Nabi Muhammad di Biara Bostra

18 02 2010

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi…

QS. 33:56

Di Bostra. Jauh hari sebelum tahun Hijriah. Setiap kafilah dagang Mekkah lewat, seorang pendeta selalu mengintip dari jendela biara yang sudah berumur ratusan tahun, jauh lebih tua darinya. Tempat itu menjadi peristirahatan kafilah dagang yang hendak menuju Syria. Sudah banyak kafilah Mekkah, hingga detik itu entah berapa jumlahnya, lewat dan singgah di depan biara rindang dan sejuk karena pohon-pohon kurma yang berdaun lebat di sekitarnya. Tapi dia tak pernah tertarik untuk menyapa semua kafilah yang sudah lewat, apalagi mempersilahkan masuk ke biaranya. Dia masih menyimpan penasarannya.

Biara itu dihuni pendeta pengajar kebijakan sejak ratusan tahun berlalu. Tempat sakral itu menjadi saksi bisu para pelayan Tuhan. Silih berganti mereka mengajarkan titah-Nya; tentang umat-umat terdahulu, tentang gambaran masa depan, juga tentang jelmaan Tuhan yang dijanjikan.

Di dalamnya tersimpan rapi manuskrip-manuskrip kuno; manual pembelajaran para abdi Tuhan. Salah satunya adalah manuskrip bahula berisi ramalan tentang datangnya Sang duta Tuhan dari tanah Arab dan dari nasab terhormat. Di dalam kitab tua itu disebutkan bahwa Sang Nabi pilihan Tuhan adalah penggembala kambing.

Tibalah saat musim dagang berikutnya. Seperti yang sudah-sudah, pendeta itu mengintip dari bilik biara. Berharap jumpa keajaiban yang maktub dalam buku suci pegangan hidupnya. Pandangannya jauh menerawang langit lepas yang dibingkai jendela. Tiba-tiba matanya yang teduh terbelalak saat gumpalan awan putih menghadang pandangannya. Kapas langit itu merendah dan berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Disaksikannya serombongan kafilah dagang Arab dinaungi awan tepat di atas kepala mereka. Sebuah peristiwa ganjil yang belum pernah dia saksikan sebelumnya.

Rombongan dari jauh itupun berhenti dan turun dari sekedup ontanya. Mereka menurunkan bekal secukupnya dan melepas lelah di bawah pohon. Sang pendeta semakin takjub ketika melihat awan putih bergerak menghalangi panas matahari di atas pohon yang di bawahnya bersandar dua orang dari rombongan. Ketakjubannya bertambah saat menyaksikan daun-daun pohon itu merapat dan merendah. Seakan awan dan daunan kurma itu tak rela jika panas matahari mendidihkan ubun-ubun orang yang dinaungi. Semakin yakin, dia pastikan peristiwa tak lazim ini adalah sinyal dari Tuhan.

Bahira namanya. Dia paling fasih memahami manuskrip-manuskrip sakral di biara itu. Kini harapannya bisa membujuk kafilah itu untuk singgah. Akhirnya dia hampiri pemimpin kafilah. Setelah berbincang secukupnya, dia persilahkan semua peserta rombongan masuk biara untuk beristirahat dan menikmati jamuan yang akan disuguhkannya.

“Mari! Mari! Singgahlah ke biara kami, wahai kaum Quraisy! Akan kusajikan makanan untuk kalian. Harapanku, kalian semua ikut serta. Baik tua maupun muda, budak ataupun orang merdeka.”

Rombongan itupun masuk ke dalam biara. Mereka duduk di salah satu ruangnya. Sambil menuangkan minuman, Bahira memperhatikan setiap wajah dan perawakan tamu-tamunya. Namun tak satupun di antara mereka yang memiliki tanda-tanda seperti gambaran dalam kitabnya.

“Wahai kaum Quraisy, adakah di antara kalian yang belum diajak serta untuk menghadiri dan menikmati jamuan ini?” tanya Bahira kepada mereka.

“Tak seorangpun dari kami yang tertinggal, kecuali seorang anak kecil.”

“Ajaklah dia ke sini. Biarlah dia hadir bersama kita dalam perjamuan makan ini,” pinta Bahira.

Kemudian pemimpin rombongan menyusul bocah yang dipercaya menjaga seluruh harta niaga kafilah. Setelah mempersilahkan bocah itu duduk terlebih dahulu, pemimpin kafilah itu mencium kepala dan kening orang yang paling dikasihinya itu.

Selama perjamuan di sana, Bahira terpaku dan melihat seksama wajah dan seluruh perawakan Sang bocah. Kali ini dia yakin, bocah inilah mukjizat yang dijanjikan Tuhan. Selesai mereka menikmati hidangan, Bahira menghampiri Sang tamu termuda. Kepada bocah itu dia bertanya, bagaimana pola hidupnya; mulai dari tidur hingga seluruh aktifitas keseharian. Bocah itu menjawab semua pertanyaan dengan sigap dan santun.

Pendeta itu mengucap syukur kepada Tuhan. Setelah itu dia bertanya kepada orang yang duduk akrab di sebelah Sang bocah dan terlihat sangat menyayanginya, “Apa hubunganmu dengan bocah ini?”

“Dia putraku,” jawabnya.

“Aku yakin dia bukan putramu. Tidak mungkin ayahnya masih hidup.”

“Dia putra saudaraku yang lebih aku sayangi dari putraku sendiri,” jawabnya.

“Lalu siapa ayahnya?”

“Ayahnya telah meninggal ketika dia berada dalam kandungan,” jawabnya.

“Aku tahu siapa engkau. Jika boleh aku usul, maka bawalah putra saudaramu ini kembali ke negerinya. Jagalah dia dengan baik,” kata pendeta itu kepada pemimpin kafilah dagang yang mesra memangku keponakannya itu.

Saudara dari ayah bocah itu bernama Abu Thalib. Dialah pelindung sejati Sang bocah sejak kakek yang merawatnya wafat. Ketika itu Sang bocah masih berusia sekitar 12 tahun. Bocah itu, dialah Muhammad Sang Wujud Tuhan di muka bumi.

***

Iklan

Aksi

Information

One response

27 02 2010
indra

ini disusun sendiri kah redaksionalnya? atau mengutip?
bagus…

Anwar Aris: terimakasih, bu guru. Berapa nilaiku? Seingatku kutulis sendiri. Kamu juga boleh mendiktekan huruf per hurufnya… hehehe…
🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: