Hikmah dari Sang Sahabat Buruk Rupa dan Miskin

22 02 2010

Seorang lelaki miskin dari Yamamah datang ke Madinah. Setelah mengenal peradaban yang bergulir di sana, dia menyatakan diri memeluk Islam. Kemudian dia dikenal sebagai orang yang giat belajar dan konsisten menjalani hidup sebagai seorang muslim yang taat.

Namanya Juwaibar. Postur tubuhnya pendek. Wajahnya buruk. Kulitnya hitam. Secara fisik, dia memiliki ciri khas khusus hingga berbeda dengan kebanyakan orang Madinah. Karena seorang pendatang miskin, dia tak memiliki tempat tinggal dan tak memiliki apapun kecuali dua pasang pakaian dan beberapa perlengkapan seadanya.

Semula Juwaibar tinggal di masjid sendiri. Tapi kemudian lama-lama banyak tuna wisma yang tinggal di masjid Nabi itu. Kemudian Rasulullah Muhammad saw menerima wahyu Allah Swt agar memerintahkan sahabat-sahabatnya membangun tenda bagi orang-orang miskin itu. Kemudian tenda-tenda itu disebut shuffah, penghuni-penghuninya disebut ahlus-shuffah. Juwaibar pun dikenal sebagai ahlus-shuffah.

Juwaibar salah seorang sahabat yang amat dicintai Rasulullah. Suatu hari Rasulullah saw berkata kepada Juwaibar, “Bagus kiranya jika engkau menikahi seorang wanita. Di samping kebutuhan biologismu terpenuhi, istrimu dapat membantumu menunaikan pekerjaan dunia dan akhiratmu.”

“Wahai Rasulullah, tak seorang wanitapun ingin menjadi istriku. Aku tidak memiliki harta, wajahku buruk dan kulitku hitam. Wanita mana yang mau menjadi istriku?” jawabnya.

Rasulullah saw berkata, “Wahai Juwaibar, melalui Islam, Allah Swt merendahkan orang-orang yang dahulu dimuliakan pada masa jahiliyah. Melalui Islam Allah telah memuliakan orang-orang yang dihinakan pada masa jahiliyah. Sejak saat itu, seluruh manusia, baik orang berkulit putih maupun orang berkulit hitam, orang Quraisy, orang Arab maupun ajam (Non Arab), semuanya setara, semuanya berasal dari Adam. Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari tanah.”

Beliau saw menambahkan, “Wahai Juwaibar, manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling taat menjalankan perintah-Nya. Tak seorang muslim, baik Anshar maupun Muhajirin yang berada di rumah masing-masing memiliki keunggulan atasmu kecuali berdasarkan ukuran takwa. Sekarang pergilah ke rumah Ziyad bin Labid al-Anshari. Sampaikan kepadanya bahwa Rasulullah saw mengutusmu agar meminang putrinya Zulfa untukmu.” Akhirnya Juwaibar pergi ke rumah Ziyad bin Labid.

Ziyad sangat terpandang di kalangan Anshar dan penduduk Madinah. Sesampainya di rumah Ziyad, Juwaibar mendapati sekelompok Anshar berada di rumahnya. Setelah mengucapkan salam, Juwaibar berkata, “Aku datang membawa pesan Rasulullah saw. Apakah pesan itu harus aku sampaikan secara terbuka atau tertutup?”

Ziyad menjawab, “Pesan Rasulullah saw adalah kebanggan saya. Sampaikanlah secara terbuka.”

“Rasulullah mengutusku meminang putri Anda, Zulfa untuk kunikahi. Apakah Anda menerima?” Juwaibar menjelaskan maksud kedatangannya dengan singkat.

Ziyad bin Labid heran mendengar kabar itu. “Benarkah Rasulullah saw mengutus kamu untuk meminang putriku?” Seolah tak percaya dia bertanya.

“Benar, Rasulullah mengutusku. Aku tidak akan pernah berdusta atas nama Rasulullah.”

“Tapi, adat kami tidak mengizinkan putri kami dinikahi orang yang bukan dari kalangan kami, kaum Anshar. Kembalilah kepada Rasulullah. Aku akan menyusul dan menemui Rasulullah untuk membicarakan masalah ini,” Ziyad mempersilahkan Juwaibar menemui Rasulullah.

Dalam perjalanan menuju Rasulullah saw, Juwaibar berkata kepada dirinya sendiri, “Kata-kata orang ini bertentangan dengan al-Quran. Demi Allah ajaran al-Quran bertentangan dengan ujaran lelaki itu. Ujarannya bertentangan dengan ujaran Rasulullah saw.”

Ziyad menyampaikan kabar pinangan Juwaibar kepada putrinya. Mendengar cerita Sang Ayah, Zulfa berkata, “Demi Allah Juwaibar tidak berdusta. Lakukanlah sesuatu sebelum Juwaibar sampai ke hadapan Rasulullah saw. Jangan kecewakan beliau saw karena jawaban itu. Pintalah agar Juwaibar kembali ke sini.”

Ziyad bin Labid akhirnya meminta Juwaibar kembali ke rumahnya. Akhirnya dia sendiri yang menemui Rasulullah. Ketika bertemu Rasulullah saw Ziyad bin Labid berkata, “Wahai Rasulullah Juwaibar telah menyampaikan pesan Anda. Namun kami memiliki tanggung jawab adat untuk memberikan anak perempuan kami, kecuali kepada orang yang sederajat dengan kami.”

Rasulullah saw berkata, “Juwaibar adalah seorang mukmin. Seorang mukmin laki-laki sederajat dengan seorang mukmin perempuan. Karenanya, jangan engkau halangi pernikahan putrimu hanya karena alasan tidak berdasar ini.”

Ziyad bin Labid menyampaikan apa yang dikatakan Rasulullah saw itu kepada Zulfa. Mendengar itu, Zulfa berkata, “Saya ridha. Karena Rasulullah telah mengutusnya, maka saya menerimanya.

Segera setelah  mendengar kemantapan putrinya, Ziyad bin Labid menggandeng tangan Juwaibar dan mengajaknya untuk menemui kaumnya. Dia mengumumkan bahwa akan menikahkan putrinya dengan Juwaibar. Dia juga menyediakan sebuah rumah lengkap dengan perabotnya bagi Juwaibar. Setelah menikahkan mereka, Ziyad mengantar putrinya ke rumah baru Juwaibar yang semula tuna wisma itu.

Pada hari pertama pernikahan, ketika mendapati istrinya di rumah barunya, Juwaibar langsung menghadap kiblat dan bersujud. Kemudian dia melaksanakan shalat di salah satu sudut rumahnya sebagai tanda syukur. Sepanjang hari itu dia menyibukkan diri dengan terus beribadah kepada Allah Swt sebagai wujud syukur. Ibadah ini dilakukannya terus menerus. Sampai tiga hari berturut turut, Juwaibar tidak menyentuh istrinya sama sekali.

Akhirnya keluarga Zulfa mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Mereka khawatir Juwaibar tidak menyukai wanita. Akhirnya Rasulullah saw memanggil Juwaibar.

Ketika ditanya Rasulullah saw, Juwaibar menjawab, “Aduhai Rasulullah. Di rumah luas itu, ketika menginjakkan kaki di permadani merah yang terhampar di atas lantainya, aku melihat seluruh perlengkapan rumah tangga telah tersedia. Kemudian di hadapanku berdiri seorang wanita cantik. Saya tahu, sekarang semua itu milik saya, orang asing paling miskin di kota ini. Karena itu aku ingin mengekspresikan rasa syukurku kepada Allah Swt dengan beribadah kepada-Nya hingga waktu subuh tiba. Esok harinya aku mengekspresikan rasa syukurku dengan berpuasa. Hal itu aku lakukan selama tiga hari berturut-turut. Namun setelah itu, saya pasti memberikan waktu saya untuk keluarga.”[1]


[1] Al-kafi, jil. 5, 340-341


Aksi

Information

One response

10 03 2010
abdullah khaerul azam

akhifillah,,,,,,
sekiranua bersedia memberitahukan.
di situs mana tempat saya bisa menemukan cerita lengkap tentang sejarah hidup nabi muhammad saw….
sukron kasir,,,,,

anwar aris: Anda bisa dapatkan Buku sejarah Nabi Muhammad di toko buku terdekat. Rekomendasi dari saya: buku berjudul: Sang Pewarta (Penerbit Al-Huda), Fathimah (Arifa Publishing), Nabi Muhammad sejak Lahir Hingga Wafat (Penerbit Pustaka Hidayah). Jika situs, teramat banyak utk ditampilkan, anda gunakan saja seacrh engine semacam google utk mencarinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: