Kehendak Bebas Manusia

27 10 2009

Memaknai Kebebasan di Bingkai Hukum Pasti

bayi dalam rahim

Tiada unsur kebetulan dalam dunia ini. Setiap peristiwa dalam semesta raya ini, sekecil apapun terjadi atas skenario-Nya.  Lalu di mana letak “kehendak bebas” manusia? Manusia memiliki ikhtiar penuh untuk menentukan pilihannya yang kelak menjadi embrio munculnya akibat-akibat yang terkait dengan dirinya, dengan kata lain menentukan nasibnya. Lalu apa makna “kehendak bebas” manusia jika semua peristiwa termasuk nasib berada dalam kerangka skenario-Nya? Baca entri selengkapnya »

Iklan




Mengenang Ryan Si Anak Jalanan (1)

25 02 2009

anakjalanan1Jakarta Selatan Seminggu Lalu…

“Shalat, yuk! Kita kan belum shalat Ashar! Sebentar lagi waktu Maghrib tiba.” ajakku.

“Ntar dulu, kak! Tanggung, nih. Sebentar lagi hujan turun. Lihat, langit sudah gelap!” jawab Ryan.

“Kita tidak memiliki banyak waktu, Ryan!” tegasku.

Tanpa menoleh sedikit pun, Ryan bergegas meluncur menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah itu. Uku Lele berdawai empat yang digendongnya pun menjerit. Bibirnya lebih terkesan komat-kamit seolah membaca mantra. Suara parau itu ditindih deru debam knalpot berbagai merek kendaraan bermotor yang melintas dan berhenti di lampu merah Cilandak. Ryan tak peduli. Ia tetap bernyanyi sambil sesekali menunduk-nundukkan kepala berharap sekeping receh. Tak penting baginya, apakah suaranya terdengar atau tidak. Pengemudi sedan mewah itu hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa sedikitpun menoleh, Ryan pun segera beralih ke mobil di belakang sedan itu, terlihat kaca mobil itu terbuka, sekeping rupiah pun diterimanya. Baca entri selengkapnya »





Aku, Kawanku dan Majalah Porno

26 12 2008

untitled

Kamar kosku.

Sepetak ruang berukuran 2,5 X 3 M ini, menjadi saksi kawanku mengeluh. “Hidup susah,” ujarnya.

“Capek. Terus bergumul dengan kemelaratan,” tambahnya.

Setelah menyiksa asbak dengan puntung rokok menyala, dia menegaskan lagi, “Ya. Benar. Nasib… nasib.”

“Bagaimana jika kita merampok Bank yang satpamnya agak blo’on?” serunya lagi.

“Buset dah… kita mesti punya M 16 atau AK 47,” umpatnya sambil menghela nafas dalam.

Setelah menghembuskan asap di mulut, dia bergumam lagi, “Hiii… Serem! Jangan, ah! Berarti kita mesti menjarah markas tentara terlebih dulu. Bisa jadi abon kita!”

Baca entri selengkapnya »





Catatan Lampu Merah Cilandak

30 11 2008

sad

“Shalat, yuk! Kita kan belum shalat Ashar! Sebentar lagi waktu Maghrib tiba.” ajakku.

“Ntar dulu, kak! Tanggung, nih. Sebentar lagi hujan turun. Lihat, langit sudah gelap!” jawab Ryan.

“Kita tidak memiliki banyak waktu, Ryan!” tegasku.

Tanpa menoleh sedikit pun, Ryan bergegas meluncur menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah itu. Gitar kecil berdawai empat yang digendongnya pun menjerit. Bibirnya lebih terkesan komat-kamit seolah membaca mantra. Suara parau itu ditindih deru debam knalpot berbagai merek kendaraan bermotor yang melintas dan berhenti di lampu merah Cilandak. Ryan tak peduli. Ia tetap bernyanyi sambil sesekali menunduk-nundukkan kepala berharap sekeping receh. Tak penting baginya, apakah suaranya terdengar atau tidak. Pengemudi sedan mewah itu hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa sedikitpun menoleh, Ryan pun segera beralih ke mobil di belakang sedan itu, terlihat kaca mobil itu terbuka, sekeping rupiah pun diterimanya.

Baca entri selengkapnya »