Mengenang Keberpalingan Sufi dari Mushallah

4 04 2009

Pernah saya baca syair seorang bijak bernama Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomaini. Petikannya:

Kan kutabuh lagi gendang Mansur
Akulah kebenaran (Ana Al-Haq)


Segera kutanggalkan jubah
Lalu berpaling dari mushalah

Menurut Asbabun Nuzul hikayat, syair Sang Bijak Suci itu lahir saat musibah menjelma sebagai para ulama yang menguarkan “ayat-ayat suci” untuk melanggengkan penjajahan semacam Rezim despotik 2000 tahun Syah Reza Pahlevi. Para ulama itu bersorban, lengkap dengan atribut jubah, bahkan mungkin senantiasa menggelindingkan butir-butir tasbih di jari-jari tangannya. Baca entri selengkapnya »

Iklan




Aku Urai Puisi Kawanku

12 12 2008

cermin

Beberapa tahun lalu di Malang, melalui email aku dikirimi puisi oleh seorang kawan. Aku sering berdiskusi dengannya; tentang agama, sastra dan budaya, sesekali filsafat. Dia cerdas juga tangkas. Sejak dia hijrah ke Amerika, jujur aku kehilangan teman diskusi yang jujur. Wataknya keras. Singkatnya, dia adalah pribadi pemberontak.

Berikut adalah salah satu puisinya yang coba kuurai. Meski tak seperti HB. Jassin Sang kritikus sastra mengulas puisi Chairil Anwar, tapi kucoba menampilkan sedikit pemahamanku tentang puisi kawanku itu.

Baca entri selengkapnya »