Mengenang Rachel Corrie, Lentera Olympia (3)

18 03 2010

Surat ini ditulis oleh Rachel Corrie Sang Lentera Olympia untuk Mamanya. Ketika menulisnya, Rachel berusia 18 tahun, atau 12 tahun lalu, jauh hari sebelum meninggal akibat dilindas Buldoser Catterpilar D9R tentara Israel pada 16 Maret 2003 saat menjadi “benteng hidup” rumah-rumah di Rafah, Palestina.

Untuk Mamaku Tersayang

Pagi buta. Beku dan gelap. Di Los Angeles ketika itu. Setelah memimpikanmu semalam, kutatap nanar kolam renang beku dan sebaris bunga plastik membentuk pelangi. Di mimpiku, kau kunjungiku. Kulihat tubuhmu berbalut cahaya, betapa kontras dengan cahayaku. Entah apa yang menahan bisik kuujar, saat bibirku berdempet telingamu. Meski sulit bahkan mustahil, aku ingin penuhi keinginanmu. Biarlah batinku yang berujar, “Jangan cemaskan aku, Ma.”

Mamaku sayang belahan jantungku. Aku ingin kau tahu, harus kutiti tali yang merentang kencang. Jangan khawatir, ada jaring pengaman di bawahku. Aku tak butuh kostum dan topeng yang diperagakan di atas karpet merah lalu mendapat tepuk-sorak. Mama, akan kulukis wajahku dengan warna matamu, tapi izinkan aku tak gunakan busanamu.

Mama, setiap kupandang engkau, kurasakan alunan musik yang ritmis. Auramu ialah lagu yang selalu kusenandungkan untuk rekan-rekanku. Aku selalu bersyukur, karena selalu bisa kubersimpuh menangis saat mengiangkan lagumu. Mama saksikan, lagumu didengar banyak orang.

Maaf karena aktifitas yang harus kulakukan membuatmu khawatir. Semoga ini semua bukan aib bagimu. Aku hanya ingin menulis dan melihat. Bagaimana bisa tulisanku menjadi hidup jika aku tinggal di rumah-rumahan, sebagai boneka yang mustahil tumbuh dewasa dengan merangkai bunga-bunga sintetis? Penulis macam apa aku ini, analis macam aku ini jika tumbuh berkembang dalam bayang-bayang? Biarlah kudengar langsung kicau burung seperti kumainkan kazoo dan xylophone[1]. Aku ingin saksikan pelangi yang memendar di mata semua orang.

Mama, aku tak mau membiarkan keburukan bertumbuh-kembang di luar diriku meski aku ini buruk. Aku tak mau mengabaikan kesakitan meraja-lela di luar tubuhku, meski aku sendiri mengalami sakit. Dengan merasakan sakit, yakinlah kita akan selalu tampak cantik. Mama, yakinlah aku kuat sepertimu, yakinlah jika aku ulas senyummu. Kuat dan cantik itu ibarat pegunungan, ladang jagung, bunga daisy dan dedaunan milkweed yang kemudian membuatku jijik dan menangisi kecantikan itu.

Mama, tanah Iowa ketika itu yang kau bawa untukku tak tercemar dan subur. Seperti itu cintamu untukku, tak bersyarat, begitu murni, lapang dan subur untuk kutanami semauku. Akan kutanam kaktus, palem, rerumputan, bunga daisy dan labu. Kubiarkan jahe tumbuh liar dan pakis mengakar dan menjalar di sana.

Potensi telah kau cipta untukku dan aku mau tumbuh dewasa dengan keyakinan kuat. Terimakasih telah kau biarkan semua yang layak menjadi nutrisi raga dan jiwaku, dan itu kau lakukan tanpa merusakku; satu-satunya keadilan untuk memberdayakan tanahmu. Kau beri aku taman bunga, ladang jagung, danau, rumah abu-abu dan pepohonan cedar. Tak kubiarkan semua itu hancur. Terima kasih, yakinlah ladang itu tidak akan sia-sia dengan keliaranku. Karena ia lembab, hangat dan padat, maka harus kutanami tumbuhan paling kuat sekaligus paling lemah yang bisa kutemukan.

Aku mencintaimu. Aku tumbuh besar dari pemberianmu yang selalu kusimpan dalam diriku untuk kupamerkan. Terima kasih. Terima kasih. Izinkan aku bertarung melawan monster dalam diriku. Aku mencintaimu.

Kau telah mengukirku. Kau telah mengukirku.

(Diterjemahkan secara bebas dari petikan buku Rachel Corrie berjudul “LET ME STAND ALONE”)

Los Angeles, Musim Dingin 1998

Rachel Corrie


[1] Xylphone : alat musik sejenis gambang terbuat dari kayu yang dijejer dan dimainkan pukulan palu kayu kecil.

Ku ingin pura-pura seideal yang mama inginkan

Aksi

Information

3 responses

25 05 2010
John

Mama adalah tubuh darah daging kita,adalah segalanya dalam hidup seorang anak,saya sangat salut atas puisimu Corrie.GBU

24 08 2010
Abdullatif Hasbullah

Perempuan ini, Rachel Corrie, mengingatkanku pada kebenaran “Tuhan lebih dekat dari urat lehermu”. Seperti Cinta, kebenaran itu diperlihatkannya sebagai tak berjarak, tak bertempo, tak terlokalisir, bahkan tak terdogma — dari diri kita sendiri. Seolah Corrie membuktikan itu, setidaknya lewat suratnya ini, surat cintanya pada sang ibu, diri dan dunianya.
Kalimatnya, “Aku ingin saksikan pelangi yang memendar di mata semua orang” adalah kerinduannya pada yang kudus di dunia, lingkungan dia saat ini. Mungkin saja ia juga telah mampu menerobos sekat-sekat takdir berkategori baik dan buruk, menjadi takdir sebagai Qudrah Allah yang merupakan Iradah-Nya dan bersumber dari Ilmu-Nya (Qudrah-Iradah-Ilmu). Dan, dengan demikian, tak ada keburukan Takdir, juga tak terlihat lagi kejahatan di matanya. Semua hanyalah keniscayaan warna-warni belaka: Pelangi.
Seolah Corrie telah (hendak menuju) tahu pada Dirinya. Dan oleh karena itu ia (telah pandai) berterimakasih. Dan, pada tempatnya di sini, saya ingin mengucapkan: “Terimakasih, Anwar M. Aris.”

2 11 2010
Ali Sakduddin

Luar biasa…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: