Surat Terbuka: Kepada Para Redaktur MBM Tempo dan Koran Tempo

20 04 2010

Salam sejahtera.

Rubrik Fotografi Koran Tempo Edisi 18 April 2010

Saya mulai dari foto-foto yang dipajang di rubrik fotografi Koran Tempo edisi 18 April 2010. Tiada yang istimewa dari foto tersebut. Seorang pria tua dengan kaos alakadar terkesan senyum. Seorang lagi tiduran miring di kursi berbantal sebelah tangan, tatapannya kosong. Roman mukanya tanpa ekspresi. Entah apa maksud Koran Tempo hanya menampilkan foto 3 buah kursi di luar ruang nyaris seperempat halaman. Di sisi kanan atas halaman itu, seorang duduk di kursi roda menyelimuti wajahnya dengan sweater yang ia kenakan. “Pasukan Nazi datang…!” Teriakan seperti ini terkadang masih terdengar dari mulut-mulut tua renta dari pusat rehabilitasi mental Shaar Menashe di Israel sebelah utara…, begitu Koran tempo mengawali tulisan dalam tiga paragraf  pendeknya yang berjudul “Sisa Tragedi Di Shaar Menashe”, foto-foto full colour satu halaman penuh. Seolah hendak menyampaikan bahasa tubuh wanita dalam foto hasil jepretan Sebastian Scheiner, wartawan AP: mengesankan peristiwa traumatik terdahsyat yang membuncah kembali dari benaknya. Di pojok kanan halaman ini, foto Scheiner menampilkan sesosok kakek tanpa diperlihatkan mata dan jidatnya, tampak kempot menghisap rokok yang mengepulkan asap di sela bibirnya. Kalimat penutupnya: Sebuah pemandangan yang memprihatinkan akibat kengerian masa lalu.

Saya perhatikan, hanya memuat tiga paragraf pendek-pendek plus foto-foto tersebut tak sedikitpun mengesankan kesedihan, apalagi menularkan kengerian. Mungkin Koran Tempo edisi tersebut berniat menggambarkan penghuni Shaar Menashe dengan “bantuan” fotografi ecek-ecek, agar pembaca mengingat Holocaust; konon 6 juta orang Yahudi dibantai oleh rezim Nazi di bawah komando Hitler. Meski validitas dan otentisitas jumlah korban yang dramatis itu tak lebih dari bualan semata, mengingat jumlah keseluruhan umat Yahudi pada masa itu kurang dari 3 juta jiwa.

Disebutkan sekitar 220 ribu orang selamat dari Holocaust. 200 orang di antara yang selamat itu dirawat di Shaar Menashe hingga sekarang. Meski peistiwa itu telah 65 tahun berlalu, trauma peristiwa mengerikan itu sempat membuat sebagian penghuni tidak mau berbicara sedikitpun, bersikap introvert, dan tak punya kemauan menanggapi berbagai hal…, kalimat ini adalah paragraf kedua.

Menarik untuk mengulas sedikit isi rubrik Koran Tempo ini. Superioritas bangsa Yahudi terbukti mampu eksis melanglang buana selama 6 ribu tahun lebih dengan memberi kontribusi besar terhadap peradaban yang bergulir. Tapi akibat ulah segilintir orang dari sekte Zionis, kedigdayaan itu seakan habis dan pupus karena pemberitaan yang terus menerus oleh berbagai media tentang penghuni Shaar Menashe. Benarkah Koran Tempo edisi ini tidak sekedar menginformasikan Holocaust, namun mengesankan pembelaan.

Beberapa tahun lalu, saya baca buku berjudul JEWS, GOD and HISTORY, karya seorang Yahudi Polandia bernama Max I. Dimont. Sejak awal bahasan, Dimont mengetengahkan keperkasaan bangsa Yahudi di pentas sejarah dunia. Melalui buku itu, ia menelanjangi kepongahan Barat yang secara terang-terangan menyebutkan berbagai peranan bangsa Yahudi dalam peradaban besar dunia. Dapat dikatakan, bangsa Yahudi-lah yang membuat dunia ini berputar dari berbagai segi, mulai dari ekonomi, sains, sastra, filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Nama-nama seperti Baruch Spinoza, Albert Einstein, Niels Bohr, Felix Mendelssohn dan Gustav Mahler, misalnya, disebut dengan bahasa yang cukup merdu di telinga. Tak cukup sampai di sini, Max I. Dimont menunjukkan supremasi bangsa Yahudi karena berhasil lolos dari berbagai teror dan pembantaian yang mereka alami hingga era Hitler. Bangsa Yahudi menjadi unggul berkat keberhasilan mereka melalui proses screening ala teori Darwin.

Max I. Dimont dalam hal ini memang terasa tidak obyektif. Juga ada bagian tulisannya mengakui bahwa hanya di peradaban Islam sajalah bangsa Yahudi dapat mencapai kemajuan luar biasa tanpa tekanan dan pencabutan nyawa secara tiba-tiba. Keterbukaan Islam terhadap siapapun, ras dan bangsa apapun justru terlihat dengan penerimaannya atas konsekwensi multikultur, termasuk terhadap bangsa Yahudi yang berhak berkembang sebagaimana bangsa-bangsa lain. Namun, patut disesali, fakta ini justru diubah drastis oleh media massa arus utama Barat dan “anak-anaknya”, akhirnya terjadi bias yang memang sengaja diciptakan.

Satu hal yang pasti, tulisan pendek dan foto-foto dalam Koran Tempo edisi tersebut justru membuat saya meragukan kemampuan bangsa Yahudi—tepatnya Yahudi Zionis—dalam menyikapi peristiwa yang katanya mengguncang mental: Holocoust. Jika kaum radikal Zionis mengatakan, “Bangsa Yahudi adalah bangsa yang sempurna dan unggul di muka Bumi,” maka saya, setelah melihat foto dan sedikit tulisan tersebut menyebutnya sebagai bias informasi. Inilah yang saya sukai dari media: bias yang diciptakannya justru menampilkan dirinya murahan di mata para pembaca, apalagi di mata mereka yang mau jujur dan berpikir saat membacanya.

Bintang David di Intermezo MBM (Majalah Berita Mingguan) Tempo

Sebenarnya saya malas menulis ini. Tapi melihat Koran Tempo edisi 18 April 2009, nurani kemanusiaan memerintah jemari saya untuk menindih-nindih tuts keyboard laptop yang setia menemani saya. Sebelum Koran Tempo edisi itu memuat berita berjudul “Sisa Tragedi di Shar Menashe”, MBM Tempo edisi 29 Maret-4 April 2010 memuat Intermezo 8 halaman dengan judulKings of Lion di Gurun Yudea” lengkap dengan bintang David berwarna biru, dipungkasi wawancara dengan Shimon Peres. Meski liputan itu terkesan obyektif, tapi usungan materinya sangat mengiklankan Israel dan jauh dari fakta yang sebenarnya terjadi.

Jurnalis Purwanto Setiadi yang mendapat kesempatan meliput secara langsung ke Israel dengan fasilitas dari mereka yang menggulirkan program Australia-Israel & Jewish Affairs Council. Semua foto yang ditampilkan menyertai tulisan yang sangat apik itu tidak satupun hasil jepretan sang wartawan MBM Tempo: semua foto adalah copyright AP PHOTO. Padahal, sosok kuli tinta yang bersangkutan juga dikenal unggul dalam memotret oleh kalangan jurnalis, setidaknya di Jakarta. Saya tahu, tentara IDF Israel di setiap penjuru Israel siaga 24 jam dengan M16 yang penuh amunisi. Cool, isn’t it?

Saya jadi teringat Fadhel Shana, kameraman Reuters yang mati mengenaskan pada minggu kedua bulan Januari 2008. Meski jelas menggantung di lehernya ID.CARD bertuliskan Press, tetap saja lehernya brodol akibat diterjang peluru M16. Tapi sayang, Shana mati akibat peluru tentara IDF Israel, andai dia mati akibat peluru HAMAS, pasti Reuters tak akan mendiamkannya.

Saya kutip penggalan paragraf 4 hal. 56 di Intermezo MBM Tempo edisi itu:  … tak ada penjagaan ketat (paling tidak yang terlihat berseragam), tiada ketegangan, serta orang dari berbagai kalangan dan kelompok bisa berbaur tanpa hambatan apapun. Lalu diikuti pragraf selanjutnya yang memberi sugesti bahwa sesungguhnya “kelonggaran” itu bisa dirasakan di banyak tempat di Israel dan sungguh saya sempat mual membaca kalimat itu. Apakah MBM Tempo sengaja menutup fakta sebenarnya yang terjadi di sana?

Meski Israel sudah menghentikan agresi militernya, namun nestapa kemanusiaan masih diharuskan ditanggung bangsa Paletina hingga detik ini dan entah sampai kapan. Sebut saja Jalur Gaza yang semakin kritis akibat blokade dari segala arah oleh Israel. Bahan-bahan bangunan yang diperlukan—untuk rekonstruksi Gaza akibat serangan milter Israel selama 22 hari sejak 27 Desember 2008—juga peralatan untuk penunjang pendidikan dilarang-keras masuk lahan gersang yang penghuninya adalah pengungsi itu. Blokade dengan alasan keamanan yang didalihkan pemerintah Israel itu basi. Apakah MBM Tempo juga mengamini “hukuman” kolektif yang dijatuhkan Israel terhadap rakyat Palestina itu?

Banyak segmen yang disuguhkan renyah di Intermezo berbintang David MBM Tempo dalam edisi itu. Apakah itu semua adalah propaganda atau “kepanjangan tangan” Zionisme semata? Saya hanya ingin mengulas dua segmen di antaranya. Pertama tentang Aliyah, kedua tentang isi wawancara dengan Shimon Peres.

Doktrin Aliyah Unsur Utama Pembentuk Negara Israel

Dalam Intermezo itu, diakhiri dengan kalimat yang saya penggal: …apa boleh buat berkaitan dengan isu permukiman. Dan, dengan begitu, juga kompleksitas isu mengenai aliyah—satu hal yang, sejak awal, substansial bagi eksistensi Israel., apakah MBM Tempo membenarkan pengusiran dan pembunuhan massal penduduk Palestina yang dilakukan tentara Israel sejak negara ini dideklarasikan hingga detik ini?

Aliyah atau migrasi yang dilakukan kaum Zionis secara besar-besaran ke bumi Palestina, terbesar ketika Unisoviet runtuh pada tahun 1993 telah memaksa bangsa Palestina terbunuh secara biadab, paling ringan terusir dari tanah airnya dan kini, selama puluhan tahun terlunta-lunta menjadi pengungsi.

Kemarahan dunia? Israel tak pernah ambil pusing, ini “bisnis propaganda” yang dilakukan Amerika dan Inggris, kemudian mengekor pula Negara-negara Eropa. Tujuan yang diidamkan adalah terbentuknya Timur Tengah Baru, agar minyak dan seluruh sumber daya alam dapat mereka eksploitasi dan Negara di Kawasan yang tidak terima pasti dipaksa kacau dan kemudian dimiskinkan. Coba tanya AIPAC dan konco-konconya.

Duh… hukum apa yang membenarkan para turis mendirikan sebuah negara di negeri orang! Kalau ada, pasti itu hukum penjajah. Jika dibiarkan, perlahan Israel juga seperti pendirian Amerika; Apache, Cheroke dan suku lainnya dibantai lalu namanya diabadikan dalam seri Helikopter tempur dan merek mobil. Seperti Australia juga, suku aslinya dinamakan Aborigin (baca: tidak asli), sementara para pendatang dari Eropa disebut pemilik sah benua itu.

Pada halaman 59 Intermezo MBM Tempo edisi 4 April 2010, maktub tulisan:

Sebagai Negara kecil tanpa sumber daya alam, hanya dalam setengah abad Israel bisa berdiri sejajar dengan sebagian besar Negara maju pendiri Organization for Economic Co-operation and Development. Sederhana saja, bisa dipastika Israel memelihara tuyul bernama AIPAC yang mengendalikan nyaris seluruh media besar dunia.

Shimon Peres, MBM Tempo dan Senggama Propaganda Media Arus Utama Barat

Israel merupakan Negara yang paling dibenci atau disalahpahami oleh rakyat Indonesia. Bagaimana Anda bisa mendapatkan kepercayaan mereka? Kalimat itu adalah pertanyaan terakhir sang wartawan yang memungkasi Intermezo MBM Tempo edisi 29 Maret-4 April 2009. Dan, jawaban sesepuh Israel yang sudah menggelambir kulit lehernya, Shimon Peres, “Itu pertanyaan yang harus saya ajukan kepada kalian… masalahnya adalah kebencian mudah berkelana di dunia media ketimbang tanggung jawab dan harapan. Tapi media bukan segalanya.”

Bukan “disalahpahami”, bung! Tepatnya, Israel tak memiliki syarat untuk menjadi Negara. Kami, bangsa Indonesia tak terlalu bodoh untuk memahaminya, maka jangan men-generalisir, tepatnya memastikan kami “salah-paham”.

Konsepsi Deer Judenstaat atau Negara Yahudi, tepatnya Negara Zionis adalah doktrin yang bertentangan dengan ajaran Taurat yang disucikan dan ditaati oleh kaum Yahudi. Sementara kaum Zionis lebih mentaati Talmud (tafsir Taurat) yang disebut oleh Rabbi Aaharon Cohen sebagai kitab iblis. Apa alasan tepat untuk membenarkan pendirian Negara oleh ras khusus (baca: Zionis) untuk dihuni kaum spesifik yang hanya menganut satu sekte, yaitu Zionisme?

Saya merasa Israel dan pendukungnya yang berkepentingan membentuk Timur Tengah Baru mengalami kegagalan propaganda. Saya sebut demikian karena strategi branding dan marketing di Indonesia itu salah guna, karena kami tidak pernah membenarkan tindakan sadis kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Dana trilyunan dollar yang dikucurkan oleh AIPAC dan konco-konconya habis tanpa dampak yang memberikan keuntungan signifikan terhadap Zionisme. Karena kami yakin, Israel segera runtuh dan penduduknya segera kembali ke Negara asalnya.

Penguasaan kaum Zionis, semacam Shimon Peres terhadap media besar seperti Reuters, TIME, AFP dan VoA dan sejenisnya seakan sia-sia meski selalu melakukan senggama dalam hal propaganda. Jadi, siapakah yang menebar kebencian? Bangsa Indonesia atau para pemilik media-media itu? Saya rasa dewan redaksi MBM Tempo dan siapapun pemerhati masalah ini tahu jawabannya.

Tulisan dan Foto-foto yang ditampilkan dalam Intermezo MBM Tempo edisi 4 April 2010 dan Koran Tempo edisi 18 April 2010 justru seakan berbicara, “Dear, Mr. Zionist, you need to change your strategy.”

Bulan April 2010 adalah bulan yang ‘bersejarah’ bagi kalangan jurnalis Indonesia. Bagaimana tidak, secara berangsur-angsur namun pasti, salah satu media terbesar di Indonesia tak lagi independen, benarkah demikian?


Aksi

Information

2 responses

22 04 2010
S Agung Wibowo

Bagus tulisannya Bang.
Boleh kutip untik di milis SD-Islam?

Anwar Aris: Silakan

8 09 2010
Al Muhallil

Buku Max I. Dimont: The Indestructible Jews sudah diterjemahkan dan diterbitkan dengan judul: Dilema Yahudi atau Suratan Nasib?

Ada di Gramedia Pondok Indah dan Matramana , Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: