keniscayaan ilmu pengetahuan berjalin berkelindan. Satu sama lain. Dengan kata lain, mereka adalah satu. Tak bisa dipisah-pisah.

Tujuan manusia melakukan perjalanan hidup adalah meraih kebahagiaan. Meraihnya, hanya berbekal Pandangan Dunia Ilmu semata, pasti menuai kekecewaan. KArena itu bukanlah sebab utama.

Ya, kehidupan di dunia ini hanya menyisakan kekecewaan dan kegagalan. Itu jika pemahaman kita yang semata mengandalkan ilmu pengetahuan. Lalu apa garansi untuk hidup di dunia dengan keluar dari jeratan kekecewaan dan kegagalan? Mengingat Pandangan Dunia Filosofis juga rapuh, apalagi Pandangan Dunia Materialis, garansinya adalah Pandangan Dunia Tauhid. Insya Allah saya bisa mempertanggungjawabkan penegasan ini secara teoritis dan moral. Semoga. Amien.

17 11 2009
dyar

pantas saja kakak pintar…..
adik mau ikut kakak juga, ah…

Anwar Aris:🙂 silakan

20 01 2010
dhidier diieaar cadieara aldiano

qereeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn bugh ….

15 08 2010
eko sunaryadi

kalo kita mau bahaas terkait batas pengetahuan cukup jelas memang dari penjelasan di atas bagaimana ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang mampu menggambarkan alam semesta secarara utuh ilmu pengetahuan terbatas..,tapi ada satu yang coba saya tidak mengerti dalam memahami bacaan ini,lantas dengan apa kita akan memahami realitas??

21 11 2011
thereminisce

Wah, sungguh indah sekali bahasa indonesia. Saya terkesima membaca entry ini. Isi disampaikan dengan baik dan gaya bahasa yang indah walaupun banyak perkataan yang saya tidak faham tetapi saya amat suka. Saya kagum dengan penulis and karya pertama yang menyebabkan saya sampai diblog ini adalah buku Israel is not Real….teruskan usaha wahai sahabat serumpun ku..

Salam dari Malaysia.

Anwar Aris: Terikasih, semoga perkenalan ini membawa berkah.

26 04 2013
ezzar

Maaf kalau saya boleh menambahkan judul nya,
”Rapuhnya Ilmu Pengetahuan (Science / Knowledge) dari Umat Muslim,”

Justru ilmuwan2 atheis,yahudi kristiani dsb,,yg mampu mengungkap sains dalam ayat2 Alquran, Sangat di sayangkan,para konglomerat2 Muslim di timteng dan belahan dunia lain nya tidak banyak yg mau mendonasikan hartanya untuk melakukan observasi,penelitian dan evaluasi sains yg banyak terdapat dalam Kitabullah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: