Tiada Acara Tiup Lilin ataupun Potong Tumpeng (1, 2, 3)

22 11 2011

**1**

Taman Ismail Marzuki, saat itu Agustus 2008. Ini kali kedua pertemuan kita setelah di sebuah restoran siap saji di Kemang. Lama kita bicara di latar depan, aku bersandar di bawah Gapura yang berdiri hampir seabad itu. Saat itu kukatakan kepadamu, “Seolah aku Chairil Anwar sedang menikmati rokok yang dibelinya setelah berhasil menjual sepatu curian saat Jumatan di mesjid sekitar Menteng. Mungkin setelah itu lahirlah puisi berjudul AKU.”

Setelah bicara panjang isu perburuhan, termasuk tentang mimpi panjangmu kelak sepulang dari negeri Karl Marx dan kita tahu ini bukan perbincangan utama, kamu utarakan, “Aku siap mengakhiri masa lajangku!”

Di Malaysia, China, Hongkong, Korea, Dubai, Qatar, Mesir, Saudi Arabia dan lainnya. Di Negeri itulah kamu kisahkan buruh migran Indonesia penyumbang utama devisa Republik ini, jauh hari sebelum Ceriyati digunting bibirnya, jauh hari sebelum Ruyati dipenggal oleh rezim Wahabi Saudi penebar Teologi Horor. “Jangankan peduli, orang-orang yang tahu apa itu buruh migran sangat sedikit. Itu lho TKW-TKW dan TKI-TKI,” begitu kamu bilang sambil mesem.

Aku ingat benar bagaimana kamu mengisahkan Nirmala Bonat yang menjadi “sansak hidup” dan “meja setrika hidup” majikannya. Banyak nama kau sebut harus bertanggung jawab, termasuk pemerintahan sekarang di antaranya SBY, Muhaimin dan si bebal Jumhur. “Lihat saja, akan muncul ‘Nirmala-Nirmala’ baru akibat pengabaian pemerintah,” begitu katamu 3 tahun silam yang memang terbukti sakti.

Kulihat matamu memancar semangat juang Cut Nyak Dien saat kamu berkisah tentang bagaimana kamu dan kawan-kawanmu mendirikan Federasi Organisasi Buruh Migran Indonesia yang menjadi cikal bakal Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan kamu terpilih menjadi ketua pertamanya pada kongres pertama.

Aku tahu, puluhan LSM dan semacamnya berdiri mengatasnamakan buruh migran. Pegiat-pegiatnya nampang di tv-tv dan Koran. Bahkan Amerika secara khusus membuka kantor yang berkecimpung di bidang buruh migran. Buruh Migran itu isu besar yang dimainkan banyak pihak yang tidak “membesarkan” (Baca: bahkan tidak menguntungkan) para buruh itu sendiri. Maka, sangat tepat jika Serikat Buruh Migran Indonesia didirikan. Itu pemahaman dan pendapat cetekku yang kuujar kepadamu saat itu.

“Kamu tahu, betapa tidak mudah menjalankan roda organisasi itu. Membuat program dan menjalankannya. Melakukan konsolidasi di seluruh wilayah Nusantara yang disana berkibar bendera SBMI. Advokasi dan mitigasi. Semua itu sangat berat bagi kami. Kami berkampanye kepada buruh migran tentang hak-hak mereka. Aceh hingga Lampung, mulai Banyuwangi, Jember, Pacitan, Purbalingga, hingga ujung Banten. Kalimantan, Kepulauan Sulawesi hingga Lembata dan kantong-kantong buruh migran lainnya, dari orang-orang susah penghuni asal daerah-daerah itulah devisa Negara ini mengalir setiap bulannya, darah dan keringat mereka yang buta huruf, tak tamat SD dan melarat itu yang menjadi bahan bakar mesin pemerintahan ini,” begitu katamu.

“Aku akan berjuang. Aku harus belajar khusus tentang perburuhan ke Jerman. Aku akan pulang dan kembali ke SBMI untuk menularkan pemahamanku kepada rekan-rekan senasibku.” Begitu ujarmu saat itu sambil mengepal tangan.

Sebulan kemudian kuantar kamu ke Soekarno-Hatta. Tak banyak waktu kita habiskan bersama saat itu. Bahkan kawan Aria-mu itu hanya sempat melambai tangan saja kepadaku. Setelah chek-in, kamu sedikit menoleh dan mengulas senyum, lalu menghilang di belokan GATE 4.

Aku dan kamu sama-sama tahu, berjuta kisah mengisi memori masing-masing dari kita saat setahun setengah lamanya kita tak bertatap muka. Aku tetap menjalani aktifitasku sebagai jurnalis. Demikian kamu sibuk dengan materi kuliahmu termasuk penelitian-penelitian yang kamu lakukan di Amsterdam, Sicilia, Sorbon  dan lainnya yang membuat bobot badanmu berkurang lebih dari 7 kilogram.

Aku menulis ini sebagai ucapan SELAMAT BERTAMBAH UMUR (kamu dan aku semakin tua) sekaligus undangan Acara Pembacaan Puisiku di TIM yang kugelar bukan di Teater Kecil atau di dalam gedung-gedung bilangan itu, tapi di lahan parkir, tanpa mimbar, tanpa penonton kecuali kamu dan dia yang sekarang tak bisa pisah darimu. Ini kulakukan agar aku semakin mirip Chairil Anwar. Tentu kamu tahu tanggal mainnya.

**2**

Terimakasih untuk perhatian dan kesabaranmu yang tak biasa. Tuturmu malam itu, kurenungi lagi sekarang. Selepas pesawatmu menjulang dan menghilang di awan, aku bersumpah persis di depan patung Soekarno-Hatta yg tegak menantang matahari Cengkareng: kelak bersamamu berperan sebagai pelaku utama selayak asa Fransis Ford Copolla menggagas dan menggarap Film The Godfather.

Mei 2009. Bersama kawan-kawan dari International Solidarity Movement aku bertolak ke negeri yang “distempel” ekstrimis oleh pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa. Di negeri ‘sejuta alim’ itu aku berkenalan dengan kawan-kawan anti-kolonial dari Jepang, China, Perancis, Inggris, Amerika, Syria, Lebanon, Turki dll. Masing-masing dari kami mengajukan proyeksi gerakan untuk peduli derita rakyat Palestina yang tanahnya makin sempit akibat dirampas Israel. Kuceritakan juga mimpi ini kepadamu.

Setangkai bunga sedap malam yang kamu beli di ujung stasiun Cikini tak pernah lagi kuhirup aromanya selepas lima malam itu. Lalu kujumpai aku-ku sedang kehilangan diriku yang dulu, saat setelah sejuta narasimu dan narasiku menguar tak terbungkam. Andai dulu aku tak tahu itu, mungkin akan kusediakan Sedap Malam setiap malam untukmu. Atau mungkin aku akan mengajarimu menari ala Jalaludin Rumi dan bersyair seperti Fariduddin Atthar, meski andai kamu enggan, aku akan mengemis dan mengiba hingga kesediaanmu kudengar. Tapi aku terlanjur tahu.

Sekarang, apapun persepsimu adalah milikmu, berlaku untukmu dan sistem yang kau cipta juga siapapun yang mengikutinya. Aku dan kamu sama merdeka sejak azali. Zaman ini milik kita: perlahan atau cepat, sempit atau luas, pendek atau tinggi, kecil atau besar, semua dunia itu ada di tangan kita. Genggam jika mau, lepas atau jangan sentuh sekalipun bila ragu dan tak paham. Hanya itu hidup bisa bermakna dan bisa kita nikmati. Ringan.

Perihnya luka kita yang merekah membekaskan hantaman parut di jidat, telah kita tertawakan bersama. Melesat sudah fakta gerakan yang hendak kita gagas, jauh meninggalkan kita dan kamu-aku meringis-bedhes menyaksikannya.

**3**

Sejak itu, tak kita dapati hangatnya kebersamaan. Pernah kukatakan kepadamu, “Hangat! Ia tak dibutuhkan lagi oleh dia yang terjebak musim panas.” Dilematis; pertemuan kita karena sama mendamba sejuknya hunian keabadian yang setiap saat angin sepoi-sepoi meraba-raba bulu di sekujur tubuh kita, namun hingga sekarang di mayapada ini badai datang tak bosan-bosan.

Apapun itu, kepadamu aku berterima kasih dan menyanjungmu sepenuh jiwa: pertama, karena semua ini cermin kamu-aku dan probabilitas wajah asli kita. Kedua, aku tak melakukan pemborosan kata yang pasti lebih bermakna jika kuuarkan tepat guna. Ketiga, karena dilematika ini aku merasa maktub sebagai pujangga.

Aku tak mau mereka-reka lorong mana lagi yang akan aku atau kamu atau kita lalui. Aku hanya meyakini pendirianku ini benar, tentu jalan pilihanku ini benar. Tak bijak jika kau tanya lagi alasannya, karena itu magnet yang menarik kita sebelum menjalani ini semua.

Aku catat tebal-tebal kalimatmu yang menyihirku saat itu dan kini kupahatkan ia di museum kita dan setiap saat bisa kita baca lagi dan lagi. “Jangan mendramatisir masalah yang bisa selesai dengan hanya didiamkan bahkan dilewatkan!” Bukankah indah kalimat ini.

Sampai saat ini, masih kupajang foto Che Guevara, Tan Malaka dan tentu saja Karl Marx. Dulu mereka ada di dinding kamar kosku, kini menghuni kantorku. Beberapa tamuku yang datang nyaris senada pertanyaannya; mengapa aku pajang mereka? Satu alasannya adalah mereka telah membuktikan jika tiada kemenangan di dunia meski telah berteori, uji strategi lalu melewati medan tempur berkali-kali.

Meski kita sama sadar jika tidak sedang berpolitik ataupun bersiasat dan tak sedang bertempur saat sedang membangun komunike, tapi kita memilih berada dalam satu arena yang bisa kita takar seluruh akibatnya, bahkan yang terburuk sekalipun dan jangan mencoba meminta bukti siapa yang menang. Jika begitu, siap-siap saja seperti Marx yang mati tak sempat memotong jenggot.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: