About Me, Myself and I

aan1

Di setiap deret huruf yang aku tata, di setiap sela kata yang aku jadikan kalimat ini, seolah melepuh jantungku ketika menyusunnya. Seakan tiada kata yang bisa mewakili ungkapanku; aku hanya ingin menjadi pecinta.

Di lorong-lorong hidup yang menggiringku ke arah yang kadang tak jelas haluannya, kadang pula aku takutkan jika aku benar-benar dipaksa hingga ke ujungnya, aku masih bisa sedikit tersenyum. Karena di situ aku bisa rasakan degub jantungku menggedor-gedor dari dalam dada, pertanda gelisah karena acapkali merasa sendiri meski berada di keramaian dan di antara sesama, atau karena ketakutan saat mendapati ketidakpastian nasib, karena berkali dipaksa sadar bahwa aku tak berkuasa bahkan terhadap diri sendiri. Di sini, kusebut “bisa sedikit tersenyum”, mengapa? Karena “gelisah”, “kesendirian”, “di antara sesama”, “tak punya kuasa”, itulah dinamika. Karena itu adalah pembeda orang hidup dengan mayat. Ada ekspresi di sana; ceria mengiring muram dan bahagia sertai sedih, serta bla bla bla.

Langkah kakiku yang segera terhenti ini, akan mengakhiri sejarahku yang terukir di maya-pada. Semoga awal yang aku tancapkan kemarin, lalu kudeklarasikan hari ini menjadi bekal setelah ujung jalan ini aku lalui. Aku yakin semua akhir adalah kepastian. Aku takkan mereka-reka apa yang terjadi di Griya Keabadian itu. Karena cinta, aku hanya punya cinta.

Aku mau bersumpah. Demi Tuhan Yang Jadikan aku berada. Di titian para pecinta, langkah ini menuju pintu kesejatian yang selalu terbuka. Di sanalah calon manusia ditempa, dibentuk dan ditegaskan menjadi “manusia sejati.”

10 responses

12 12 2008
astuti

waduhhhh puitis banget. indah banget dan jadi pengen nangis nih. teri makasih terima kasih terima kasih

2 01 2009
Aduh,keyen abiz..kyk pujangga dEh.. Mengharu biru, sdih n sdih,trsntuh ke dlm hati aq yg pling dlm..
27 01 2009
alpha

wah, tak disangka tak diduga, ternyata puitis juga Bang Aan ini…

26 02 2009
anwar aris

Sebuah Apologia!
Salam sejahtera bagi semua rekan pengunjung Republik Anarki!
Semoga kita selalu mampu meraih rahmat Tuhan Yang Mahakuasa.
Sebelumnya saya minta maaf.

Sebagai pengelola blog Republik Anarki, saya memohon maaf bila ada tulisan yang tidak dikehendaki dan saya posting tulisan tersebut di Republik Anarki, terutama tulisan sekaitan dengan Israel.

Saya menyuarakan kemerdekaan Palestina dalam blog ini, semata karena panggilan nurani untuk mengingatkan kembali hak-hak berjuta bangsa Palestina yang teraniaya dan terusir dari tanah airnya.

Jika panggilan nurani kemanusiaan saya itu dianggap sebagai tindakan anti-Semit (sebagaimana salah satu pesan dari administrator wordpress dalam dasbor blog saya hingga karenanya saya dilarang posting artikel), maka itu salah total. Saya tidak anti-Semit, saya hanya anti-Israel! Bukankah berbeda Yahudi dengan Zionis (Israel). Mengapa saya anti-Israel? Jawabannya saya urai dalam buku “Israel Is Not Real” yang akan terbit akhir bulan Februari 2009.

Jika blog saya: Republik Anarki “dihapus” dari wordpress, maka saya tidak berberat hati. Saya menerima dan saya merasa tidak perlu mengemis kepada administrator wordpress agar bisa mem-posting lagi tulisan saya di blog Republik Anarki.
Saya yakin, kemerdekaan adalah hak semua bangsa. Jika pemahaman saya ini salah, maka biarlah saya menjadi orang yang salah di mata Israel dan sekutunya. Tapi saya tidak salah di mata para pegiat kemanusiaan yang selalu menyuarakan kemanusiaan. Merdeka!!

5 06 2009
someone aja deh

Salam…
Banyak yang memuji tulisan mas Aan puitis dan menyentuh kalbu. Memang demikian adanya. Saya hanya berharap dan mendo’akan semoga bukan hanya terwujud dalam tulisan namun juga dalam perilaku.
Maaf sebelumnya, berdasar pengalaman, seseorang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap Tuhan, diri dan agamanya, maka cobaan akan semakin menghujaninya, mengujinya apakah ia mampu membuktikan kata-katanya dalam wujud nyata…
Good luck

Anwar Aris: Teng Kyu “Some One”… Aku masih belajar menulis. Tulisanmu ini membuat aku semakin malu kepada diriku sendiri yang sok puitis.
Katamu, “seseorang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap Tuhan, diri dan agamanya, maka cobaan akan semakin menghujaninya, mengujinya apakah ia mampu membuktikan kata-katanya dalam wujud nyata…” sangat benar. “KEsadaran” itu berat untuk dibumikan dan seringan kapas untuk diujar secara etimologis.
Bagiku tulisan itu jujur. Bagiku, dari tulisannya, penulis bisa diketahui jika dia berbohong, sombong dan genit. Jika berkenan, bantu aku (minimal dengan doa atau dengan apa saja, bila perlu aku berguru kepadamu) agar tidak menjadi sombong apalagi pembohong. Semoga aku bisa membumikan dalam prilaku keseharianku tentang idealisme yang kutulis, insya Allah. Amien.

18 06 2009
Someone aja

Terimakasih kembali atas balasannya. Insyaallah saya sering mendoakan antum dan semoga antum juga demikian, berkenan mendoakan saya. Sama-sama kita saling belajar dan berupaya untuk menggapai ridho Allah serta meraih kecintaan Nabi SAW dan kAhlul Baytnya….

Salam persahabatan

Anwar Aris: Salam persabatan juga untukmu. 🙂

28 02 2010
indrafathiana

republik anarki dan menjadi pecinta? something contradictive, isn’t it? 🙂
can you explain? 😉
anyway, good writing.. byk ide dan ilmu yg bisa sy dapat. termasuk nada2 sastra yang berkecipak semaunya. hehe..

salam kenal 🙂

Anwar Aris: Salam kenal kembali. Tiada yg kontradiktif untuk makna itu, apalagi “Anarki” jika kita kembalikan ke makna leksikalnya, bukan ke terminologi yang digunakan oleh tentara dan pulisi. Singkatnya, “anarki” dalam makna itu adalah puncak kesempurnaan atau kesucian. Oke… 🙂 sekali-kali kita gunakan istilah “anarki yang perawan”, bukan yg telah diperkosa.
Mengikuti nadamu dan kebanyakan org, biasanya kecipak memang identik dengan “semaunya”, tidak ritmis. Bagiku sastra itu memang bukan milik kaum akademis yang rapi dan klimis, kaum parlente dan penjajah yg teratur, kekar, kaku dan sorogan lalu menghukumi sastra perlawanan hanya dilakukan oleh ekstrimis. Sastra lahir dari rutinitas gerak keseharian, seringkali muncul sebagai penghadang atau menyempal dari arus sejarah biadab yg digulirkan penguasa tiran. Sastra itu menjamah ruang yang tak tersentuh nalar logika yang seringkali banal, dempal, kaku dan kekar. Karena itulah, kita jumpai Nizhami sebagai pujangga yg tak hidup di kampus dengan menjadi dosen, apalagi mahasiswa. Juga Maulawi Jalaludin Rumi tak menghabiskan umurnya di istana untuk menghibur para raja. Mereka hidup dan menghidupkan kembali realitas sosial yang sengaja disumpal bahkan dibunuh oleh para akademisi.

3 03 2010
Nona Ana

MEnyambung pertanyaan indra fatiana pak, kan manusia tidak bisa sempurna, apalagi ada setan yang sering menggangu, bagaimana mungkin yang tidak sempurna bisa menciptakan kesucian apalagi menciptakan republik anarki seperti yang mas jadikan judul blog inio………?

Anwar Aris: Nona, semua manusia bisa sempurna, alias semua manusia bisa suci. Untuk penjelasan tentang pemahaman saya itu, silakan baca notes saya yang bertitel Every Human Could be Perfect (1, 2, 3) di kolom Filsafat & Teologi. Jika masih tersisa keraguanmu yang jujur setelah membacanya, silakan menyanggah lagi melalui blog ini. Terima kasih. 🙂

18 05 2010
Web

Anwar Aris: Salam kenal kembali. Tiada yg kontradiktif untuk makna itu, apalagi “Anarki” jika kita kembalikan ke makna leksikalnya, bukan ke terminologi yang digunakan oleh tentara dan pulisi. Singkatnya, “anarki” dalam makna itu adalah puncak kesempurnaan atau kesucian. Oke… sekali-kali kita gunakan istilah “anarki yang perawan”, bukan yg telah diperkosa.Mengikuti nadamu dan kebanyakan org, biasanya kecipak memang identik dengan “semaunya”, tidak ritmis. Bagiku sastra itu memang bukan milik kaum akademis yang rapi dan klimis, kaum parlente dan penjajah yg teratur, kekar, kaku dan sorogan lalu menghukumi sastra perlawanan hanya dilakukan oleh ekstrimis. Sastra lahir dari rutinitas gerak keseharian, seringkali muncul sebagai penghadang atau menyempal dari arus sejarah biadab yg digulirkan penguasa tiran. Sastra itu menjamah ruang yang tak tersentuh nalar logika yang seringkali banal, dempal, kaku dan kekar. Karena itulah, kita jumpai Nizhami sebagai pujangga yg tak hidup di kampus dengan menjadi dosen, apalagi mahasiswa. Juga Maulawi Jalaludin Rumi tak menghabiskan umurnya di istana untuk menghibur para raja. Mereka hidup dan menghidupkan kembali realitas sosial yang sengaja disumpal bahkan dibunuh oleh para akademisi.
+1

17 11 2010
hmiyakusa

salam yakusa dari Bekasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: