Tuhan di Bingkai Sajadah

14 02 2010

Dahulu, mungkin zaman Thales atau zaman Socrates, mungkin zaman Plato, mungkin juga pada zaman yang lain, tidak terlalu penting untuk diingat. Jelasnya, dari Bani Israil, tersebutlah seorang ahli ibadah. Berniat menghabiskan umurnya untuk berdoa kepada Allah Swt. Karena dia menghendaki konsentrasi penuh tanpa ada yang mengganggu, maka dia menyepi seorang diri. Dia memilih tinggal di sebuah pulau yang berdekatan dengan hamparan tanah hijau nan rindang. Di situ pula ada kali bening dekat muara.

Hamba Allah itu mendirikan shalat di situ. Dia berdzikir. Dalam sujudnya yang terbayang hanya wajah Allah Swt. Tak henti dia melakukan ritus-ritus yang dianggapnya mampu menghadirkan Allah dalam hatinya. Dia berharap hanya Allah yang bertahta di hatinya.

Akhirnya ada malaikat yang takjub melihatnya. Sang malaikat berkata kepada Allah Swt, “Aduhai Tuhanku, aku ingin melihat pahala ibadah hamba-Mu ini.” Allah-pun memperlihatkan pahala orang yang menghabiskan waktunya untuk beribadah itu. Tapi malaikat heran, karena pahala yang didapatnya hanya sedikit. Seolah tak setimpal dengan semua pengorbanan orang tersebut.

Allah Swt kemudian memerintahkan Sang malaikat untuk menemani orang itu. Akhirnya, dengan izin-Nya, Sang malaikat berubah wujud manusia. Malaikat itupun menghampiri si ahli ibadah di atas sajadahnya.

Orang itu heran, merasa sudah “bersembunyi”, tapi tetap saja ada orang yang mengetahuinya. Dia bertanya, “Siapa Anda?”

Malaikat menjawab, “Aku orang yang ingin beribadah total. Aku mendengar kabar bahwa engkau menghabiskan waktumu di sini untuk beribadah. Karenanya aku ingin beribadah bersamamu.”

Mendengar penjelasan Sang malaikat, akhirnya orang itu maklum. Kemudian mereka menghabiskan waktu seharian untuk bersama-sama beribadah. Kemudian di sela-sela itu, saat pagi hari, malaikat memuji Tuhan dengan berkata, “Betapa tempat yang engkau pilih ini benar-benar menakjubkan.”

“Ya. Benar. Tapi sayang, Tuhan kita tidak melepaskan ternak di sini. Andai saja Tuhan mempunyai satu keledai saja dan memunculkannya di sini. Tentu kita bisa menggembalakannya, hingga rumput-rumput di sini tidak tumbuh sia-sia,” jawabnya.

“Apakah Tuhan kita tidak punya keledai?”  Tanya Sang malaikat.

“Kalau saja Tuhan punya keledai, tentu rumput di sini tidak tumbuh secara percuma,” jawabnya.

Kemudian Allah Swt berfirman kepada malaikat itu, “Aku memberi pahala kepadanya sesuai kadar akalnya.”[1]

Penulis riwayat itu seorang yang rajin mengumpulkan hadis, al-Majlisi namanya. Ada pesan suci di situ. Allah Swt pasti mencatat sekecil apapun perbuatan hamba-hamba-Nya. Orang dari Bani Israil itu merasa Tuhan hanya hadir dalam sajadahnya. Dia menganggap Allah Swt memuliakan seorang hamba ketika menghabiskan waktunya untuk berdzikir dan beribadah di atas sajadah saja. Hingga dia merasa perlu memamerkan diri kepada Allah, bahwa dia rela menyungkurkan dahi seumur-umur di atas sajadah.

Memang Allah Swt berbaik hati, memberi pahala. Meski sedikit, pahala-Nya sesuai dengan pikiran dan amal hamba-Nya. Mana mungkin Allah Swt memberinya lebih. Pahala-Nya seberat kadar ibadah orang yang melakukannya. Karena Allah Swt tahu, seandainya diberi melebihi kadarnya, pasti orang itu tidak mampu memikulnya. Subhanallah, Allah Swt Maha Bijak.

Akal seseorang ternyata menentukan kadar ibadahnya. Jika saja orang Bani Israil itu mampu membaca aksara-aksara yang bermunculan di sekitarnya; rumput hijau, ladang luas, kali yang bening dsb, secara proporsinal, tentunya dengan akal sehat, maka dia tidak akan berharap keledai berada di tempat itu. Karena akalnya akan memberi tahu bahwa Allah Swt yang paling mengerti, apa yang dibutuhkan oleh ladang hijau di sana. Bukan malah menganggap cara berpikir Tuhan seperti cara berpikirnya.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhitungkan setiap apa yang diperbuatnya untuk hari esok, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.[2]

Kitapun demikian. Jika kita hanya memberlakukan hukum Tuhan sebatas sajadah, maka hukum-Nya hanya akan bermanfaat bagi kita ketika berada di atas sajadah. Tuhan hanya akan menolong kita di atas sajadah kita. Selepas itu, kita akan tergagap-gagap. Dari sinilah awal kegagalan kita.

Karena kita “membingkai” Tuhan di atas sajadah, tidak kita berlakukan hukum-hukum-Nya di selain kain berukuran 1,5 X 0,5 M itu. Padahal tempat selain sajadah itu jauh lebih luas dan di sanalah Tuhan hamparkan permadani hidup ini untuk kita. Akhirnya, kita harus menerima kenyataan pahit; tidak kita lihat ada wajah Tuhan di wajah anak-anak kita, tidak ada senyum Tuhan di bibir istri atau suami kita, tidak ada kelembutan Tuhan di ujaran-ujaran orang tua kita, tidak ada aturan Tuhan di neraca yang kita gunakan untuk menimbang barang dagangan kita. Secara berjamaah, kita berusaha melipat hukum Tuhan setipis dan sekapasitas kantong baju koko yang kita gunakan untuk shalat di atas sajadah.


[1] Biharul Anwar, Jil.1 hal 84—dikutip dan diolah dari Buletin al-Jawad.

[2] Qs. Al-Hasyr:18


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: